Hidup ini aneh. Kadang terasa seperti guru yang pelit pujian tapi rajin memberi ujian. Baru saja kita merasa “baik-baik saja”, tiba-tiba datang paket komplit: badan lemas, rencana berantakan, dompet menipis, dan hati ikut nyeri. Pada titik ini, pertanyaan refleks pun muncul dengan nada setengah protes: “Kenapa harus aku?” — seolah-olah hidup salah memilih sasaran.
Namun, jika mau jujur sedikit lebih dalam, bisa jadi masalahnya bukan pada beratnya cobaan, melainkan cara kita membacanya. Penderitaan sering kita anggap sebagai tanda murka, padahal bisa jadi ia hanyalah bentuk komunikasi yang bahasanya tidak kita sukai.
Salah satu hikmah paling menenangkan adalah kesadaran sederhana ini: yang sedang menguji kita bukan kekacauan acak, melainkan kehendak yang penuh makna. Begitu cobaan dipahami sebagai “ujian”, bukan “kecelakaan nasib”, rasa sakitnya tetap ada, tapi kepanikannya menurun drastis. Ibarat jatuh saat latihan, bukan jatuh karena didorong orang tak dikenal—sakitnya sama, tapi hatinya berbeda.
Penderitaan yang dipahami sebagai cobaan berubah fungsi. Ia bukan lagi musuh, melainkan alat pendidikan. Bahkan orang-orang dulu sudah paham betul: sebesar apa pun derita, kalau sudah jelas statusnya sebagai ujian, bebannya terasa lebih ringan. Setidaknya, kita tahu bahwa ini bukan tanpa arah.
Lebih jauh lagi, cobaan ternyata jarang datang sendirian. Ia selalu membawa dua paket sekaligus: yang pertama merobohkan hal-hal lahiriah—kenyamanan, rasa aman palsu, kepercayaan diri berlebihan—dan yang kedua, diam-diam membangun ruang batin. Saat kita kehilangan sandaran dunia, justru di sanalah muncul sandaran yang lebih jujur.
Ironisnya, banyak “kegagalan” hidup sebenarnya adalah bentuk keberhasilan yang tertunda pengertiannya. Dunia boleh runtuh, tapi batin justru tumbuh. Harta bisa hilang, tapi kesadaran bertambah. Rencana bisa gagal, tapi arah hidup menjadi lebih lurus. Yang roboh hanyalah apa-apa yang selama ini kita kira penting.
Pendekatan ini membuat hidup tidak perlu ditinggalkan, apalagi dimusuhi. Kita tetap bekerja, berusaha, dan terlibat dalam dunia—hanya saja dengan hati yang tidak lagi terlalu percaya diri pada kekuatannya sendiri. Cobaan bukan alasan untuk kabur, melainkan arena latihan ketahanan batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Di zaman serba cepat dan serba instan, pesan ini terasa seperti teguran halus. Kita hidup di era sedikit sulit langsung ingin berhenti, sedikit gagal langsung menyimpulkan hidup tidak adil. Padahal, bisa jadi hidup tidak sedang kejam—ia hanya sedang meningkatkan level kedewasaan kita.
Mengganti sikap protes dengan sabar bukan berarti berhenti bergerak. Justru sebaliknya: menerima kenyataan dengan jernih, lalu melangkah kembali dengan niat yang lebih bersih dan ego yang lebih kecil. Di situlah kekuatan sejati bekerja, bukan di teriakan keluhan.
Pada akhirnya, setiap lembar derita dalam hidup ini bisa dibaca ulang. Barangkali ia bukan catatan hukuman, melainkan surat cinta—ditulis dengan tinta pahit agar kita benar-benar membacanya, bukan sekadar melirik. Di balik selimut musibah, ada pelukan yang sedang mendidik, membersihkan, dan menyiapkan jiwa untuk pulang dalam keadaan lebih utuh.
Karena sering kali, manusia baru benar-benar belajar mencintai… setelah hidup berhenti memanjakannya.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.