Jumat, 13 Februari 2026

Paru-Paru Tanpa Matahari: Ketika Laut Dalam Ternyata Lebih Produktif dari Kita

Di zaman di mana manusia merasa sudah memahami hampir segala hal—dari cara membuat kopi manual brew sampai cara terlihat bijak di media sosial—alam semesta kembali menampar kita dengan cara yang sangat elegan: diam-diam.

Bukan dari langit, bukan dari teleskop mahal, melainkan dari dasar laut yang selama ini kita anggap sebagai “gudang gelap” planet ini. Tempat yang, dalam imajinasi manusia modern, kira-kira hanya berisi ikan aneh, monster laut, dan mungkin beberapa episode sisa Atlantis.

Namun rupanya, di kedalaman 4.000 meter, laut tidak hanya menyimpan misteri—ia juga menyimpan ironi.

Karena di sana, tanpa sinar matahari, tanpa daun, tanpa klorofil, oksigen tetap diproduksi.

Ya, Anda tidak salah baca.

Alam tampaknya baru saja berkata: “Siapa bilang fotosintesis satu-satunya cara? Santai saja, saya punya cara lain.”

Ketika Batu Jadi Lebih Pintar dari Manusia

Selama ini kita diajarkan bahwa oksigen adalah hasil kerja keras tumbuhan. Pohon, rumput, alga—semua menjadi semacam “pegawai tetap” produksi oksigen global. Mereka bekerja tanpa gaji, tanpa libur, dan tanpa tuntutan serikat pekerja.

Sementara manusia? Kita sibuk membuat polusi, lalu menanam satu pohon, lalu merasa sudah berkontribusi pada planet.

Namun kini, muncul pemain baru: batu.

Bukan batu biasa. Ini adalah polymetallic nodules—bongkahan logam yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan baku baterai daripada sebagai “organ pernapasan”.

Batu ini tidak fotosintesis. Ia tidak berzikir, tidak pula bermeditasi. Ia hanya... ada. Namun ketika berkumpul, ia menghasilkan listrik kecil—sekitar 0,95 volt—yang cukup untuk memecah air menjadi oksigen.

Singkatnya, batu ini diam-diam melakukan elektrolisis.

Dan kita yang selama ini bangga dengan teknologi listrik rumah tangga tiba-tiba harus menerima kenyataan pahit: bahkan batu di dasar laut sudah bisa “ngisi daya” dirinya sendiri.

Krisis Eksistensial Para Ilmuwan

Penemuan ini tentu membuat para ilmuwan sedikit gelisah. Bukan karena salah, tapi karena terlalu benar.

Selama ini, narasi ilmiah kita cukup sederhana: tidak ada cahaya, tidak ada fotosintesis, tidak ada oksigen. Selesai.

Ternyata tidak.

Ini seperti kita sudah membuat teori panjang tentang kehidupan, lalu tiba-tiba ada anak kecil yang berkata, “Tapi kalau begini gimana?”

Dan kita semua terdiam.

Penemuan ini membuka kemungkinan bahwa oksigen di Bumi purba mungkin tidak sepenuhnya bergantung pada makhluk hidup. Bahkan di tempat gelap sekalipun, kehidupan bisa punya “backup plan”.

Alam, sekali lagi, terbukti lebih kreatif dari manusia.

Dan mungkin juga lebih hemat energi.

Ketika Alam Bertemu Excel dan Proposal Tambang

Namun seperti biasa, setiap keajaiban alam selalu bertemu dengan satu hal yang tidak kalah ajaib: kepentingan ekonomi.

Begitu ilmuwan berkata, “Ini penting untuk ekosistem,” dunia industri mendengar, “Ini banyak logamnya.”

Zona Clarion-Clipperton yang penuh nodul ini bukan hanya menarik bagi ilmuwan, tetapi juga bagi perusahaan tambang. Karena di dalam batu-batu itu terdapat nikel, kobalt, dan mangan—bahan utama baterai kendaraan listrik.

Ironinya, batu yang mungkin membantu menghasilkan oksigen justru ingin kita gali untuk membuat baterai yang katanya menyelamatkan lingkungan.

Ini seperti mengambil paru-paru seseorang untuk membuat alat bantu napas.

Logikanya ada. Tapi tetap terasa agak janggal.

Aktivis, Ilmuwan, dan Para Penambang: Drama di Dasar Laut

Kini panggung pun ramai.

Lebih dari 115 organisasi lingkungan menyerukan moratorium. Mereka khawatir bahwa menambang nodul ini sama saja dengan mematikan “paru-paru” ekosistem laut dalam.

Di sisi lain, perusahaan tambang dan sebagian ilmuwan berkata: “Tenang, ini cuma sedikit oksigen.”

Dan di tengah-tengah itu, alam mungkin hanya tersenyum kecil, sambil berkata, “Kalian bahkan belum paham saya, tapi sudah berdebat tentang saya.”

Jika laut dalam bisa berbicara, mungkin ia akan berkata:
“Baru juga kalian tahu saya bisa bikin oksigen, sudah mau dibongkar.”

Pelajaran dari Batu yang Diam

Penemuan “dark oxygen” ini sebenarnya bukan hanya soal sains. Ini adalah cermin.

Bahwa dunia tidak sesederhana teori kita.
Bahwa alam tidak pernah benar-benar “mati”, hanya karena kita belum memahaminya.
Dan bahwa sering kali, manusia terlalu cepat mengambil keputusan sebelum selesai belajar.

Kita mengira laut dalam itu sunyi. Ternyata ia bekerja.
Kita mengira batu itu mati. Ternyata ia produktif.
Kita mengira kita sudah pintar. Ternyata... masih banyak yang perlu dipelajari.

Penutup: Siapa yang Sebenarnya Hidup?

Pada akhirnya, penemuan ini menyisakan satu pertanyaan yang agak tidak nyaman:

Jika batu saja bisa menghasilkan oksigen di tempat gelap,
lalu kita—yang hidup, berakal, dan punya teknologi—
sudah menghasilkan apa?

Mungkin, di kedalaman 4.000 meter itu, bukan hanya oksigen yang sedang diproduksi.

Tapi juga pelajaran.

Bahwa hidup tidak selalu butuh cahaya untuk memberi manfaat.
Dan bahwa kadang, yang paling diam justru yang paling bekerja.

Sementara yang paling ribut…
masih sibuk debat di permukaan.
abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.