Jumat, 13 Februari 2026

Hidup Bersama Allah: Ketika Pemuda Gembel Mengalahkan Kita yang Punya WiFi

Di zaman sekarang, ada dua jenis manusia:

yang pertama, manusia yang hidup bersama Allah.
yang kedua, manusia yang hidup bersama notifikasi.

Sebagian besar dari kita, jujur saja, masuk kategori kedua. Bangun tidur yang pertama dicek bukan hati, tapi handphone. Kalau baterai 5% panik, tapi kalau iman 5% santai. Kita khawatir sinyal hilang, tapi tidak pernah khawatir kehilangan rasa hadirnya Allah.

Di tengah kondisi spiritual yang “low bat, mohon di-charge” ini, muncul sebuah ceramah yang judulnya sederhana tapi dalam: Hidup Bersama Allah. Sederhana, tapi efeknya bisa bikin kita merasa seperti murid TK yang baru belajar lagi cara beriman.

Dan seperti biasa dalam tradisi tasawuf, pelajaran besar justru datang dari tokoh yang tidak kita duga: seorang pemuda gembel. Ya, gembel. Bukan influencer, bukan ustaz viral, bukan juga motivator dengan slide PowerPoint. Bahkan mungkin kalau dia lewat di depan kita, kita akan lebih cepat menghindar daripada bertanya, “Mas, bagaimana cara mencapai makrifat?”

Ketika Guru Jadi Murid, dan Kita Jadi Bingung

Dalam kisah itu, seorang sufi besar bertemu dengan pemuda gembel. Awalnya, si syekh mungkin berpikir, “Ini kesempatan bagus untuk berdakwah.” Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Dialog dimulai.
Pertanyaan dilontarkan.
Jawaban diberikan.

Dan tiba-tiba… plot twist.

Yang gembel ini ternyata bukan sembarang gembel. Ini gembel level “advanced spiritual edition”. Setiap jawabannya bukan hanya benar, tapi bikin yang nanya langsung introspeksi sambil mikir, “Selama ini saya ngapain saja?”

Kita di sini mungkin sudah ikut banyak kajian, baca banyak buku, bahkan mungkin sudah hafal istilah “maqam” dan “hal”. Tapi begitu ditanya, “Apa itu sabar bersama Allah?” kita jawabnya masih, “Ya… sabar itu menahan diri, Pak.”

Sementara si gembel bilang:
“Sabar bersama Allah adalah puncak cinta, syukur, dan ridha.”

Kita langsung terdiam. Bukan karena paham, tapi karena loading.

Sabar: Bukan Sekadar Nahan Emosi di Grup WhatsApp

Biasanya kita memahami sabar sebagai kemampuan menahan marah, terutama saat membaca pesan di grup keluarga. Ada yang kirim hoaks, kita ingin membalas, tapi kita tahan. Kita bilang, “Saya sedang sabar.”

Padahal, menurut versi spiritual yang lebih tinggi, sabar itu bukan sekadar tidak marah. Sabar itu tetap tenang ketika hidup tidak sesuai rencana. Bahkan lebih tinggi lagi, sabar itu tetap bahagia dalam keadaan apa pun—karena merasa semuanya dari Allah.

Ini berat.

Lebih berat dari menahan diri untuk tidak buka aplikasi belanja saat tanggal tua.

Tawakal: Antara Pasrah dan “Ya Sudah Lah”

Lalu dibahas tentang tawakal. Kita sering merasa sudah tawakal, padahal sebenarnya hanya kelelahan.

Kalau usaha gagal, kita bilang, “Saya tawakal.”
Padahal dalam hati: “Ya sudah lah, capek juga.”

Tawakal versi tasawuf itu bukan menyerah. Tapi menyerahkan hasil sambil tetap berusaha, dan hati benar-benar tidak bergantung pada apa pun selain Allah.

Ini sulit, karena kita terbiasa bergantung pada banyak hal:
saldo rekening, koneksi, jabatan, bahkan jumlah followers.

Kalau semua itu goyang, hati kita ikut goyang.
Artinya, kita belum benar-benar tawakal. Kita masih “nyender” ke selain Allah.

Membersihkan Hati: Lebih Susah dari Bersih-bersih Rumah

Pemuda gembel itu kemudian menjelaskan bahwa kunci semuanya adalah membersihkan hati.

Masalahnya, membersihkan hati tidak seperti membersihkan rumah.
Kalau rumah kotor, tinggal sapu.
Kalau hati kotor… kadang kita tidak sadar malah merasa sudah bersih.

Kita mudah melihat debu di meja, tapi sulit melihat iri di hati.
Kita cepat membersihkan lantai, tapi lambat membersihkan kesombongan.

Dan lucunya, kita sering merasa lebih baik dari orang lain… dalam hal kerendahan hati.

Zikir: Dari Lisan ke Rasa

Kemudian sampai pada zikir. Kita semua bisa zikir. Bahkan bisa sambil scrolling.

Mulut bilang, “Subhanallah.”
Jari bilang, “Next video.”

Zikir kita kadang hanya mampir di lisan, tidak sempat masuk ke hati. Padahal yang dicari bukan sekadar ucapan, tapi rasa hadirnya Allah.

Kalau zikir sudah sampai ke hati, kata para sufi, dunia akan terasa ringan. Masalah tetap ada, tapi tidak lagi menekan. Hidup tetap sibuk, tapi tidak lagi membuat gelisah.

Singkatnya: hidup masih ramai, tapi hati tidak lagi berisik.

Hidup Bersama Allah: Bukan Pindah ke Gunung

Bagian paling menarik adalah konsep “hidup bersama Allah”. Banyak orang mengira ini berarti harus meninggalkan dunia, jadi pertapa, atau minimal uninstall semua aplikasi.

Padahal tidak.

Hidup bersama Allah itu bukan soal tempat, tapi soal kesadaran.
Kita tetap bekerja, tetap berinteraksi, tetap menjalani hidup. Tapi hati selalu merasa ditemani Allah.

Masalahnya, kita sering merasa sendiri… padahal tidak pernah sendiri.

Kita merasa harus menghadapi semuanya sendiri, seolah-olah Allah hanya hadir saat kita sedang berdoa. Padahal, justru dalam kehidupan sehari-hari itulah Allah paling dekat.

Tamparan Halus dari Seorang Gembel

Kisah ini sebenarnya tamparan. Tapi tamparan yang halus, seperti diingatkan, bukan disalahkan.

Bahwa kedekatan dengan Allah tidak ditentukan oleh penampilan.
Bukan oleh jabatan.
Bukan oleh popularitas.

Bahkan bukan oleh seberapa sering kita terlihat religius.

Bisa jadi, orang yang kita anggap “biasa saja” justru hatinya luar biasa.
Dan bisa jadi, kita yang merasa “sudah lumayan” ternyata masih di awal perjalanan.

Antara WiFi dan Makrifat

Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan sederhana tapi agak menyakitkan:
mungkin masalah kita bukan kurang ilmu, tapi kurang “hadir”.

Kita tahu banyak, tapi jarang merasakan.
Kita sering mendengar, tapi jarang menghayati.

Sementara si pemuda gembel itu… mungkin tidak punya apa-apa.
Tapi dia punya satu hal yang mahal: hati yang penuh Allah.

Dan di situ kita sadar,
bahwa mungkin selama ini kita hidup dengan banyak hal—
tapi belum benar-benar hidup bersama Allah.

Jadi pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Apakah kita sudah sukses?”

Tapi:
“Apakah kita sudah ditemani Allah, atau masih ditemani notifikasi?”

Kalau jawabannya yang kedua…
mungkin sudah saatnya kita belajar dari seorang gembel.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.