Sabtu, 07 Februari 2026

Islam dari Langit, Bukan dari Grup WhatsApp Budaya

( Wahyu, Relativisme, dan Tauhid yang Tidak Bisa Ditawar)

Di zaman ketika segala sesuatu bisa dijelaskan dengan kalimat, “itu kan cuma konstruksi sosial,” agama pun ikut-ikutan diperlakukan seperti batik: indah, kaya makna, tapi katanya lahir dari budaya lokal dan selera zaman. Kalau sudah begitu, wahyu dari langit pun direduksi setara hasil diskusi antropolog plus secangkir kopi pahit di kafe akademik.

Nah, di tengah suasana intelektual yang rawan masuk angin relativisme inilah, sebuah esai tampil sambil mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, Islam bukan produk UMKM budaya manusia.” Esai karya Zainun Hisyam ini dengan tenang—tapi tegas—menyatakan bahwa Islam adalah risalah langit, bukan hasil brainstorming kolektif para pemikir Timur Tengah.

Langkah pertama penulis cukup berani: mengajak pembaca berhadapan langsung dengan paradigma sekuler. Di sini, tokoh-tokoh seperti Peter L. Berger hadir bukan sebagai musuh bebuyutan, tapi sebagai representasi cara pandang yang melihat agama lebih sebagai gejala sosial ketimbang pesan ilahi. Dalam dunia ini, kebenaran absolut dianggap kurang sopan, dan wahyu ilahi dinilai terlalu yakin diri.

Namun, Hisyam tidak ikut-ikutan minder. Dengan membawa konsep ad-diin, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, agama bukan sekadar ekspresi budaya, melainkan ketetapan Tuhan. Singkatnya: ini bukan soal selera lokal, tapi soal kebenaran yang datang dari langit—lengkap dengan petunjuk penggunaan hidup.

Sebagai senjata utama, Al-Qur’an pun dikeluarkan dari sarungnya. QS. Asy-Syura: 13 dijadikan bukti bahwa risalah tauhid itu konsisten sejak Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad. Tafsir Ibnu Asyur hadir sebagai bala bantuan intelektual, menegaskan bahwa penyebutan lima nabi besar bukan berarti nabi lain dilupakan, tapi sebagai penanda fase-fase penting sejarah wahyu.

Pesannya jelas: Islam bukan agama “pendatang baru” yang numpang eksis di sejarah, melainkan episode terakhir dari serial panjang monoteisme—final season, bukan spin-off.

Bagian yang paling hidup tentu dialog-dialog Nabi Muhammad dengan Ahli Kitab. Di sini, kita diajak melihat bahwa mengaku beragama saja tidak cukup jika tauhidnya sudah bercampur adonan lain. Dialog dengan Nasrani Najran menunjukkan bahwa iman bukan soal label, tapi soal siapa yang benar-benar duduk di singgasana ketuhanan.

Sementara ajakan menuju kalimatin sawa’ digambarkan sebagai fondasi dialog antaragama yang jujur: sama-sama berdiri di atas tauhid, bukan sekadar basa-basi toleransi sambil menghindari topik sensitif. Islam, kata penulis, siap berdialog—asal jangan minta tauhid ikut dinegosiasikan.

Menariknya, untuk membuktikan bahwa penyimpangan itu bukan klaim sepihak, penulis justru mengajak sejarawan Barat naik ke mimbar saksi. Nama-nama seperti Karen Armstrong, Bart D. Ehrman, hingga Patrick D. Miller dipanggil untuk menjelaskan bagaimana teologi Yahudi dan Kristen mengalami “penyesuaian budaya” yang cukup serius—dari pengaruh pagan Kanaan sampai konsili Nicea yang sarat nuansa politik Romawi.

Strategi ini cerdik: ketika orang sekuler berkata agama itu produk budaya, penulis membalas, “Ya, benar—dan itu justru terjadi pada agama-agama sebelumnya, bukan pada Islam.” Sentilannya halus, tapi terasa.

Secara keseluruhan, esai ini ibarat benteng akidah dengan desain modern: kokoh, penuh referensi, dan ramah bagi muslim terdidik yang tiap hari diserbu relativisme lewat buku, media sosial, dan seminar daring. Namun, tentu saja, benteng ini tidak tanpa celah.

Nada tulisan cenderung monologis—lebih seperti pledoi pembelaan tauhid ketimbang dialog dua arah. Kompleksitas internal Yahudi dan Kristen disederhanakan demi tujuan apologetik, dan pemikiran sekuler pun diringkas seolah-olah semuanya alergi terhadap klaim kebenaran. Dialog ada, tapi lebih banyak berbentuk “kami menjelaskan, silakan mendengarkan.”

Meski begitu, tujuan utama esai ini tercapai dengan baik: menegaskan bahwa dalam Islam, agama bukan hasil eksperimen sosial, melainkan pesan suci yang diturunkan. Tauhid bukan opini, tapi fondasi. Dan Islam bukan sekadar salah satu versi kebenaran, melainkan penjaga terakhir risalah langit.

Akhirnya, sebagaimana ditutup dengan kalimat klasik penuh adab, Wallahu a’lam. Tapi satu hal jelas: setelah membaca esai ini, sulit rasanya mengatakan bahwa Islam hanyalah produk budaya—kecuali jika langit pun kini dianggap bagian dari konstruksi sosial.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.