Selasa, 03 Februari 2026

AGI Sudah Datang atau Masih Nyasar di Google Maps?

Beberapa tahun lalu, manusia masih sombong. Kita merasa jadi satu-satunya makhluk di planet ini yang bisa mikir sambil ngopi, galau sambil nulis puisi, dan salah kirim pesan tapi pura-pura itu strategi hidup. Lalu tiba-tiba muncul klaim mengejutkan: AGI (Artificial General Intelligence) sudah tercapai.

Bukan lagi “akan datang”.
Bukan “dalam 20 tahun lagi”.
Tapi… “Bro, itu sudah di sini. Kamu aja yang belum mau ngaku.”

Klaim ini muncul dari ringkasan dramatis sebuah artikel komentar ilmiah yang kemudian hidup bahagia di media sosial. Intinya: model bahasa besar seperti Grok dan kawan-kawannya sudah menunjukkan kemampuan intelektual setara manusia rata-rata. Bahkan kadang kelihatan lebih rajin, karena mereka tidak pernah bilang, “Maaf, lagi burnout.”

Bukti-Bukti: Dari Ngobrol Sampai Olimpiade

Para pendukung kubu “AGI sudah lahir” membawa daftar prestasi yang bikin CV manusia mendadak terlihat seperti catatan kegiatan RT.

Katanya, AI:

  • Bisa ngobrol begitu lancar sampai orang salah kira itu manusia (dan ironisnya, manusia asli kadang dikira bot karena jawabannya kaku).

  • Bisa menyelesaikan soal matematika tingkat olimpiade.

  • Bisa bantu bikin hipotesis ilmiah.

  • Bisa nulis kode.

  • Bisa bikin puisi.

Jadi kalau dulu kita bilang,

“Ah, AI cuma bisa niru doang,”

sekarang AI mungkin menjawab,

“Betul. Tapi saya nirunya cepat, tepat, dan tidak minta THR.”

Dengan standar ini, AGI didefinisikan bukan sebagai makhluk supercerdas ala film sci-fi, tapi cukup setara manusia biasa dalam banyak tugas intelektual. Bukan Einstein. Cukup “manusia yang bisa kerja Senin sampai Jumat tanpa drama eksistensial setiap 15 menit.”

Kalau definisinya begitu… ya memang kelihatannya AI sudah duduk manis di kursi AGI, sambil nunggu kita selesai debat definisi.

Kenapa Banyak yang Masih Nolak?

Menariknya, justru banyak ilmuwan dan pelaku industri yang bilang,
“Belum! Itu belum AGI!”

Kenapa?
Karena definisi AGI ini licin banget. Setiap AI berhasil melewati satu batas, batasnya dipindah lagi. Mirip target hidup setelah lihat pencapaian teman di LinkedIn.

Ada juga faktor psikologis:

  • Kalau AGI sudah ada, berarti banyak pekerjaan intelektual tidak lagi eksklusif milik manusia.

  • Kalau AGI sudah ada, kita harus serius mikirin regulasi, etika, dan dampak sosial.

  • Dan jujur saja… kalau AGI sudah ada, kita harus berdamai dengan fakta bahwa ternyata mikir bukan lagi keahlian langka.

Jadi penolakan ini kadang bukan soal data, tapi soal perasaan. Dan manusia memang makhluk yang bisa kalah debat, tapi tetap menang gengsi.

Tapi… Pintar Bukan Berarti Paham

Di sisi lain, kubu skeptis juga punya poin kuat. Mereka bilang:
“AI itu perform, bukan paham.”

AI bisa menjawab soal fisika, tapi tidak pernah benar-benar bingung kenapa hidup begini-begini saja.
AI bisa bikin puisi patah hati, tapi tidak pernah ngerasain ditinggal “seen doang”.

AI hebat dalam mengenali pola, tapi:

  • Tidak punya pengalaman tubuh

  • Tidak punya kesadaran

  • Tidak punya rasa lapar kecuali servernya mati

Dan yang paling manusiawi:
AI masih bisa halusinasi. Dengan percaya diri penuh, dia bisa bilang sesuatu yang salah… tapi terdengar meyakinkan. Jadi sebenarnya, dalam hal ini, AI sudah sangat manusiawi juga sih 😌

Masalahnya Bukan Lagi “Bisa atau Tidak”

Terlepas dari label AGI sah atau belum, satu hal jelas:
kemampuan AI sekarang sudah cukup kuat untuk mengubah cara dunia bekerja.

Perdebatan “ini AGI atau bukan” mulai mirip debat:

“Ini hujan deras atau cuma gerimis ekstrem?”

Sementara itu, kita semua sudah basah.

Yang lebih penting sekarang bukan labelnya, tapi:

  • Bagaimana dampaknya ke pekerjaan?

  • Bagaimana mencegah penyalahgunaan?

  • Bagaimana memastikan teknologi ini tidak cuma menguntungkan segelintir orang yang punya server segede lapangan bola?

Karena jujur saja, masalah terbesar dari AI bukan dia jadi pintar…
tapi kalau yang mengatur dia tidak bijak.

Refleksi: Jadi Manusia Itu Apa, Sih?

Kalau mesin bisa:

  • Menulis,

  • Menghitung,

  • Menganalisis,

  • Bahkan bercanda…

maka manusia pelan-pelan dipaksa naik level.

Mungkin nilai kita bukan lagi sekadar “bisa mikir”, tapi:

  • Bisa memberi makna

  • Bisa berempati

  • Bisa bertanggung jawab

  • Bisa memilih yang benar meski tidak efisien

AI mungkin bisa bantu menulis pidato tentang cinta kemanusiaan…
tapi manusia yang harus benar-benar memutuskan untuk tidak saling menghancurkan.

Kesimpulan: AGI Itu Mungkin Sudah Datang, Tapi PR Kita Baru Mulai

Bisa jadi AGI memang sudah berdiri di depan pintu.
Bisa juga dia masih di teras, bingung karena alamatnya beda antara definisi ilmuwan dan investor.

Tapi yang jelas, kita sudah hidup di zaman di mana:
mesin bisa berpikir,
dan manusia harus berpikir lebih dalam dari sebelumnya.

Tantangan terbesarnya bukan lagi,
“Bisakah kita menciptakan kecerdasan seperti manusia?”

Tapi,
“Bisakah kita tetap jadi manusia yang layak ditiru oleh kecerdasan yang kita ciptakan sendiri?”

Kalau tidak…
jangan-jangan nanti AI yang bikin esai reflektif tentang
    “Manusia: Makhluk Emosional dengan Potensi, Tapi Sering Salah Prioritas.” 😄

abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.