Di zaman sekarang, manusia itu rajin banget melatih jempol, tapi jarang melatih hati. Jempol six pack karena scrolling, hati? Lemes kayak sinyal di lift.
Dua Dunia dalam Satu Badan
Kata para sufi, manusia itu punya dua “mode”:
- Mode
Jasmani → makan, kerja, bayar cicilan, pura-pura nggak lihat deadline
- Mode
Rohani → mikir hidup ini mau ke mana, kenapa hati kosong padahal
memori HP penuh
Masalahnya, kebanyakan dari kita upgrade gadget tiap tahun,
tapi sistem operasi jiwa masih versi jadul: EgoOS 1.0.
Mujahadah: Gym-nya Para Pejuang Rohani
“Ya Allah, tolong upgrade iman saya via OTA (Over The Air).”
Bayangkan hawa nafsu itu seperti:
- Notifikasi
diskon tengah malam
- Godaan
balas chat mantan
- Keinginan
pamer “lagi sibuk banget” padahal cuma rebahan
Setiap kali kita bilang “tidak” pada ego, di situ hati push-up satu kali.
“Mati Sebelum Mati” — Bukan Horor, Ini Upgrade
Egonya yang mati, bukan orangnya.
Yang mati itu:
- Rasa
paling benar
- Hobi
merasa paling suci
- Kebiasaan
bilang, “Orang lain sih yang salah”
Dan ternyata… pemandangannya jauh lebih damai.
Kenapa Butuh Guru?
Guru mursyid itu seperti:
Sepuluh Akhlak Pejuang Rohani (Versi Anti Gengsi)
Pejuang rohani itu bukan yang mukanya selalu serius kayak
mau ujian hidup. Justru tandanya ada di akhlak:
- Disakiti
→ nggak balas, malah doakan
- Dihina
→ senyum (meski dalam hati: “Ya Allah, kuatkan server kesabaranku”)
- Nggak
sombong meski punya kelebihan
- Nggak
hobi mengutuk
- Nafsu
dikontrol, bukan jadi manajer hidup
Dan puncaknya: tawadhu’ (rendah hati).
Ini satu-satunya “jatuh” yang bikin naik.
Relevansi di Zaman Serba Online
Hari ini orang bisa:
Kita tahu kabar artis cerai, tapi nggak tahu kenapa hati
sendiri sepi.
Akhlak para pejuang rohani juga jadi obat buat dunia maya:
- Saat
orang hobi nyinyir → kita belajar diam
- Saat
orang pamer → kita belajar cukup
- Saat orang sibuk terlihat suci → kita sibuk memperbaiki diri
Spiritualitas Bukan Kabur dari Dunia
Hati dibersihkan supaya kaki tetap kuat berjalan di
dunia.
Tasawuf itu bukan mundur dari kehidupan, tapi naik level
dalam menjalaninya.
Karena pada akhirnya, kemuliaan bukan soal:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.