Senin, 09 Februari 2026

Mandat Surga Tanpa Kantor Cabang

Jika sekularisme adalah lomba lari estafet sejarah, maka buku teks Barat sering menggambarkannya seolah-olah Eropa abad ke-18 berlari sendirian sambil membawa obor Pencerahan, sementara dunia lain masih sibuk berdoa agar hujan turun. Namun, seperti diingatkan Arnaud Bertrand, ternyata Tiongkok sudah lebih dulu berangkat—sekitar tiga ribu tahun sebelumnya—dan tanpa banyak gembar-gembor. Bahkan tanpa gereja, tanpa paus, dan tanpa kelas pendeta yang bisa memveto raja sambil membawa dupa.


Di Tiongkok kuno, Tuhan (atau Surga) tampaknya punya gaya manajemen yang unik: tidak ikut rapat harian, tidak mengirim wahyu mingguan, dan—yang paling radikal—tidak menyediakan juru bicara eksklusif di istana. Tidak ada “perwakilan resmi Surga tingkat nasional”. Jika Surga kecewa, ia tidak mengirim nabi. Ia hanya… mencabut mandat. Tanpa surat peringatan.

Negara Tanpa Pendeta, Tapi Penuh Pejabat

Berbeda dengan banyak peradaban lain yang hidup rukun bersama para imam superpower, Tiongkok justru memilih eksperimen berani: mempercayakan negara kepada para kutu buku. Ya, negara dikelola oleh kaum sarjana-mandarin—orang-orang yang lulus ujian, hafal klasik, dan percaya bahwa masalah politik seharusnya diselesaikan dengan administrasi, bukan jampi-jampi.

Di sini, ritual memang penting, tapi lebih sebagai tata krama kosmik, bukan hotline ke alam gaib. Kekuasaan tidak datang dari “aku dipilih dewa”, melainkan dari “aku lulus ujian dan kelihatannya cukup kompeten”. Sebuah konsep yang, jujur saja, masih terasa cukup revolusioner hingga hari ini.

Mandat Surga Versi Update: Bisa Dicabut, Tanpa Customer Service

Momen paling jenius dalam kisah ini terjadi ketika Dinasti Zhou menggulingkan Dinasti Shang. Masalahnya sederhana tapi fatal: bagaimana cara menggulingkan raja yang katanya dipilih Surga, tanpa membuat Surga terlihat bodoh?

Solusinya cerdas sekaligus berbahaya: Mandat Surga bukan kartu keanggotaan seumur hidup. Ia lebih mirip kontrak kerja. Jika penguasa lalim, malas, atau bikin rakyat sengsara, kontraknya hangus. Surga tidak salah pilih; rajanya saja yang gagal memenuhi KPI moral.

Dengan satu langkah ini, legitimasi kekuasaan pindah tangan—dari langit ke bumi, dari dewa ke evaluasi etis manusia. Mencius kemudian menyempurnakannya dengan kalimat yang terdengar sangat modern: rakyat lebih penting daripada penguasa. Terjemahan bebasnya: kalau pemerintah gagal, jangan salahkan cuaca.

Ketika Eropa Belajar dari Timur (dan Agak Cemburu)

Beberapa abad kemudian, misionaris Yesuit datang ke Tiongkok dan mengalami culture shock: sebuah kekaisaran besar, relatif stabil, dikelola oleh meritokrasi, dan… tanpa campur tangan gereja. Mereka pun pulang ke Eropa sambil membawa laporan yang membuat para filsuf Pencerahan tersenyum licik.

Voltaire, tentu saja, sangat menyukainya. “Lihat,” kira-kira begitu nadanya, “ternyata masyarakat bisa tertib tanpa kita harus mengancam neraka setiap lima menit.” Maka lahirlah l’argument chinois, senjata intelektual untuk melawan raja-raja Eropa yang mengklaim kekuasaan dari Tuhan—Tuhan yang, anehnya, selalu sepakat dengan kebijakan mereka.

Sekularisme: Iman yang Terakhir

Pada akhirnya, sekularisme Tiongkok bukan berarti menyingkirkan Surga, melainkan membebaskannya dari tugas administratif. Surga tidak lagi diminta mengurus korupsi, gagal panen akibat kebijakan bodoh, atau penguasa yang tidak becus. Semua itu kini menjadi urusan manusia.

Ini adalah iman yang sunyi tapi berat: iman pada kemampuan manusia untuk berpikir, menilai, dan bertanggung jawab. Tidak ada tempat bersembunyi di balik kehendak ilahi. Jika negara kacau, maka manusialah yang harus bercermin—bukan berdoa agar Surga mengubah keputusan-Nya.

Maka ketika Tiongkok modern tampil dengan jalurnya sendiri, ia tidak sedang membangkang dari sejarah universal, melainkan melanjutkan kebiasaan lama: percaya bahwa kekuasaan harus dibenarkan oleh manfaatnya bagi manusia, bukan oleh klaim metafisik yang kebal kritik.

Singkatnya, sejak Dinasti Zhou, Surga sudah pensiun dini. Dan manusia—dengan segala kelebihan dan kekurangannya—dipaksa belajar satu hal penting: dewasa secara politik.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.