Sabtu, 14 Februari 2026

Revolusi Sunyi di Ruang Kelas Maya: Ketika Dosen, AI, dan Deadline Akhirnya Berdamai

Di zaman ketika notifikasi lebih berisik daripada hati nurani, sebuah tweet dari akun misterius @ihtesham2005 tiba-tiba menjadi semacam wahyu digital. Isinya sederhana: seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology secara tidak sengaja memamerkan cara ia menilai tugas mahasiswa lewat Zoom. Namun, seperti semua kejadian “tidak sengaja” di era digital, ini terasa sangat disengaja oleh semesta—seperti takdir yang berkata, “Sudah, akui saja, manusia lelah membaca esai 47 halaman tentang ‘peran kopi dalam eksistensialisme’.”

Dan benar saja, kisah ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini adalah kisah tentang dendam lama para dosen terhadap tumpukan PDF.

Efisiensi Super: Dari Lelah Jadi Lega (Dan Sedikit Curiga)

Bayangkan hidup seorang dosen sebelum AI: kopi di tangan kanan, esai di tangan kiri, dan eksistensi di tangan Tuhan. Enam jam membaca tulisan mahasiswa yang kadang terasa seperti fan fiction dari Wikipedia.

Lalu datanglah sebuah alat dari Google bernama NotebookLM. Dengan penuh percaya diri, sang profesor mengunggah 47 esai sekaligus, lengkap dengan rubrik penilaian. Dalam waktu 15 menit, semua selesai.

Lima belas menit.

Waktu yang biasanya dipakai dosen untuk… mencari alasan menunda grading.

AI ini bukan hanya memberi nilai, tetapi juga:

  • Membandingkan gaya tulisan mahasiswa dengan tugas sebelumnya (alias: “ini kamu atau ChatGPT yang nulis?”)
  • Menemukan tiga kasus mencurigakan (AI sekarang bukan cuma pintar, tapi juga agak curiga)
  • Memberikan feedback personal yang bahkan mengingatkan materi kuliah (yang mahasiswa sendiri mungkin lupa)

Di titik ini, dosen mulai mengalami krisis identitas:
“Kalau semua ini bisa dilakukan AI… saya ini sebenarnya siapa?”

AI: Asisten atau Detektif?

Yang menarik, AI tidak sekadar cepat. Ia juga teliti dengan gaya agak paranoid.

Prompt kedua—yang membandingkan gaya penulisan—adalah fitur yang membuat AI terasa seperti dosen senior yang sudah makan asam garam plagiarisme. Ia tidak hanya membaca tulisan, tapi “merasakan aura” tulisan itu.

Kalimat seperti:

“Ini bukan kamu yang nulis.”

Sekarang bukan lagi intuisi dosen, tapi hasil analisis algoritma.

Mahasiswa pun mulai gelisah. Mereka yang tadinya percaya diri memakai AI untuk menulis tugas, kini harus menghadapi AI lain yang bertugas membongkar penggunaan AI. Sebuah lingkaran takdir yang ironis:
AI melawan AI, manusia jadi penonton.

Demokratisasi Feedback: Semua Mahasiswa Jadi “Anak Kesayangan”

Dulu, feedback detail dari dosen adalah barang langka. Biasanya hanya diberikan kepada:

  1. Mahasiswa rajin
  2. Mahasiswa kritis
  3. Mahasiswa yang duduk di barisan depan

Sekarang? Semua dapat.

AI memberikan komentar yang spesifik, personal, bahkan mengaitkan dengan materi kuliah tertentu. Mahasiswa yang biasanya hanya menerima komentar “kurang mendalam” kini mendapatkan analisis selevel mentor.

Ironisnya, mahasiswa mungkin akan merasa:
“Wah, dosennya perhatian sekali.”

Padahal dosennya lagi nonton YouTube.

Sisi Gelap: Ketika AI Terlalu Rajin Menuduh

Namun, seperti semua cerita modern, ada plot twist.

AI memang pintar, tapi ia juga bisa overthinking.

Bayangkan seorang mahasiswa yang tiba-tiba rajin belajar, menulis lebih baik dari biasanya. AI melihatnya dan berpikir:
“Hmm… mencurigakan.”

Akhirnya, kerja keras disangka kecurangan.
Perkembangan intelektual dianggap glitch.

Mahasiswa pun dihadapkan pada dilema eksistensial:
“Haruskah saya tetap bodoh agar konsisten?”

Privasi: Tugas Kuliah atau Data Latihan?

Masalah lain muncul dari fakta bahwa semua esai diunggah ke server perusahaan teknologi. Secara tidak langsung, karya mahasiswa menjadi “tamu” di rumah digital korporasi.

Pertanyaannya:

  • Apakah mahasiswa tahu?
  • Apakah mereka setuju?
  • Atau ini seperti tugas kelompok—semua ikut, tapi tidak ada yang benar-benar paham?

Di sinilah pendidikan bertemu kapitalisme, dan semuanya menjadi agak canggung.

Hubungan Manusia: Dari Hangat ke Algoritmik

Yang paling menyedihkan mungkin bukan soal teknologi, tapi soal rasa.

Dulu, dosen membaca esai mahasiswa dengan segala kelelahan, lalu memberi komentar dengan emosi: kadang jengkel, kadang bangga. Ada hubungan di sana—hubungan yang lahir dari proses yang sama-sama melelahkan.

Sekarang, mahasiswa menerima feedback yang rapi, sistematis, dan... dingin.

Seperti pesan dari mantan yang terlalu formal:

“Terima kasih atas kontribusi Anda dalam hubungan ini.”

Dosen, AI, dan Masa Depan yang Agak Lucu

Insiden “kebocoran” ini bukan sekadar cerita teknologi. Ini adalah potret masa depan pendidikan yang agak absurd, tapi juga masuk akal.

Dosen tidak lagi sekadar pengoreksi tugas. Mereka berubah menjadi:

  • Kurator pembelajaran
  • Supervisor AI
  • Dan sesekali, manusia yang masih mencoba relevan

Sementara itu, mahasiswa harus belajar satu hal baru:
Bukan hanya menulis esai, tapi juga menulis dengan gaya yang meyakinkan bahwa mereka manusia.

Pada akhirnya, ini bukan tentang AI menggantikan manusia. Ini tentang manusia yang bernegosiasi dengan kemalasannya sendiri—dan akhirnya menemukan sekutu yang sangat efisien.

Karena di balik semua kecanggihan ini, ada satu kebenaran universal:

Yang benar-benar ingin diotomatisasi manusia sejak dulu bukan pekerjaan… tapi rasa capek.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.