Selama bertahun-tahun, kita memperlakukan tubuh seperti bengkel berjalan. Jantung adalah pompa air, paru-paru adalah kipas angin, otot adalah mesin diesel, dan otak—tentu saja—
adalah manajer yang suka lembur. Semuanya tampak rapi, mekanis, dan bisa dijelaskan dengan diagram warna-warni di buku IPA kelas delapan.
Lalu datanglah fakta yang sedikit menampar harga diri anatomi klasik: ada satu jaringan yang selama ini kita abaikan, padahal diam-diam ia mengatur konser besar bernama “kehidupan”. Namanya fascia.
Ya, fascia. Bukan nama aplikasi fintech, bukan pula varian kopi susu kekinian. Ia adalah jaringan ikat yang menyelimuti dan menyatukan seluruh tubuh kita. Dan ironisnya, dalam pelajaran anatomi zaman dulu, fascia sering dianggap sekadar “bungkus”. Seperti plastik pembungkus remote TV—dibuka, dibuang, lalu lupa.
Padahal, kalau fascia bisa berbicara, mungkin ia sudah lama mengirim somasi kepada dunia medis: “Saya ini bukan kemasan. Saya ini infrastruktur!”
Jaringan yang Tersinggung Tapi Paling Peka
Bayangkan ini: fascia memiliki sekitar 250 juta ujung saraf. Itu lebih banyak daripada kulit dan otot. Artinya, ketika Anda duduk menyender miring sambil main ponsel selama dua jam, yang paling tersinggung bukan hanya tulang belakang Anda—fascia juga ikut merasakannya. Dan ia merasakannya dengan penuh perasaan.
Ketika Anda meregangkan badan pagi-pagi sambil menguap seperti singa yang baru bangun, fascia bersorak kecil. Ketika Anda berjalan tanpa alas kaki di tanah, ia mencatatnya seperti auditor rajin. Fascia adalah CCTV biologis yang tidak pernah tidur.
Kita selama ini menyangka kulitlah yang paling sensitif. Ternyata ada jaringan lain yang lebih sensitif—dan tidak pernah kita ajak diskusi.
Tubuh: Bukan Mesin, Tapi Powerbank Organik
Lebih menarik lagi, fascia disebut sebagai liquid crystal matrix—matriks kristal cair. Kedengarannya seperti bahan dasar layar televisi, dan memang tidak terlalu jauh dari itu. Kolagen dan air terstruktur di dalam fascia membentuk medium yang bisa menghantarkan sinyal.
Dan di sinilah sains mulai terdengar seperti puisi: fascia memiliki sifat piezoelectric. Jika ditekan atau diregangkan, ia menghasilkan muatan listrik.
Artinya, saat Anda bergerak, Anda tidak sekadar membakar energi. Anda memproduksi listrik. Tubuh Anda bukan hanya konsumen kalori, tetapi pembangkit daya mikro yang berjalan.
Setiap peregangan kecil, setiap langkah santai, setiap gerakan yoga yang tampak “pelan tapi dalam”—semuanya seperti colokan ke stopkontak biologis Anda sendiri. Gerakan adalah charger bawaan pabrik.
Tentu, ini bukan berarti Anda bisa berhenti bayar listrik rumah dan menggantinya dengan push-up. Tapi setidaknya, tubuh Anda tidak sepasif yang Anda kira.
Dari Kabel Telepon ke Kulit Genderang
Selama ini kita membayangkan tubuh seperti kabel telepon: satu saraf menghubungkan satu titik ke titik lain. Namun fascia bekerja lebih seperti kulit genderang. Jika satu sisi ditekan, getarannya terasa ke seluruh permukaan.
Itulah sebabnya ketegangan di telapak kaki bisa memengaruhi punggung, dan postur duduk bisa membuat kepala terasa berat. Tubuh bukan kumpulan bagian yang terpisah; ia adalah satu permukaan besar yang saling terhubung.
Jadi ketika Anda berkata, “Entah kenapa pundak saya tegang,” bisa jadi jawabannya bukan karena pundak. Bisa jadi itu efek domino dari sepatu sempit, kursi kantor, atau kebiasaan menyilangkan kaki sambil bergumam soal deadline.
Fascia tidak mengenal konsep “urusan masing-masing”.
Kaum Rebahan dan Krisis Bioelektrik
Implikasinya cukup menggelitik: jika gerakan membantu menjaga denyut bioelektrik tubuh, maka gaya hidup sedentari bukan sekadar membuat otot malas. Ia mungkin juga membuat “baterai hidup” kita redup perlahan.
Rebahan memang nikmat. Tapi bagi fascia, rebahan terlalu lama seperti mematikan lampu di ruang konser. Sunyi. Datar. Tidak ada getaran.
Ini bukan propaganda anti-rebahan. Ini hanya pengingat bahwa tubuh dirancang untuk berdengung. Ia ingin bergerak, meregang, berayun, melangkah. Bahkan gerakan ringan—berjalan santai, peregangan lima menit, atau sekadar berdiri dan menggeliat—sudah cukup membuat jaringan ini kembali “menyala”.
Sains yang Mengajak Berdamai
Tentu, kita perlu waras. Tubuh bukan baterai AA yang bisa diisi sampai 100% lalu ditinggal tidur. Ungkapan “mengisi baterai sel” adalah metafora yang membantu kita memahami proses biofisika yang kompleks. Tapi metafora ini punya kekuatan: ia membuat kita melihat tubuh sebagai sistem hidup yang aktif, bukan mesin pasif yang hanya menunggu bahan bakar.
Fascia mengajarkan satu hal sederhana: kita ini utuh. Pikiran dan tubuh bukan dua departemen yang sering salah paham. Setiap gerakan kecil adalah dialog. Setiap tarikan napas adalah percakapan listrik yang halus.
Jadi lain kali Anda bangun pagi dan meregangkan badan, jangan anggap itu sekadar kebiasaan refleks. Mungkin itu adalah tubuh Anda yang sedang menekan tombol “on” pada jaringan listrik internalnya.
Dan mungkin, di suatu sudut mikroskopis yang tidak pernah kita lihat, fascia tersenyum tipis sambil berkata, “Akhirnya kamu bergerak juga.”
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.