Senin, 02 Februari 2026

Menyelami Alam Rohani: Ketika Hati Butuh Gym, Bukan Cuma WiFi

Di zaman sekarang, manusia itu rajin banget melatih jempol, tapi jarang melatih hati. Jempol six pack karena scrolling, hati? Lemes kayak sinyal di lift.

Nah, ajaran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani datang seperti notifikasi dari langit:
“Halo, ini hatimu. Sudah lama kita nggak ngobrol.”

Dua Dunia dalam Satu Badan

Kata para sufi, manusia itu punya dua “mode”:

  • Mode Jasmani → makan, kerja, bayar cicilan, pura-pura nggak lihat deadline
  • Mode Rohani → mikir hidup ini mau ke mana, kenapa hati kosong padahal memori HP penuh

Masalahnya, kebanyakan dari kita upgrade gadget tiap tahun, tapi sistem operasi jiwa masih versi jadul: EgoOS 1.0.

Tasawuf datang membawa update:
“Silakan instal: Hati 2.0 – sekarang dengan fitur tawadhu’, sabar, dan anti-sombong.”

Mujahadah: Gym-nya Para Pejuang Rohani

Kalau badan mau sehat, kita olahraga.
Kalau hati mau bersih… ya nggak bisa cuma rebahan sambil bilang,

“Ya Allah, tolong upgrade iman saya via OTA (Over The Air).”

Di sinilah konsep mujahadah masuk.
Ini bukan nama jurus silat, tapi latihan serius melawan hawa nafsu.

Bayangkan hawa nafsu itu seperti:

  • Notifikasi diskon tengah malam
  • Godaan balas chat mantan
  • Keinginan pamer “lagi sibuk banget” padahal cuma rebahan

Setiap kali kita bilang “tidak” pada ego, di situ hati push-up satu kali.

“Mati Sebelum Mati” — Bukan Horor, Ini Upgrade

Konsep sufi ini sering bikin orang kaget.
Padahal maksudnya bukan latihan jadi hantu, tapi:

Egonya yang mati, bukan orangnya.

Yang mati itu:

  • Rasa paling benar
  • Hobi merasa paling suci
  • Kebiasaan bilang, “Orang lain sih yang salah”

Begitu ego melemah, hati jadi terang.
Ibaratnya selama ini kita hidup pakai kacamata “Aku Hebat”, lalu diganti dengan lensa “Ya Allah, aku butuh Engkau.”

Dan ternyata… pemandangannya jauh lebih damai.

Kenapa Butuh Guru?

Dalam tasawuf, nggak disarankan jalan sendiri.
Karena perjalanan rohani itu mirip Google Maps tapi sinyalnya kadang hilang.

Guru mursyid itu seperti:

🧭 Kompas ketika kita muter-muter di labirin perasaan
🔦 Senter waktu hati lagi gelap
🚫 Dan kadang jadi “rem tangan” saat muridnya mulai merasa sudah wali padahal baru bisa bangun tahajud dua kali

Tasawuf bukan “spiritualitas DIY”.
Ini bukan rak IKEA yang bisa dirakit pakai feeling.

Sepuluh Akhlak Pejuang Rohani (Versi Anti Gengsi)

Pejuang rohani itu bukan yang mukanya selalu serius kayak mau ujian hidup. Justru tandanya ada di akhlak:

  • Disakiti → nggak balas, malah doakan
  • Dihina → senyum (meski dalam hati: “Ya Allah, kuatkan server kesabaranku”)
  • Nggak sombong meski punya kelebihan
  • Nggak hobi mengutuk
  • Nafsu dikontrol, bukan jadi manajer hidup

Dan puncaknya: tawadhu’ (rendah hati).

Lucunya, di dunia ini orang berlomba-lomba terlihat tinggi.
Di jalan rohani, justru yang merendah malah diangkat derajatnya.

Ini satu-satunya “jatuh” yang bikin naik.

Relevansi di Zaman Serba Online

Hari ini orang bisa:

Online 12 jam
Tapi offline dari dirinya sendiri

Kita tahu kabar artis cerai, tapi nggak tahu kenapa hati sendiri sepi.

Konsep alam rohani itu seperti tombol “airplane mode” buat jiwa.
Bukan lari dari dunia, tapi istirahat sebentar supaya nggak crash.

Akhlak para pejuang rohani juga jadi obat buat dunia maya:

  • Saat orang hobi nyinyir → kita belajar diam
  • Saat orang pamer → kita belajar cukup
  • Saat orang sibuk terlihat suci → kita sibuk memperbaiki diri

Spiritualitas Bukan Kabur dari Dunia

Ajaran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani nggak ngajarin kita jadi pertapa anti-kehidupan.
Justru sebaliknya:

Hati dibersihkan supaya kaki tetap kuat berjalan di dunia.

Tasawuf itu bukan mundur dari kehidupan, tapi naik level dalam menjalaninya.

Karena pada akhirnya, kemuliaan bukan soal:

🏆 Jabatan
💰 Harta
📱 Jumlah followers

Tapi soal:
Seberapa jinak egomu, dan seberapa tunduk hatimu pada Allah.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.