Minggu, 15 Februari 2026

Ikhlas, Sanad, dan Karamah

Di tengah dunia yang serba cepat—di mana kopi harus instan, pesan harus dibalas cepat, dan doa pun kadang diharapkan same-day delivery—episode ke-39 “Kisah Sang Kiai” muncul seperti Wi-Fi gratis di tengah hutan. Ia tidak menawarkan kecepatan, tetapi kedalaman. Tidak menjanjikan hasil, tapi mengajarkan proses. Dan yang paling penting, ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukanlah aplikasi yang bisa di-install, tapi jalan panjang yang kadang lebih mirip antrean BPJS daripada jalan tol.

Ikhlas: Olahraga Hati Tanpa Garis Finish

Kita sering mengira ikhlas itu seperti checklist: niat ✔️, amal ✔️, selesai. Padahal menurut kisah ini, ikhlas itu bukan checklist, tapi treadmill—Anda lari di tempat, capek, tapi tetap harus lanjut. Bedanya, treadmill ini tidak punya tombol “off”.

Konsep ini sejalan dengan wejangan para ulama besar seperti Abdul Qadir al-Jailani yang mengingatkan bahwa istikamah lebih utama daripada seribu karamah. Artinya, daripada sibuk berharap bisa jalan di atas air, mending fokus dulu bisa jalan lurus ke masjid lima waktu.

Di sini, ikhlas tidak diukur dari “feeling tenang” atau “doa langsung dikabulkan”. Kalau itu indikatornya, kita semua pasti sudah resign dari dunia keikhlasan sejak lama. Ikhlas justru terlihat dari hal yang membosankan: konsistensi. Datang shalat tepat waktu, walau tidak ada yang lihat. Bersedekah tanpa perlu update status. Dan yang paling berat: berbuat baik tanpa berharap di-notice.

Ikhlas itu seperti Wi-Fi—tidak kelihatan, tapi kalau tidak ada, semua sistem error.

Sanad: Jangan Belajar Spiritual dari Grup WhatsApp

Di era sekarang, belajar agama kadang lebih mirip scroll TikTok: satu menit belajar tasawuf, dua menit kemudian sudah pindah ke tutorial masak mie instan level sufi.

“Kisah Sang Kiai” mengingatkan satu hal penting: sanad. Ilmu itu harus nyambung. Jangan sampai kita belajar spiritualitas dari “kata teman”, yang katanya lagi dapat dari “kata temannya lagi”, yang ujung-ujungnya sumbernya adalah “katanya”.

Sanad itu ibarat paralon yang tersambung ke sumur Rasulullah, yaitu Muhammad. Kalau sambungannya benar, airnya jernih. Kalau tidak, ya siap-siap minum air got dengan label “hikmah”.

Tanpa sanad, amalan itu seperti pompa air tanpa air: bunyi “ngiiiing…” keras, tapi yang keluar cuma angin. Lebih parah lagi, tanpa bimbingan guru, orang bisa nyasar—bukannya mendekat ke Tuhan, malah sibuk negosiasi dengan “makhluk lain” yang tidak masuk kurikulum tauhid.

Dan di sinilah pentingnya guru. Bukan untuk disembah, tapi untuk memastikan kita tidak salah arah. Karena di jalan spiritual, GPS tidak tersedia—yang ada hanya “ikuti yang sudah sampai”.

Karamah: Bonus, Bukan Paket Utama

Bagian paling menarik (dan paling rawan disalahpahami) adalah soal karamah.  Manusia sering mengejar karamah seperti mengejar promo diskon, padahal itu cuma bonus item. Yang utama itu tetap ikhlas dan istikamah.

Bayangkan seseorang datang ke gym hanya untuk foto di depan kaca, tanpa pernah angkat beban. Karamah tanpa ikhlas ya seperti itu—gaya ada, isi nihil.

Spiritualitas vs Realitas: Antara Pabrik dan Langit

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah latarnya: kehidupan pekerja migran di Arab Saudi. Bukan di gunung sunyi, bukan di pesantren terpencil, tapi di pabrik. Tempat di mana suara mesin lebih sering terdengar daripada suara hati.

Di tengah rutinitas yang monoton, sang kiai tetap menjaga ibadah. Bahkan menolak “gaji buta”—sebuah sikap yang di zaman sekarang bisa dianggap “kurang update”.

Padahal di dunia modern, ukuran sukses seringkali sederhana: “yang penting cuan”. Tapi kisah ini menawarkan perspektif lain: “yang penting berkah”.

Konsep asbab dan tajrid juga muncul dengan indah. Kita tetap harus kerja (karena listrik tidak bisa dibayar pakai zikir saja), tapi hati tidak boleh bergantung pada gaji. Kalau gaji naik, jangan sombong. Kalau turun, jangan panik. Karena yang memberi rezeki bukan HRD, tapi Allah.

Ini semacam mindfulness versi langit: kerja di bumi, hati di atas.

Jangan Jadi "Hamba Instan"

Akhirnya, “Kisah Sang Kiai” ini seperti tamparan halus bagi kita yang ingin semuanya cepat: cepat kaya, cepat sukses, bahkan cepat “dekat dengan Tuhan”.

Padahal jalan spiritual itu bukan jalan pintas, tapi jalan napas—pelan, berulang, dan harus dijalani terus.

Ikhlas itu proses tanpa ujung.
Sanad itu peta agar tidak tersesat.
Karamah itu bonus, bukan tujuan.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari kisah ini adalah:
kalau Anda mulai dianggap “orang sakti”, segera cek lagi—jangan-jangan Anda cuma viral, bukan spiritual.

Karena pada akhirnya, menjadi hamba itu bukan soal terlihat luar biasa, tapi tetap setia dalam hal-hal biasa.

Dan di dunia yang penuh pencitraan ini, istiqamah diam-diam mungkin justru karamah yang paling langka.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.