Di zaman ketika notifikasi lebih berisik daripada hati nurani, sebuah tweet dari akun misterius @ihtesham2005 tiba-tiba menjadi semacam wahyu digital. Isinya sederhana: seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology secara tidak sengaja memamerkan cara ia menilai tugas mahasiswa lewat Zoom. Namun, seperti semua kejadian “tidak sengaja” di era digital, ini terasa sangat disengaja oleh semesta—seperti takdir yang berkata, “Sudah, akui saja, manusia lelah membaca esai 47 halaman tentang ‘peran kopi dalam eksistensialisme’.”
Dan benar saja, kisah ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini adalah kisah tentang dendam lama para dosen terhadap tumpukan PDF.
Efisiensi Super: Dari Lelah Jadi Lega (Dan Sedikit
Curiga)
Bayangkan hidup seorang dosen sebelum AI: kopi di tangan
kanan, esai di tangan kiri, dan eksistensi di tangan Tuhan. Enam jam membaca
tulisan mahasiswa yang kadang terasa seperti fan fiction dari Wikipedia.
Lalu datanglah sebuah alat dari Google bernama NotebookLM.
Dengan penuh percaya diri, sang profesor mengunggah 47 esai sekaligus, lengkap
dengan rubrik penilaian. Dalam waktu 15 menit, semua selesai.
Lima belas menit.
Waktu yang biasanya dipakai dosen untuk… mencari alasan
menunda grading.
AI ini bukan hanya memberi nilai, tetapi juga:
- Membandingkan
gaya tulisan mahasiswa dengan tugas sebelumnya (alias: “ini kamu atau
ChatGPT yang nulis?”)
- Menemukan
tiga kasus mencurigakan (AI sekarang bukan cuma pintar, tapi juga agak
curiga)
- Memberikan
feedback personal yang bahkan mengingatkan materi kuliah (yang mahasiswa
sendiri mungkin lupa)
AI: Asisten atau Detektif?
Yang menarik, AI tidak sekadar cepat. Ia juga teliti
dengan gaya agak paranoid.
Prompt kedua—yang membandingkan gaya penulisan—adalah fitur
yang membuat AI terasa seperti dosen senior yang sudah makan asam garam
plagiarisme. Ia tidak hanya membaca tulisan, tapi “merasakan aura” tulisan itu.
Kalimat seperti:
“Ini bukan kamu yang nulis.”
Sekarang bukan lagi intuisi dosen, tapi hasil analisis
algoritma.
Demokratisasi Feedback: Semua Mahasiswa Jadi “Anak
Kesayangan”
Dulu, feedback detail dari dosen adalah barang langka.
Biasanya hanya diberikan kepada:
- Mahasiswa
rajin
- Mahasiswa
kritis
- Mahasiswa
yang duduk di barisan depan
Sekarang? Semua dapat.
AI memberikan komentar yang spesifik, personal, bahkan
mengaitkan dengan materi kuliah tertentu. Mahasiswa yang biasanya hanya
menerima komentar “kurang mendalam” kini mendapatkan analisis selevel mentor.
Padahal dosennya lagi nonton YouTube.
Sisi Gelap: Ketika AI Terlalu Rajin Menuduh
Namun, seperti semua cerita modern, ada plot twist.
AI memang pintar, tapi ia juga bisa overthinking.
Privasi: Tugas Kuliah atau Data Latihan?
Masalah lain muncul dari fakta bahwa semua esai diunggah ke
server perusahaan teknologi. Secara tidak langsung, karya mahasiswa menjadi
“tamu” di rumah digital korporasi.
Pertanyaannya:
- Apakah
mahasiswa tahu?
- Apakah
mereka setuju?
- Atau
ini seperti tugas kelompok—semua ikut, tapi tidak ada yang benar-benar
paham?
Di sinilah pendidikan bertemu kapitalisme, dan semuanya menjadi agak canggung.
Hubungan Manusia: Dari Hangat ke Algoritmik
Yang paling menyedihkan mungkin bukan soal teknologi, tapi
soal rasa.
Dulu, dosen membaca esai mahasiswa dengan segala kelelahan,
lalu memberi komentar dengan emosi: kadang jengkel, kadang bangga. Ada hubungan
di sana—hubungan yang lahir dari proses yang sama-sama melelahkan.
Sekarang, mahasiswa menerima feedback yang rapi, sistematis,
dan... dingin.
Seperti pesan dari mantan yang terlalu formal:
“Terima kasih atas kontribusi Anda dalam hubungan ini.”
Dosen, AI, dan Masa Depan yang Agak Lucu
Insiden “kebocoran” ini bukan sekadar cerita teknologi. Ini
adalah potret masa depan pendidikan yang agak absurd, tapi juga masuk akal.
Dosen tidak lagi sekadar pengoreksi tugas. Mereka berubah
menjadi:
- Kurator
pembelajaran
- Supervisor
AI
- Dan
sesekali, manusia yang masih mencoba relevan
Pada akhirnya, ini bukan tentang AI menggantikan manusia.
Ini tentang manusia yang bernegosiasi dengan kemalasannya sendiri—dan akhirnya
menemukan sekutu yang sangat efisien.
Karena di balik semua kecanggihan ini, ada satu kebenaran
universal:
Yang benar-benar ingin diotomatisasi manusia sejak dulu
bukan pekerjaan… tapi rasa capek.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.