Rabu, 11 Februari 2026

Antara IQ, WiFi, dan Tuduhan Global: Sebuah Catatan tentang Generasi Z

Di zaman ketika satu twit bisa lebih cepat menyebar daripada gosip ibu-ibu komplek, muncullah klaim besar: Generasi Z mengalami penurunan IQ pertama dalam sejarah modern. Tidak tanggung-tanggung, mereka disebut lemah dalam fungsi kognitif, dan—agar lebih dramatis—ini semua diduga bagian dari skenario rahasia para “penguasa”.

Kalau membaca klaim itu sambil menyeruput kopi, mungkin kopi kita akan tersedak oleh kesimpulan yang terlalu matang padahal bahan-bahannya masih mentah.

Dari Flynn Effect ke “Efek FOMO”

Mari kita mulai dari istilah yang terdengar seperti nama boyband Skandinavia: Flynn Effect. Selama abad ke-20, skor IQ manusia memang meningkat. Bukan karena nenek moyang kita tiba-tiba berevolusi sambil membaca ensiklopedia, melainkan karena pendidikan membaik, nutrisi meningkat, dan lingkungan kognitif makin kaya.

Kini, beberapa negara menunjukkan gejala stagnasi atau sedikit penurunan skor IQ—yang disebut Reverse Flynn Effect. Tetapi sebagian warganet tampaknya menerjemahkannya sebagai: “Gen Z downgrade, versi trial, bug di otak.”

Padahal para peneliti tidak pernah mengatakan bahwa Gen Z tiba-tiba kehilangan neuron massal. Mereka justru menunjuk faktor lingkungan: cara belajar yang terfragmentasi, kebiasaan membaca yang kalah cepat dengan notifikasi, dan kurikulum yang kadang lebih sibuk mengganti istilah daripada memperbaiki substansi.

Singkatnya, ini soal ekologi kognitif, bukan kiamat intelektual.

IQ: Alat Ukur atau Nostalgia Akademik?

Tes IQ lahir di era ketika informasi langka dan hafalan adalah mahkota kecerdasan. Hari ini, informasi begitu melimpah hingga tantangannya bukan lagi mengingat, melainkan memilah.

Jika Gen Z tidak hafal tanggal Perang Tujuh Tahun tetapi mampu mengedit video, menganalisis tren, dan membuat presentasi visual dalam 10 menit sambil mendengarkan podcast—apakah itu penurunan kecerdasan, atau sekadar pergeseran jenis kecerdasan?

Menilai generasi digital dengan alat ukur analog kadang seperti menilai kualitas streaming Netflix dengan antena televisi jadul. Hasilnya pasti mengecewakan—bagi antenanya.

Akademisi Berkata A, Media Sosial Menulis Z

Nama ilmuwan dikutip. Potongan pernyataan diambil. Lalu dimasukkan ke dalam blender algoritma bersama sedikit bumbu sensasi. Jadilah smoothie konspirasi rasa “engagement”.

Padahal kritik terhadap teknologi umumnya bernuansa: multitasking digital bisa mengganggu fokus jangka panjang; paparan notifikasi dapat mengubah pola perhatian. Itu bukan tuduhan bahwa satu generasi sedang menuju kepunahan intelektual. Itu sekadar peringatan agar kita tidak menjadikan ponsel sebagai organ tubuh tambahan.

Tetapi media sosial menyukai kalimat yang membuat orang marah atau merasa unggul. Dan tidak ada yang lebih efektif daripada membuat generasi tua merasa bijak dengan berkata, “Tuh kan, dulu kita lebih pintar.”

Padahal dulu pun generasi sebelumnya berkata hal yang sama tentang mereka. Siklus ini lebih konsisten daripada pembaruan sistem operasi.

Konspirasi: Jalan Pintas Menuju Kepuasan Emosional

Bagian paling menarik tentu tuduhan bahwa semua ini disengaja oleh “mereka yang berkuasa”. Siapa mereka? Biasanya tidak jelas. Mungkin makhluk bayangan yang punya rapat rutin tiap Selasa malam membahas cara menurunkan skor aritmatika global.

Narasi konspirasi itu menggoda karena sederhana. Dunia terasa lebih mudah dipahami jika ada dalang tunggal. Namun kesederhanaan ini justru mengaburkan persoalan nyata: sistem pendidikan yang belum adaptif, algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian, serta model bisnis digital yang memang menjual fokus kita sebagai komoditas.

Masalah kompleks jarang punya satu tombol rahasia. Biasanya ia lebih mirip kabel kusut di belakang meja kerja: tidak ada konspirasi, hanya akumulasi kebiasaan yang tidak dibereskan.

Gen Z dan Kecerdasan Versi 2.0

Generasi Z tumbuh dengan WiFi sebagai udara kedua. Mereka mungkin tidak sabar membaca 20 halaman tanpa jeda, tetapi mampu memproses informasi visual dengan kecepatan yang membuat generasi sebelumnya pening.

Mereka terbiasa berpindah konteks, memahami meme berlapis makna, dan membaca dinamika sosial digital dengan kepekaan tinggi. Itu bukan kebodohan; itu adaptasi terhadap lanskap baru.

Jika ada tantangan, ia bukan pada kapasitas otak, melainkan pada manajemen perhatian. Dan ini bukan problem eksklusif Gen Z—orang tua mereka pun sering tersesat dalam guliran tanpa akhir yang sama.

Siapa yang Sebenarnya Sedang Diuji?

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah “Apakah Gen Z lebih bodoh?” melainkan “Apakah kita berhasil menciptakan lingkungan belajar yang sehat?”

Karena kecerdasan bukan sekadar angka dalam grafik. Ia adalah hasil interaksi antara manusia dan dunianya. Jika dunia yang kita bangun penuh distraksi, jangan heran jika perhatian menjadi barang langka.

Jadi sebelum menyimpulkan bahwa satu generasi mengalami kemunduran, ada baiknya kita bercermin. Bisa jadi yang sedang diuji bukan IQ mereka, melainkan kebijaksanaan kolektif kita dalam merancang masa depan.

Dan kalau pun ada penurunan, semoga itu hanya pada kesabaran membaca twit panjang—bukan pada kemampuan berpikir panjang.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.