Jika sekularisme adalah lomba lari estafet sejarah, maka buku teks Barat sering menggambarkannya seolah-olah Eropa abad ke-18 berlari sendirian sambil membawa obor Pencerahan, sementara dunia lain masih sibuk berdoa agar hujan turun. Namun, seperti diingatkan Arnaud Bertrand, ternyata Tiongkok sudah lebih dulu berangkat—sekitar tiga ribu tahun sebelumnya—dan tanpa banyak gembar-gembor. Bahkan tanpa gereja, tanpa paus, dan tanpa kelas pendeta yang bisa memveto raja sambil membawa dupa.
Di Tiongkok kuno, Tuhan (atau Surga) tampaknya punya gaya manajemen yang unik:
tidak ikut rapat harian, tidak mengirim wahyu mingguan, dan—yang paling
radikal—tidak menyediakan juru bicara eksklusif di istana. Tidak ada
“perwakilan resmi Surga tingkat nasional”. Jika Surga kecewa, ia tidak mengirim
nabi. Ia hanya… mencabut mandat. Tanpa surat peringatan.
Negara Tanpa Pendeta, Tapi Penuh Pejabat
Berbeda dengan banyak peradaban lain yang hidup rukun bersama para imam
superpower, Tiongkok justru memilih eksperimen berani: mempercayakan negara
kepada para kutu buku. Ya, negara dikelola oleh kaum
sarjana-mandarin—orang-orang yang lulus ujian, hafal klasik, dan percaya bahwa
masalah politik seharusnya diselesaikan dengan administrasi, bukan jampi-jampi.
Di sini, ritual memang penting, tapi lebih sebagai tata krama kosmik, bukan
hotline ke alam gaib. Kekuasaan tidak datang dari “aku dipilih dewa”, melainkan
dari “aku lulus ujian dan kelihatannya cukup kompeten”. Sebuah konsep yang,
jujur saja, masih terasa cukup revolusioner hingga hari ini.
Mandat Surga Versi Update: Bisa Dicabut, Tanpa Customer Service
Momen paling jenius dalam kisah ini terjadi ketika Dinasti Zhou menggulingkan
Dinasti Shang. Masalahnya sederhana tapi fatal: bagaimana cara menggulingkan
raja yang katanya dipilih Surga, tanpa membuat Surga terlihat bodoh?
Solusinya cerdas sekaligus berbahaya: Mandat Surga bukan kartu keanggotaan
seumur hidup. Ia lebih mirip kontrak kerja. Jika penguasa lalim, malas, atau
bikin rakyat sengsara, kontraknya hangus. Surga tidak salah pilih; rajanya saja
yang gagal memenuhi KPI moral.
Dengan satu langkah ini, legitimasi kekuasaan pindah tangan—dari langit ke
bumi, dari dewa ke evaluasi etis manusia. Mencius kemudian menyempurnakannya
dengan kalimat yang terdengar sangat modern: rakyat lebih penting daripada
penguasa. Terjemahan bebasnya: kalau pemerintah gagal, jangan salahkan cuaca.
Ketika Eropa Belajar dari Timur (dan Agak Cemburu)
Beberapa abad kemudian, misionaris Yesuit datang ke Tiongkok dan mengalami
culture shock: sebuah kekaisaran besar, relatif stabil, dikelola oleh
meritokrasi, dan… tanpa campur tangan gereja. Mereka pun pulang ke Eropa sambil
membawa laporan yang membuat para filsuf Pencerahan tersenyum licik.
Voltaire, tentu saja, sangat menyukainya. “Lihat,” kira-kira begitu nadanya,
“ternyata masyarakat bisa tertib tanpa kita harus mengancam neraka setiap lima
menit.” Maka lahirlah l’argument chinois, senjata intelektual untuk melawan
raja-raja Eropa yang mengklaim kekuasaan dari Tuhan—Tuhan yang, anehnya, selalu
sepakat dengan kebijakan mereka.
Sekularisme: Iman yang Terakhir
Pada akhirnya, sekularisme Tiongkok bukan berarti menyingkirkan Surga,
melainkan membebaskannya dari tugas administratif. Surga tidak lagi diminta
mengurus korupsi, gagal panen akibat kebijakan bodoh, atau penguasa yang tidak
becus. Semua itu kini menjadi urusan manusia.
Ini adalah iman yang sunyi tapi berat: iman pada kemampuan manusia untuk
berpikir, menilai, dan bertanggung jawab. Tidak ada tempat bersembunyi di balik
kehendak ilahi. Jika negara kacau, maka manusialah yang harus bercermin—bukan
berdoa agar Surga mengubah keputusan-Nya.
Maka ketika Tiongkok modern tampil dengan jalurnya sendiri, ia tidak sedang
membangkang dari sejarah universal, melainkan melanjutkan kebiasaan lama:
percaya bahwa kekuasaan harus dibenarkan oleh manfaatnya bagi manusia, bukan
oleh klaim metafisik yang kebal kritik.
Singkatnya, sejak Dinasti Zhou, Surga sudah pensiun dini. Dan manusia—dengan
segala kelebihan dan kekurangannya—dipaksa belajar satu hal penting: dewasa
secara politik.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.