Ada dua cara melihat kebangkitan Tiongkok:Pertama, dengan membaca laporan ekonomi, grafik pertumbuhan, dan kebijakan
industri.
Kedua, dengan membuka utas Twitter yang panjangnya lebih dari doa qunut, lalu
tiba-tiba Anda merasa dunia ini dikendalikan oleh aliansi rahasia bernama
“Jesuit-Zionis”.
Cara kedua jelas lebih seru.
Tiongkok sebagai “Negara Steril”—Seperti Kamar Operasi,
Tapi Geopolitik
Dalam naratif ala Robert Jacobsen, Tiongkok digambarkan
seperti ruang ICU peradaban: steril, bersih, dan bebas dari “kuman globalisme”.
Tidak ada Vatikan, tidak ada Freemason, tidak ada “pengaruh tertentu” yang
konon membuat Barat batuk-batuk peradaban.
Kalau ini benar, maka Beijing bukan sekadar ibu kota—ia
adalah antiseptik geopolitik.
Sementara itu, Barat digambarkan seperti pasien yang terlalu
banyak membaca teori konspirasi sehingga lupa minum obat: sibuk mencari “dalang
rahasia”, padahal mungkin masalahnya hanya kurang tidur dan kebanyakan
doomscrolling.
Negara Komunis, Tapi Jadi Rumah Etika Protestan?
Di titik ini, naratif mulai menarik—atau mungkin mulai
jogging tanpa arah.
Tiongkok, yang secara resmi ateis, tiba-tiba disebut sebagai
ladang subur bagi etika Protestan.
Ini seperti menemukan warung sate di tengah laut: menarik, tapi kita bertanya,
“Ini logistiknya bagaimana?”
Memang benar, komunitas Kristen di Tiongkok berkembang.
Namun menyimpulkan bahwa Partai Komunis dan gereja bawah tanah bekerja sama
seperti duo bisnis startup adalah... kreatif.
Kalau logika ini diteruskan, mungkin kita juga bisa
mengatakan bahwa kucing dan ikan hidup harmonis—selama ikan tidak terlihat.
Kapitalisme Barat vs Kapitalisme “Rasa Rumahan”
Naratif ini juga menyentil ekonomi Barat.
Perusahaan besar seperti BlackRock dan Vanguard Group disebut sebagai bukti
bahwa kapitalisme Barat telah “dikuasai elit”.
Sementara itu, Tiongkok dipuji karena banyak bisnis
keluarga.
Di sini, logika menjadi seperti mie instan: cepat, hangat,
dan sedikit terlalu sederhana.
Ya, benar ada konsentrasi kekayaan di Barat.
Tapi membayangkan ekonomi Tiongkok sebagai pasar tradisional penuh UMKM yang
bebas tanpa campur tangan negara adalah seperti membayangkan panda sebagai
hewan buas—secara teknis mungkin, tapi kenyataannya lebih kompleks.
Apalagi di bawah kepemimpinan Xi Jinping, negara justru
terkenal dengan kontrolnya yang ketat—termasuk terhadap perusahaan besar.
Jadi, jika Barat dibilang terlalu kapitalis, dan Tiongkok
dianggap lebih “kapitalis murni”, mungkin kita perlu bertanya: ini kapitalisme
atau lomba interpretasi?
Teori Konspirasi: Netflix-nya Dunia Nyata
Yang paling menarik dari naratif ini bukan datanya, tapi
dramanya.
Istilah seperti “Jesuit-Zionis” terdengar seperti judul
serial thriller baru:
“Season 1: Vatikan vs Wall Street, Episode 3: Serangan Freemason.”
Masalahnya, dunia nyata jarang sesederhana cerita film.
Kalau benar ada organisasi global super kuat yang mengendalikan segalanya,
kemungkinan besar mereka tidak akan membocorkannya lewat utas Twitter.
Mereka mungkin sibuk rapat.
Tiongkok sebagai Cermin, Bukan Malaikat
Pada akhirnya, naratif ini bukan benar-benar tentang
Tiongkok.
Ini lebih seperti terapi kelompok bagi sebagian masyarakat Barat yang kecewa
pada negaranya sendiri.
Ketika realitas terasa rumit, kita cenderung mencari “tokoh
ideal”—dalam hal ini, Tiongkok dijadikan semacam pahlawan diam yang berhasil
melawan sistem global.
Padahal, jika kita melihat lebih dekat, Tiongkok bukan
malaikat yang turun dari langit geopolitik.
Ia hanya negara besar dengan strategi yang—seperti semua negara—berisi campuran
antara kepentingan, kontrol, dan pragmatisme.
Antara Fakta dan Fantasi
Mungkin pelajaran paling penting dari semua ini adalah:
Dunia ini terlalu kompleks untuk dijelaskan hanya dengan satu teori—apalagi
teori yang bisa selesai dibaca sambil menunggu kopi seduh.
Kebangkitan Tiongkok tidak membutuhkan konspirasi rahasia
untuk dijelaskan.
Kadang, disiplin, kebijakan industri, dan populasi besar sudah cukup—meskipun
itu memang kurang dramatis.
Dan jujur saja, manusia memang punya satu kelemahan
universal:
Kita lebih suka cerita yang menarik daripada kenyataan yang membosankan.
Padahal, dalam geopolitik—seperti dalam hidup—yang
membosankan sering kali justru yang paling benar.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.