Jumat, 06 Februari 2026

Kemiskinan yang Sesungguhnya: Saat Kosakata Kita Cuma “Itu” dan “Anu”

Di zaman ketika percakapan bisa selesai hanya dengan “WKWK 😂” dan stiker kucing jatuh dari kursi, seorang penulis Prancis tiba-tiba muncul membawa tamparan intelektual yang halus tapi menohok. Bernard Werber dengan elegan berkata:

“Kemiskinan kosakata, itulah kemiskinan yang sebenarnya.”

Dan di suatu sudut internet, ribuan orang berhenti sejenak dari debat receh dan bertanya dalam hati:
“Jangan-jangan… aku miskin?”

🎨 Hidup dengan Lima Warna (Padahal Dunia HD)

Werber mengibaratkan orang dengan kosakata terbatas seperti pelukis yang cuma punya lima warna.

Bayangkan pelukis itu berdiri di depan pemandangan senja: langit oranye keemasan, awan ungu tipis, cahaya merah muda menyentuh laut biru tua…
Lalu dia bilang,
“Hmm… ya ini… warna… cakep.”

SELESAI.
Lukisannya?
Biru. Kuning. Satu garis merah. Udah.

Padahal hidup kita itu bukan cuma “senang” dan “sedih”. Ada:

  • kecewa tapi pura-pura tegar
  • lelah tapi tetap tanggung jawab
  • bahagia tapi takut kehilangan

Kalau kosakata kita minim, semua itu cuma jadi:
“Ya… gitu deh.”

Dan “gitu deh” adalah kuburan massal bagi perasaan manusia.

💬 Kata-Kata Itu Gratis, Tapi Kok Jarang Dipakai?

Menurut Werber, kata-kata itu harta karun yang:
Gratis
✔ Tidak bisa dicuri
Stoknya tidak habis

Tapi anehnya, banyak orang tetap hidup seolah-olah jatah katanya cuma 30 biji per bulan.

Kita punya ribuan kata untuk menjelaskan isi hati, tapi yang keluar malah:
“Bodo amat.”
“Ya terserah.”
“Gak tau.”

Padahal mungkin yang dimaksud sebenarnya:
“Aku kecewa tapi nggak mau kelihatan lemah karena pengalaman masa lalu membuatku sulit percaya lagi.”

Tapi ya… kepanjangan. Jadi:
“Yaudah.”

🧠 Cassandre dan Masalah Sejuta Umat

Dalam novel Le Miroir de Cassandre, tokoh Cassandre bisa melihat masa depan, tapi kesulitan menjelaskan ke orang lain. Tragis? Iya.

Tapi coba lihat kehidupan nyata.

Banyak orang:

  • tahu dia sedang tidak baik-baik saja
  • tahu dia butuh didengar
  • tahu dia terluka

Tapi pas ditanya, jawabannya:
“Gapapa.”

Ini bukan cuma drama. Ini contoh nyata “kemiskinan kosakata emosional”.
Bukan karena tidak punya perasaan, tapi tidak punya kata untuk mengantarkannya keluar.

Akhirnya?
Perasaan parkir di dalam → jadi tekanan batin → meledak jadi marah ke orang yang cuma salah naruh sendok.

📱 Media Sosial: Tempat Nuansa Masuk Mesin Cuci

Dunia digital suka yang cepat, ringkas, dan bisa dikonsumsi sambil rebahan miring.

Akibatnya:

  • Diskusi jadi debat
  • Debat jadi saling serang
  • Argumen jadi “LU SALAH!!!”

Padahal mungkin maksud aslinya lebih halus, seperti:
“Saya melihat persoalan ini dari sudut pandang berbeda karena pengalaman sosial saya membentuk persepsi yang tidak sama dengan Anda.”

Tapi itu kepanjangan.
Jadi cukup:
“Ngaco.”

Dan begitulah seribu nuansa diperas jadi dua tombol:
👍 atau 😡

🧨 Kenapa Kosakata Miskin Bisa Bikin Dunia Berisik?

Karena ketika orang tidak bisa menjelaskan perasaannya…
dia akan melampiaskannya.

Orang yang bisa bilang:
“Aku merasa diabaikan dan itu membuatku sedih”
jarang banting pintu.

Tapi orang yang cuma punya kata:
“Kesel!”
berpotensi menjadikan pintu sebagai korban tak bersalah.

Kurangnya kata sering membuat emosi pakai jalur fisik, bukan jalur bahasa. Dan itu jauh lebih mahal biaya perbaikannya. Pintu rusak, hubungan retak, grup WhatsApp pecah.

🏆 Jadi, Siapa Orang Kaya Sebenarnya?

Mungkin bukan yang koleksi mobil,
tapi yang bisa membedakan:
kecewa, patah hati, hampa, rindu, getir, syukur, haru, dan damai.

Orang yang kaya kosakata itu seperti punya kotak peralatan emosi lengkap.
Ada obeng untuk salah paham kecil.
Ada kunci Inggris untuk konflik besar.
Ada pelumas bernama “empati”.

Sementara yang kosakatanya minim cuma punya palu.
Dan semua masalah terlihat seperti paku.

Menabung Kata, Bukan Cuma Kuota

Kutipan Werber bukan menyuruh kita jadi kamus berjalan yang ngomongnya kayak skripsi. Bukan.

Ia cuma mengingatkan:
Semakin banyak kata yang kita kuasai,
semakin luas dunia yang bisa kita pahami,
dan semakin halus cara kita memperlakukan sesama.

Karena pada akhirnya,
orang yang miskin kata sering salah paham,
dan orang yang kaya kata lebih mudah paham.

Dan di dunia yang sudah penuh kebisingan,
kemampuan berkata dengan tepat mungkin adalah bentuk kekayaan yang paling menenangkan.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.