Senin, 09 Februari 2026

Dari Mars ke Bulan: Ketika Impian Besar Harus Naik Motor Dulu

Selama bertahun-tahun, Elon Musk adalah simbol manusia yang terlalu sering menatap Mars. Planet Merah itu bukan sekadar objek astronomi baginya, melainkan semacam kontrakan masa depan: tempat umat manusia akan pindah jika Bumi sudah terlalu penuh, terlalu panas, atau terlalu banyak rapat Zoom. Namun awal Februari 2026, sebuah pengumuman di platform X membuat banyak pemimpi Mars tersedak kopi paginya. SpaceX, sang juru selamat antarplanet, memutuskan untuk putar balik sebentar. Mars ditunda. Bulan dulu.

Bukan karena Mars mendadak ghosting, tapi karena logistik. Ternyata, pergi ke Mars itu ribet. Jadwal berangkatnya seperti angkutan desa: hanya lewat setiap 26 bulan sekali. Kalau ketinggalan, ya tunggu dua tahun lebih sambil menatap langit dan merenungi keputusan hidup. Waktu tempuhnya enam bulan, sinyalnya telat, dan kalau ada baut kendor di tengah jalan, tidak bisa bilang, “Mas, putar balik sebentar.”

Sebaliknya, Bulan itu tetangga sebelah. Dua hari nyampe. Mau bolak-balik juga bisa. Ibaratnya, kalau Mars itu rencana nikah lintas negara, Bulan adalah ngajak kenalan dulu lewat ngopi sore. Lebih realistis, lebih murah secara emosi teknikal, dan lebih cepat dievaluasi kalau ada yang salah.

Maka lahirlah ide ambisius: kota yang tumbuh sendiri di Bulan. Sebuah kota yang tidak perlu sering-sering minta kiriman dari Bumi, karena bisa memeras tanah Bulan sendiri—secara harfiah. Regolith, yang dulu cuma dianggap debu menyebalkan, kini diproyeksikan jadi sumber air, oksigen, bahan bakar, bahkan bahan bangunan. Dari debu menjadi peradaban. Agak filosofis, kalau dipikir-pikir.

Namun tentu saja, publik tidak langsung tepuk tangan. Ada yang nyeletuk, “Ini mah tanda Mars terlalu susah.” Ada pula yang berbisik, “Jangan-jangan timeline Mars itu dari dulu cuma motivasi PowerPoint.” Bulan sendiri bukan tempat piknik. Radiasi kosmiknya ganas, debunya tajam seperti dendam lama, gravitasinya rendah, dan efeknya ke tubuh manusia masih misterius. Singkatnya: ini bukan Bali, meski sama-sama punya pasir.

Janji membangun kota mandiri di Bulan dalam waktu kurang dari sepuluh tahun pun terdengar seperti target resolusi tahun baru: mulia, ambisius, dan sering bikin skeptis. Sampai hari ini saja, manusia belum punya rumah permanen di sana. Yang ada baru jejak kaki, bendera, dan kenangan era Apollo.

Tapi di balik semua itu, langkah SpaceX ini justru terasa dewasa. Untuk ukuran mimpi sebesar “menyelamatkan peradaban manusia,” Musk tampak sadar bahwa terlalu memaksakan Mars bisa berakhir seperti ingin langsung lari maraton tanpa pernah latihan jalan pagi. Bulan dijadikan laboratorium kosmik: tempat salah, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi—tanpa harus menunggu dua setengah tahun setiap kali salah pasang mur.

Dalam perspektif ini, Bulan bukan pengganti Mars, melainkan tempat magang. Sebuah stepping stone agar ketika manusia akhirnya benar-benar menuju Planet Merah, mereka tidak datang sebagai turis nekat, melainkan sebagai spesies yang sudah berpengalaman hidup di luar halaman rumahnya sendiri.

Pada akhirnya, perubahan arah dari Mars ke Bulan mengajarkan satu hal sederhana: mimpi besar tidak selalu harus ditempuh dengan lompatan terjauh. Kadang, cara paling masuk akal menuju bintang-bintang adalah dengan menguasai teras rumah terlebih dahulu. Dan siapa tahu, dalam usia kita, kota pertama di dunia lain yang benar-benar hidup bukan berdiri di Mars, melainkan di Bulan—tempat manusia akhirnya belajar bahwa bahkan impian kosmik pun perlu rencana yang membumi. 🌕🚀

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.