Di zaman sekarang, ada dua jenis manusia:
Sebagian besar dari kita, jujur saja, masuk kategori kedua.
Bangun tidur yang pertama dicek bukan hati, tapi handphone. Kalau baterai 5%
panik, tapi kalau iman 5% santai. Kita khawatir sinyal hilang, tapi tidak
pernah khawatir kehilangan rasa hadirnya Allah.
Di tengah kondisi spiritual yang “low bat, mohon di-charge”
ini, muncul sebuah ceramah yang judulnya
sederhana tapi dalam: Hidup Bersama Allah. Sederhana, tapi efeknya bisa
bikin kita merasa seperti murid TK yang baru belajar lagi cara beriman.
Dan seperti biasa dalam tradisi tasawuf, pelajaran besar
justru datang dari tokoh yang tidak kita duga: seorang pemuda gembel. Ya, gembel. Bukan influencer, bukan ustaz viral, bukan juga motivator dengan slide
PowerPoint. Bahkan mungkin kalau dia lewat di depan kita, kita akan lebih cepat
menghindar daripada bertanya, “Mas, bagaimana cara mencapai makrifat?”
Ketika Guru Jadi Murid, dan Kita Jadi Bingung
Dalam kisah itu, seorang sufi besar bertemu dengan pemuda gembel. Awalnya, si syekh mungkin berpikir, “Ini kesempatan bagus untuk
berdakwah.” Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
Dan tiba-tiba… plot twist.
Yang gembel ini ternyata bukan sembarang gembel. Ini gembel
level “advanced spiritual edition”. Setiap jawabannya bukan hanya benar, tapi
bikin yang nanya langsung introspeksi sambil mikir, “Selama ini saya ngapain
saja?”
Kita di sini mungkin sudah ikut banyak kajian, baca banyak
buku, bahkan mungkin sudah hafal istilah “maqam” dan “hal”. Tapi begitu
ditanya, “Apa itu sabar bersama Allah?” kita jawabnya masih, “Ya… sabar itu
menahan diri, Pak.”
Kita langsung terdiam. Bukan karena paham, tapi karena
loading.
Sabar: Bukan Sekadar Nahan Emosi di Grup WhatsApp
Biasanya kita memahami sabar sebagai kemampuan menahan
marah, terutama saat membaca pesan di grup keluarga. Ada yang kirim hoaks, kita
ingin membalas, tapi kita tahan. Kita bilang, “Saya sedang sabar.”
Padahal, menurut versi spiritual yang lebih tinggi, sabar
itu bukan sekadar tidak marah. Sabar itu tetap tenang ketika hidup tidak sesuai
rencana. Bahkan lebih tinggi lagi, sabar itu tetap bahagia dalam keadaan apa
pun—karena merasa semuanya dari Allah.
Ini berat.
Lebih berat dari menahan diri untuk tidak buka aplikasi
belanja saat tanggal tua.
Tawakal: Antara Pasrah dan “Ya Sudah Lah”
Lalu dibahas tentang tawakal. Kita sering merasa sudah
tawakal, padahal sebenarnya hanya kelelahan.
Tawakal versi tasawuf itu bukan menyerah. Tapi menyerahkan
hasil sambil tetap berusaha, dan hati benar-benar tidak bergantung pada apa pun
selain Allah.
Membersihkan Hati: Lebih Susah dari Bersih-bersih Rumah
Pemuda gembel itu kemudian menjelaskan bahwa kunci semuanya
adalah membersihkan hati.
Dan lucunya, kita sering merasa lebih baik dari orang lain…
dalam hal kerendahan hati.
Zikir: Dari Lisan ke Rasa
Kemudian sampai pada zikir. Kita semua bisa zikir. Bahkan
bisa sambil scrolling.
Zikir kita kadang hanya mampir di lisan, tidak sempat masuk
ke hati. Padahal yang dicari bukan sekadar ucapan, tapi rasa hadirnya Allah.
Kalau zikir sudah sampai ke hati, kata para sufi, dunia akan
terasa ringan. Masalah tetap ada, tapi tidak lagi menekan. Hidup tetap sibuk,
tapi tidak lagi membuat gelisah.
Singkatnya: hidup masih ramai, tapi hati tidak lagi berisik.
Hidup Bersama Allah: Bukan Pindah ke Gunung
Bagian paling menarik adalah konsep “hidup bersama Allah”.
Banyak orang mengira ini berarti harus meninggalkan dunia, jadi pertapa, atau
minimal uninstall semua aplikasi.
Padahal tidak.
Masalahnya, kita sering merasa sendiri… padahal tidak pernah
sendiri.
Kita merasa harus menghadapi semuanya sendiri, seolah-olah
Allah hanya hadir saat kita sedang berdoa. Padahal, justru dalam kehidupan
sehari-hari itulah Allah paling dekat.
Tamparan Halus dari Seorang Gembel
Kisah ini sebenarnya tamparan. Tapi tamparan yang halus,
seperti diingatkan, bukan disalahkan.
Bahkan bukan oleh seberapa sering kita terlihat religius.
Antara WiFi dan Makrifat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.