Di zaman ketika notifikasi lebih sering kita dengar daripada suara hati, manusia modern sebenarnya hidup dalam dua mode: online di dunia, offline di batin. Nah, di sinilah dzikir masuk bukan sebagai aplikasi tambahan, tapi sebagai charger spiritual original pabrikan langit.
Berdasarkan pemikiran Syekh Abdul Qasim al-Qusyairi dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyah—yang dijelaskan dengan penuh semangat oleh KHM Luqman Hakim—dzikir itu bukan sekadar komat-kamit lisan sambil menghitung tasbih seperti kasir minimarket. Dzikir adalah mode sadar permanen bahwa kita ini hidup di hadapan Allah, bukan cuma di hadapan atasan, tetangga, atau mantan.
Dzikir Bukan Sekadar Hitungan, Tapi Koneksi
Al-Qur’an menyuruh kita berdzikir sebanyak-banyaknya. Sebagian orang menanggapi dengan serius: target 10.000 kali. Lalu selesai, tutup buku, hati kembali ke mode “bebas tanpa pengawasan”.
Padahal kata para sufi, dzikir sejati itu bukan soal angka, tapi soal hadirnya hati. Mau berdiri, duduk, rebahan, bahkan lagi nunggu transferan belum masuk—hatinya tetap nyambung ke Allah.
Jadi dzikir itu semacam WiFi ruhani. Sinyalnya nggak kelihatan, tapi kalau terhubung, hidup terasa stabil. Kalau putus? Mulai muncul gejala: gampang marah, overthinking, dan merasa hidup ini keras padahal cuma belum makan.
Pedang Para Pencari Tuhan (Tanpa Darah, Tanpa Drama)
Luqman Hakim menyebut dzikir sebagai saiful muridin — pedang para penempuh jalan spiritual. Tenang, ini bukan pedang buat duel ala film laga religi.
Ini pedang buat melawan musuh paling licik:
-
Nafsu yang bilang, “Santai aja, nanti tobatnya pas tua.”
-
Ego yang berbisik, “Kamu paling ikhlas sedunia.”
-
Setan yang hobi jadi komentator kehidupan: “Lihat tuh orang, lebih parah dari kamu.”
Dzikir bekerja seperti antivirus batin. Dia mendeteksi virus ujub, riya, dan takabur sebelum sempat berkembang jadi penyakit kronis spiritual.
Orang yang rajin dzikir itu bukan berarti hidupnya bebas masalah. Bedanya, dia punya rem darurat batin. Saat emosi mau meledak, dzikir bilang,
“Sabar. Ini ujian, bukan audisi drama.”
Ritual Tanpa Dzikir = Lampu Tanpa Listrik
Al-Qusyairi juga agak “menyenggol halus” para pejuang ritual formal. Shalat rajin, sedekah jalan, kajian full, tapi hati jarang online.
Ibarat rumah mewah dengan instalasi listrik lengkap—saklar banyak, lampu mahal—tapi belum bayar token. Gelap. Yang ada cuma gengsi, bukan cahaya.
Dzikir itu dinamonya. Tanpa dzikir, ibadah bisa berubah jadi rutinitas. Dengan dzikir, aktivitas biasa pun naik kelas jadi ibadah.
Dzikir: Nafas Spiritual, Bukan Hobi Musiman
Bagi para sufi, dzikir itu bukan kegiatan sambilan setelah semua urusan dunia selesai (yang biasanya nggak pernah selesai). Dzikir adalah cara bernapas secara spiritual.
Dzikir yang sejati bikin hubungan dengan Allah nggak musiman. Bukan hubungan “butuh doang”, tapi hubungan uns — akrab, dekat, hangat. Kayak sahabat sejati, bukan customer service darurat.
Jadi Manusia yang Hadir Sepenuhnya
Dzikir bukan pelarian dari dunia. Dzikir justru bikin kita lebih waras menjalani dunia. Karena kita sadar: semua ini sementara, tapi cara kita menjalani yang sementara ini punya dampak abadi.
Jadi, kalau hidup terasa riuh, hati terasa sumpek, dan pikiran seperti tab browser yang kebanyakan terbuka—mungkin bukan liburan yang paling kita butuhkan.
Mungkin… cuma perlu lebih sering mengingat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.