Kamis, 12 Februari 2026

Ketika Pikiran Jadi Kode: Saat Programmer Mulai Menghafal Doa, Bukan Sintaks

Pada Februari 2026, dunia teknologi mendadak seperti grup WhatsApp keluarga yang baru dapat broadcast kiamat: panik, ribut, dan semua orang mendadak jadi ahli tafsir.

Semuanya gara-gara satu kabar: Elon Musk disebut-sebut mengatakan bahwa coding akan “mati” tahun ini. Tamat. Selesai. RIP Python. Selamat tinggal C++. Compiler dipensiunkan. IDE jadi museum.

Mulai Desember 2026, AI tak lagi perlu bahasa pemrograman. Ia akan langsung menghasilkan machine code. Bahkan lebih ekstrem lagi: cukup bayangkan aplikasinya, dan—abrakadabra!—perangkat lunak tercipta. Imagination-to-software. Pikiran jadi startup.

Para programmer pun menatap layar dengan tatapan kosong. Bukan karena error 404. Tapi karena masa depan mereka mungkin juga 404.

I. Dari Ngoding ke Ngayal

Visi ini sangat menggoda. Bayangkan Anda hanya perlu berkata, “Saya ingin aplikasi marketplace yang menghubungkan petani alpukat dengan pecinta jus,” dan AI langsung menyajikannya lengkap dengan sistem pembayaran, logistik, dan fitur diskon 12.12.

Tak ada lagi begadang debugging.
Tak ada lagi konflik versi library.
Tak ada lagi Stack Overflow sebagai tempat ziarah spiritual.

Coding, kata narasi ini, hanyalah “pajak sejarah”—biaya karena mesin dulu belum paham bahasa manusia. Sekarang AI sudah fasih. Maka pajaknya dihapus.

Programmer pun bertanya-tanya: jadi selama ini kami ini petugas pajak?

II. Evolusi atau Pemakaman?

Sejarah komputasi memang sejarah penyederhanaan. Dulu orang menulis kode dalam bahasa mesin. Lalu assembly. Lalu C. Lalu Python. Lalu muncul low-code. Lalu no-code. Sekarang mungkin no-think-code.

Tapi setiap kali ada yang bilang, “Ini akhir dari profesi X,” biasanya yang terjadi bukan pemakaman, melainkan ganti jabatan.

Admin server tidak punah ketika cloud datang. Mereka naik pangkat jadi cloud architect. Programmer assembly tidak menghilang saat C lahir. Mereka jadi legenda LinkedIn.

Jadi mungkin programmer tidak akan mati. Mereka hanya akan berganti nama menjadi sesuatu yang lebih keren. Misalnya:

  • Chief Imagination Officer
  • Senior Prompt Whisperer
  • AI Mood Stabilizer
  • atau yang paling realistis: Debugger of Human Thoughts

Karena, seperti komentar paling pedas di Twitter itu bilang:
"You’ll imagine—then debug your imagination."

Dan jujur saja, imajinasi manusia sering lebih berantakan daripada kode JavaScript tanpa dokumentasi.

III. Imajinasi Tidak Selalu Kompilabel

Masalahnya sederhana: manusia itu suka membayangkan sesuatu yang tidak jelas.

Kita bilang, “Buatkan aplikasi sederhana saja.”

AI bertanya dalam diam:
“Sederhana menurut siapa? Anda? Bos Anda? Atau mertua Anda?”

Bahkan jika Neuralink benar-benar bisa membaca pikiran, siapa yang menjamin pikiran kita tidak penuh tab terbuka? Di kepala kita sering terjadi hal-hal seperti:

  • 30% ide aplikasi
  • 40% kekhawatiran cicilan
  • 20% lagu yang nyangkut
  • 10% ingat mantan

AI mungkin bisa menghasilkan machine code optimal. Tapi siapa yang memastikan bahwa yang kita bayangkan memang layak dieksekusi?

Kalau imajinasi kita kabur, hasilnya bisa jadi bukan aplikasi edukasi anak—tapi game simulasi ternak naga dengan fitur pembayaran kripto.

IV. Demokratisasi atau Drama?

Jika visi ini benar-benar terwujud, semua orang bisa jadi pencipta software. Ibu rumah tangga bisa bikin aplikasi jadwal belajar anak. Petani bisa bikin sistem irigasi otomatis. Anak SMA bisa bikin platform sosial baru dalam semalam.

Tapi di sisi lain, jutaan software engineer mungkin akan berkumpul di taman kota, saling bertanya:

“Dulu kamu backend?”
“Iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang frontend kehidupan.”

Dislokasi ekonomi bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan. Ia soal kehilangan identitas. Bagi banyak orang, coding bukan cuma pekerjaan. Itu kebanggaan. Itu seni. Itu cara berpikir.

Dan sekarang mereka diberi tahu bahwa seni itu akan digantikan oleh mesin yang bahkan tidak pernah kena error “missing semicolon”.

V. Jadi, Apakah Coding Benar-Benar Mati?

Kemungkinan besar? Tidak.

Yang mati biasanya bukan profesinya, melainkan versi lamanya.

Yang akan hilang mungkin bukan programmer, tapi programmer yang hanya tahu menulis sintaks tanpa memahami sistem, konteks, dan konsekuensi.

Ke depan, mungkin yang paling penting bukan siapa yang bisa menulis kode tercepat, tapi siapa yang bisa:

  • berpikir paling jernih,
  • bertanya paling tepat,
  • dan bertanggung jawab paling serius atas apa yang diciptakan.

Karena meskipun AI bisa menghasilkan jutaan baris kode dalam hitungan detik, ia tetap tidak bisa menjawab satu pertanyaan sederhana:

“Kalau sistem ini merugikan orang, siapa yang salah?”

AI bisa mengoptimalkan algoritma. Tapi hanya manusia yang bisa mengoptimalkan nurani.

VI. Penutup: Dari Keyboard ke Kesadaran

Elon Musk mungkin benar dalam satu hal: jarak antara ide dan realisasi akan makin pendek.

Tapi jarak antara imajinasi dan kebijaksanaan? Itu masih tanggung jawab kita.

Masa depan mungkin tidak lagi ditulis dalam Python atau C++.
Mungkin ia ditulis dalam prompt.
Mungkin dalam gelombang otak.
Mungkin dalam sesuatu yang bahkan belum kita beri nama.

Namun satu hal yang tampaknya tidak akan pernah mati: kebutuhan untuk berpikir dengan tajam, membayangkan dengan jernih, dan—yang paling sulit—mengakui bahwa tidak semua yang bisa kita ciptakan, layak untuk kita ciptakan.

Dan kalau suatu hari cukup dengan membayangkan kita bisa membuat aplikasi…

Semoga kita juga cukup bijak untuk membayangkan akibatnya.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.