Minggu, 08 Februari 2026

Dakwah, Air Keruh, dan Cermin yang Terlalu Jujur

Ada satu kesalahpahaman yang cukup awet dalam dunia dakwah: kita sering merasa ditugaskan sebagai petugas kebersihan rohani orang lain, padahal kadang air di ember sendiri masih berwarna abu-abu. Mikrofon sudah di tangan, kalimat nasihat mengalir lancar, tetapi cermin—entah kenapa—sering kita hadapkan ke arah jamaah, bukan ke diri sendiri.

Refleksi ini mengajak kita melakukan hal yang jarang dilakukan dengan sukarela: berhenti sejenak dari memperbaiki orang lain, lalu memeriksa kejernihan diri sendiri.

Ketika Air Keruh Merasa Paling Normal

Metafora air keruh dan air bening menjadi pintu masuk yang sederhana sekaligus menohok. Air keruh melambangkan hati dan pikiran yang lama terendam oleh kebiasaan buruk, dosa yang ditoleransi, dan pandangan yang dibentuk lingkungan. Bahayanya bukan semata kotor, tetapi sudah dianggap wajar.

Di titik ini, air bening justru terasa mencurigakan. Ketika kebenaran datang, ia dianggap asing, bahkan berbahaya. Seperti mata yang lama hidup dalam gelap, cahaya justru dianggap musuh karena terlalu terang. Bukan karena cahaya itu salah, tetapi karena mata belum siap.

Dalam situasi seperti ini, dakwah sering menemui penolakan. Bukan selalu karena pesan yang keliru, melainkan karena hati yang sudah betah dengan kekeruhan. Ironisnya, orang yang paling bersemangat berbicara soal kejernihan kadang lupa mengecek warna air di gelasnya sendiri.

Hidayah Bukan Tombol yang Bisa Ditekan

Refleksi berikutnya mengingatkan batas yang sering kita lupakan: manusia hanya menyampaikan, bukan menentukan hidayah. Betapa pun rapi argumen disusun, betapa pun panjang nasihat disampaikan, perubahan sejati tetap berada di luar kuasa manusia.

Itulah sebabnya doa memohon petunjuk diulang setiap hari. Sebuah pengakuan jujur bahwa kita sendiri masih membutuhkan arah. Maka menjadi aneh ketika seseorang merasa gagal hanya karena orang lain belum berubah—atau lebih aneh lagi, merasa berhasil karena banyak yang mengikuti.

Di sinilah niat bisa tergelincir. Dakwah yang awalnya ibadah pelan-pelan berubah menjadi panggung. Ukuran keberhasilan bukan lagi keikhlasan, tetapi angka. Ketika ini terjadi, dakwah kehilangan ruhnya dan bergeser menjadi pertunjukan kesalehan yang rapi secara visual, namun rapuh secara batin.

Jago Menasihati, Lupa Mengobati

Bagian paling tajam dari refleksi ini adalah seruan introspeksi tanpa tawar-menawar. Jangan sampai lisan lembut tetapi hati membatu. Jangan sampai rajin menilai kesalahan orang lain, namun alergi terhadap koreksi. Jangan sampai sibuk membuka aib orang, sementara aib diri sendiri disimpan rapi dengan alasan “manusiawi”.

Mengajak orang pada kebaikan adalah amal mulia. Namun ia bisa berubah menjadi beban jika tidak dibarengi kesungguhan memperbaiki diri. Menasihati orang lain sering terasa lebih ringan daripada menasihati diri sendiri—karena yang terakhir menuntut kejujuran, bukan kefasihan.

Dakwah yang Dimulai dari Dalam Gelas

Refleksi ini akhirnya menuntun pada kesimpulan sederhana tapi berat: dakwah sejati dimulai dari penyucian diri. Bukan dari keinginan mengubah orang lain, melainkan dari kesediaan berubah lebih dulu.

Kesuksesan dakwah tidak diukur dari berapa banyak orang yang terpengaruh, tetapi dari seberapa bersih hati saat menyampaikan, dan seberapa konsisten hidup dijalani sesuai nasihat yang diucapkan. Jangan sampai kita pandai menunjuk jalan ke surga, tetapi lupa melangkah ke arahnya.

Barangkali pesan terjujurnya adalah ini:
Membersihkan air dalam gelas sendiri sering kali lebih mendesak daripada menjernihkan samudra di luar.

Dan mungkin, justru di situlah dakwah menemukan maknanya yang paling sunyi—dan paling tulus.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.