( Wahyu, Relativisme, dan Tauhid yang Tidak Bisa Ditawar)
Di zaman ketika segala sesuatu bisa dijelaskan dengan
kalimat, “itu kan cuma konstruksi sosial,” agama pun ikut-ikutan diperlakukan
seperti batik: indah, kaya makna, tapi katanya lahir dari budaya lokal dan
selera zaman. Kalau sudah begitu, wahyu dari langit pun direduksi setara hasil
diskusi antropolog plus secangkir kopi pahit di kafe akademik.
Nah, di tengah suasana intelektual yang rawan masuk angin
relativisme inilah, sebuah esai tampil sambil mengangkat tangan dan berkata: “Maaf,
Islam bukan produk UMKM budaya manusia.” Esai karya Zainun Hisyam ini
dengan tenang—tapi tegas—menyatakan bahwa Islam adalah risalah langit, bukan
hasil brainstorming kolektif para pemikir Timur Tengah.
Langkah pertama penulis cukup berani: mengajak pembaca
berhadapan langsung dengan paradigma sekuler. Di sini, tokoh-tokoh seperti
Peter L. Berger hadir bukan sebagai musuh bebuyutan, tapi sebagai representasi
cara pandang yang melihat agama lebih sebagai gejala sosial ketimbang pesan
ilahi. Dalam dunia ini, kebenaran absolut dianggap kurang sopan, dan wahyu
ilahi dinilai terlalu yakin diri.
Namun, Hisyam tidak ikut-ikutan minder. Dengan membawa
konsep ad-diin, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, agama bukan sekadar
ekspresi budaya, melainkan ketetapan Tuhan. Singkatnya: ini bukan soal selera
lokal, tapi soal kebenaran yang datang dari langit—lengkap dengan petunjuk
penggunaan hidup.
Sebagai senjata utama, Al-Qur’an pun dikeluarkan dari
sarungnya. QS. Asy-Syura: 13 dijadikan bukti bahwa risalah tauhid itu konsisten
sejak Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad. Tafsir Ibnu Asyur hadir sebagai bala
bantuan intelektual, menegaskan bahwa penyebutan lima nabi besar bukan berarti
nabi lain dilupakan, tapi sebagai penanda fase-fase penting sejarah wahyu.
Pesannya jelas: Islam bukan agama “pendatang baru” yang
numpang eksis di sejarah, melainkan episode terakhir dari serial panjang
monoteisme—final season, bukan spin-off.
Bagian yang paling hidup tentu dialog-dialog Nabi Muhammad
dengan Ahli Kitab. Di sini, kita diajak melihat bahwa mengaku beragama saja
tidak cukup jika tauhidnya sudah bercampur adonan lain. Dialog dengan Nasrani
Najran menunjukkan bahwa iman bukan soal label, tapi soal siapa yang
benar-benar duduk di singgasana ketuhanan.
Sementara ajakan menuju kalimatin sawa’ digambarkan
sebagai fondasi dialog antaragama yang jujur: sama-sama berdiri di atas tauhid,
bukan sekadar basa-basi toleransi sambil menghindari topik sensitif. Islam,
kata penulis, siap berdialog—asal jangan minta tauhid ikut dinegosiasikan.
Menariknya, untuk membuktikan bahwa penyimpangan itu bukan
klaim sepihak, penulis justru mengajak sejarawan Barat naik ke mimbar saksi.
Nama-nama seperti Karen Armstrong, Bart D. Ehrman, hingga Patrick D. Miller
dipanggil untuk menjelaskan bagaimana teologi Yahudi dan Kristen mengalami
“penyesuaian budaya” yang cukup serius—dari pengaruh pagan Kanaan sampai
konsili Nicea yang sarat nuansa politik Romawi.
Strategi ini cerdik: ketika orang sekuler berkata agama itu
produk budaya, penulis membalas, “Ya, benar—dan itu justru terjadi pada
agama-agama sebelumnya, bukan pada Islam.” Sentilannya halus, tapi terasa.
Secara keseluruhan, esai ini ibarat benteng akidah dengan
desain modern: kokoh, penuh referensi, dan ramah bagi muslim terdidik yang tiap
hari diserbu relativisme lewat buku, media sosial, dan seminar daring. Namun,
tentu saja, benteng ini tidak tanpa celah.
Nada tulisan cenderung monologis—lebih seperti pledoi
pembelaan tauhid ketimbang dialog dua arah. Kompleksitas internal Yahudi dan
Kristen disederhanakan demi tujuan apologetik, dan pemikiran sekuler pun
diringkas seolah-olah semuanya alergi terhadap klaim kebenaran. Dialog ada,
tapi lebih banyak berbentuk “kami menjelaskan, silakan mendengarkan.”
Meski begitu, tujuan utama esai ini tercapai dengan baik:
menegaskan bahwa dalam Islam, agama bukan hasil eksperimen sosial, melainkan
pesan suci yang diturunkan. Tauhid bukan opini, tapi fondasi. Dan Islam bukan
sekadar salah satu versi kebenaran, melainkan penjaga terakhir risalah langit.
Akhirnya, sebagaimana ditutup dengan kalimat klasik penuh
adab, Wallahu a’lam. Tapi satu hal jelas: setelah membaca esai ini,
sulit rasanya mengatakan bahwa Islam hanyalah produk budaya—kecuali jika langit
pun kini dianggap bagian dari konstruksi sosial.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.