Di zaman di mana manusia merasa sudah memahami hampir segala hal—dari cara membuat kopi manual brew sampai cara terlihat bijak di media sosial—alam semesta kembali menampar kita dengan cara yang sangat elegan: diam-diam.
Bukan dari langit, bukan dari teleskop mahal, melainkan dari
dasar laut yang selama ini kita anggap sebagai “gudang gelap” planet ini.
Tempat yang, dalam imajinasi manusia modern, kira-kira hanya berisi ikan aneh,
monster laut, dan mungkin beberapa episode sisa Atlantis.
Namun rupanya, di kedalaman 4.000 meter, laut tidak hanya
menyimpan misteri—ia juga menyimpan ironi.
Karena di sana, tanpa sinar matahari, tanpa daun, tanpa
klorofil, oksigen tetap diproduksi.
Ya, Anda tidak salah baca.
Alam tampaknya baru saja berkata: “Siapa bilang fotosintesis satu-satunya cara? Santai saja, saya punya cara lain.”
Ketika Batu Jadi Lebih Pintar dari Manusia
Selama ini kita diajarkan bahwa oksigen adalah hasil kerja
keras tumbuhan. Pohon, rumput, alga—semua menjadi semacam “pegawai tetap”
produksi oksigen global. Mereka bekerja tanpa gaji, tanpa libur, dan tanpa
tuntutan serikat pekerja.
Sementara manusia? Kita sibuk membuat polusi, lalu menanam
satu pohon, lalu merasa sudah berkontribusi pada planet.
Namun kini, muncul pemain baru: batu.
Bukan batu biasa. Ini adalah polymetallic nodules—bongkahan
logam yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan baku baterai daripada sebagai
“organ pernapasan”.
Batu ini tidak fotosintesis. Ia tidak berzikir, tidak pula
bermeditasi. Ia hanya... ada. Namun ketika berkumpul, ia menghasilkan listrik
kecil—sekitar 0,95 volt—yang cukup untuk memecah air menjadi oksigen.
Singkatnya, batu ini diam-diam melakukan elektrolisis.
Dan kita yang selama ini bangga dengan teknologi listrik rumah tangga tiba-tiba harus menerima kenyataan pahit: bahkan batu di dasar laut sudah bisa “ngisi daya” dirinya sendiri.
Krisis Eksistensial Para Ilmuwan
Penemuan ini tentu membuat para ilmuwan sedikit gelisah.
Bukan karena salah, tapi karena terlalu benar.
Selama ini, narasi ilmiah kita cukup sederhana: tidak ada
cahaya, tidak ada fotosintesis, tidak ada oksigen. Selesai.
Ternyata tidak.
Ini seperti kita sudah membuat teori panjang tentang
kehidupan, lalu tiba-tiba ada anak kecil yang berkata, “Tapi kalau begini
gimana?”
Dan kita semua terdiam.
Penemuan ini membuka kemungkinan bahwa oksigen di Bumi purba
mungkin tidak sepenuhnya bergantung pada makhluk hidup. Bahkan di tempat gelap
sekalipun, kehidupan bisa punya “backup plan”.
Alam, sekali lagi, terbukti lebih kreatif dari manusia.
Dan mungkin juga lebih hemat energi.
Ketika Alam Bertemu Excel dan Proposal Tambang
Namun seperti biasa, setiap keajaiban alam selalu bertemu
dengan satu hal yang tidak kalah ajaib: kepentingan ekonomi.
Begitu ilmuwan berkata, “Ini penting untuk ekosistem,” dunia
industri mendengar, “Ini banyak logamnya.”
Zona Clarion-Clipperton yang penuh nodul ini bukan hanya
menarik bagi ilmuwan, tetapi juga bagi perusahaan tambang. Karena di dalam
batu-batu itu terdapat nikel, kobalt, dan mangan—bahan utama baterai kendaraan
listrik.
Ironinya, batu yang mungkin membantu menghasilkan oksigen
justru ingin kita gali untuk membuat baterai yang katanya menyelamatkan
lingkungan.
Ini seperti mengambil paru-paru seseorang untuk membuat alat
bantu napas.
Logikanya ada. Tapi tetap terasa agak janggal.
Aktivis, Ilmuwan, dan Para Penambang: Drama di Dasar Laut
Kini panggung pun ramai.
Lebih dari 115 organisasi lingkungan menyerukan moratorium.
Mereka khawatir bahwa menambang nodul ini sama saja dengan mematikan
“paru-paru” ekosistem laut dalam.
Di sisi lain, perusahaan tambang dan sebagian ilmuwan
berkata: “Tenang, ini cuma sedikit oksigen.”
Dan di tengah-tengah itu, alam mungkin hanya tersenyum
kecil, sambil berkata, “Kalian bahkan belum paham saya, tapi sudah berdebat
tentang saya.”
Pelajaran dari Batu yang Diam
Penemuan “dark oxygen” ini sebenarnya bukan hanya soal
sains. Ini adalah cermin.
Penutup: Siapa yang Sebenarnya Hidup?
Pada akhirnya, penemuan ini menyisakan satu pertanyaan yang
agak tidak nyaman:
Mungkin, di kedalaman 4.000 meter itu, bukan hanya oksigen
yang sedang diproduksi.
Tapi juga pelajaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.