Beberapa tahun lalu, manusia masih sombong. Kita merasa jadi satu-satunya makhluk di planet ini yang bisa mikir sambil ngopi, galau sambil nulis puisi, dan salah kirim pesan tapi pura-pura itu strategi hidup. Lalu tiba-tiba muncul klaim mengejutkan: AGI (Artificial General Intelligence) sudah tercapai.
Klaim ini muncul dari ringkasan dramatis sebuah artikel komentar ilmiah yang kemudian hidup bahagia di media sosial. Intinya: model bahasa besar seperti Grok dan kawan-kawannya sudah menunjukkan kemampuan intelektual setara manusia rata-rata. Bahkan kadang kelihatan lebih rajin, karena mereka tidak pernah bilang, “Maaf, lagi burnout.”
Bukti-Bukti: Dari Ngobrol Sampai Olimpiade
Para pendukung kubu “AGI sudah lahir” membawa daftar prestasi yang bikin CV manusia mendadak terlihat seperti catatan kegiatan RT.
Katanya, AI:
-
Bisa ngobrol begitu lancar sampai orang salah kira itu manusia (dan ironisnya, manusia asli kadang dikira bot karena jawabannya kaku).
-
Bisa menyelesaikan soal matematika tingkat olimpiade.
-
Bisa bantu bikin hipotesis ilmiah.
-
Bisa nulis kode.
-
Bisa bikin puisi.
Jadi kalau dulu kita bilang,
“Ah, AI cuma bisa niru doang,”
sekarang AI mungkin menjawab,
“Betul. Tapi saya nirunya cepat, tepat, dan tidak minta THR.”
Dengan standar ini, AGI didefinisikan bukan sebagai makhluk supercerdas ala film sci-fi, tapi cukup setara manusia biasa dalam banyak tugas intelektual. Bukan Einstein. Cukup “manusia yang bisa kerja Senin sampai Jumat tanpa drama eksistensial setiap 15 menit.”
Kalau definisinya begitu… ya memang kelihatannya AI sudah duduk manis di kursi AGI, sambil nunggu kita selesai debat definisi.
Kenapa Banyak yang Masih Nolak?
Ada juga faktor psikologis:
-
Kalau AGI sudah ada, berarti banyak pekerjaan intelektual tidak lagi eksklusif milik manusia.
-
Kalau AGI sudah ada, kita harus serius mikirin regulasi, etika, dan dampak sosial.
-
Dan jujur saja… kalau AGI sudah ada, kita harus berdamai dengan fakta bahwa ternyata mikir bukan lagi keahlian langka.
Jadi penolakan ini kadang bukan soal data, tapi soal perasaan. Dan manusia memang makhluk yang bisa kalah debat, tapi tetap menang gengsi.
Tapi… Pintar Bukan Berarti Paham
AI hebat dalam mengenali pola, tapi:
-
Tidak punya pengalaman tubuh
-
Tidak punya kesadaran
-
Tidak punya rasa lapar kecuali servernya mati
Masalahnya Bukan Lagi “Bisa atau Tidak”
Perdebatan “ini AGI atau bukan” mulai mirip debat:
“Ini hujan deras atau cuma gerimis ekstrem?”
Sementara itu, kita semua sudah basah.
Yang lebih penting sekarang bukan labelnya, tapi:
-
Bagaimana dampaknya ke pekerjaan?
-
Bagaimana mencegah penyalahgunaan?
-
Bagaimana memastikan teknologi ini tidak cuma menguntungkan segelintir orang yang punya server segede lapangan bola?
Refleksi: Jadi Manusia Itu Apa, Sih?
Kalau mesin bisa:
-
Menulis,
-
Menghitung,
-
Menganalisis,
-
Bahkan bercanda…
maka manusia pelan-pelan dipaksa naik level.
Mungkin nilai kita bukan lagi sekadar “bisa mikir”, tapi:
-
Bisa memberi makna
-
Bisa berempati
-
Bisa bertanggung jawab
-
Bisa memilih yang benar meski tidak efisien

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.