Kamis, 12 Februari 2026

Dari Pekerja Menjadi Konduktor: Ketika Kita Naik Jabatan Tanpa Tahu Main Alat Musik

Bayangkan Anda bangun pagi, membuka laptop, dan tiba-tiba sadar: pekerjaan Anda sudah bisa dikerjakan oleh sesuatu yang tidak pernah minta cuti, tidak pernah mengeluh soal lembur, dan tidak pernah minta THR.

Namanya AI.

Sebuah twit dari akun VraserX e/acc yang menanggapi visi Sam Altman menyatakan bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, manusia tidak lagi “bekerja” dalam arti tradisional. Kita tidak lagi melakukan, kita mengarahkan. Kita tidak lagi mengetik laporan, kita menyuruh AI mengetik. Kita tidak lagi menulis kode, kita menyuruh AI menulis kode. Singkatnya, kita naik jabatan massal: dari pekerja menjadi konduktor.

Masalahnya, sebagian besar dari kita bahkan belum pernah pegang baton.

Manusia Naik Kelas (Mendadak)

Selama ini, karier itu seperti naik tangga. Mulai dari staf, lalu senior, lalu supervisor, lalu manajer. Kita belajar dari bawah: salah ketik, salah rumus, salah kirim email, lalu dimarahi atasan. Itulah pendidikan karakter dunia kerja.

Sekarang? AI bisa mengerjakan laporan dalam 7 detik. Bahkan sebelum Anda sempat membuka Excel dan menghela napas panjang.

Visi barunya sederhana: manusia harus “naik kelas.” Bukan lagi menjadi pemain biola, tapi konduktor orkestra. Kita cukup berdiri gagah di depan layar, memberi instruksi, dan berkata dengan penuh wibawa:

“AI, buatkan strategi pemasaran yang disruptif, humanis, dan scalable.”

Lalu AI bekerja.

Kita? Mengangguk-angguk seolah mengerti.

Paradoks Junior: Kalau Semua Sudah Jadi Manajer, Siapa yang Jadi Korban Magang?

Di masa lalu, kita jadi manajer karena pernah jadi staf. Kita tahu bagaimana rasanya begadang menyusun laporan. Kita tahu Excel bisa bikin trauma.

Tapi kalau semua tugas teknis dikerjakan AI, pertanyaannya sederhana:

Bagaimana cara jadi manajer kalau belum pernah jadi staf?

Ini seperti tiba-tiba ditunjuk menjadi pelatih tim nasional, padahal Anda belum pernah main sepak bola—kecuali di PlayStation.

Generasi masa depan mungkin tidak lagi magang dengan cara “kerjakan ini.” Mereka akan magang dengan cara:

“Coba evaluasi apakah hasil AI ini masuk akal.”

Mereka bukan lagi pembuat karya. Mereka jadi pengkritik mesin.

Ironisnya, kita mungkin akan punya generasi pemimpin yang sangat mahir memberi perintah, tetapi panik saat Wi-Fi mati.

Demokrasi Produktivitas: Satu Orang, Seratus AI, Seribu Deadline

Konsep leverage di era AI terdengar seperti dongeng motivasi LinkedIn.

Satu orang + 100 agen AI = produktivitas setara satu divisi.

Artinya, startup masa depan mungkin hanya terdiri dari tiga orang dan satu teko kopi. Selebihnya? Agen AI yang bekerja tanpa henti.

Dari sisi optimisme, ini indah. Siapa pun bisa membangun sesuatu besar tanpa harus merekrut satu gedung penuh karyawan.

Dari sisi realistis, ini agak menyeramkan.

Kalau satu orang bisa menggantikan seratus orang, maka pertanyaan paling sensitif muncul:

Lalu seratus orang itu ke mana?

Jawabannya mungkin: menjadi konduktor juga.

Dan kita akan punya dunia penuh konduktor, berdiri gagah, tapi tanpa orkestra manusia.

De-skilling: Ketika Otak Kita Pensiun Dini

Ada satu risiko yang jarang dibicarakan dengan nada santai: de-skilling.

Jika AI selalu menyelesaikan masalah kita, lama-lama kita lupa cara menyelesaikan masalah sendiri. Sama seperti GPS yang membuat kita lupa arah pulang, AI bisa membuat kita lupa cara berpikir dari nol.

Bayangkan suatu hari AI down.

Tiba-tiba seluruh kantor terdiam.

Orang-orang menatap layar kosong seperti menunggu wahyu turun. Ada yang mencoba mengetik manual, tapi jari-jarinya gemetar.

“Dulu… saya pernah menulis laporan sendiri,” bisik seseorang dengan mata berkaca-kaca.

AI membuat kita efisien. Tapi juga berpotensi membuat kita manja.

Dan manusia manja adalah spesies yang mudah panik.

Akuntabilitas: Kalau Salah, Salahkan Siapa?

Ini pertanyaan klasik masa depan:

Kalau AI salah, siapa yang bertanggung jawab?

Manusia bilang, “Itu rekomendasi AI.”
AI tentu tidak bisa dipanggil ke ruang HRD.

Pada akhirnya, manusia tetap yang menandatangani. Tetap yang menerima konsekuensi.

Artinya, walaupun kita “naik kelas” menjadi pengarah, tanggung jawabnya tidak ikut otomatis dipindahkan ke server.

Naik jabatan, naik risiko.

Selamat.

Antara Optimisme dan Realita

Kaum e/acc percaya bahwa percepatan teknologi adalah kebaikan. Bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan lebih banyak teknologi.

Sejarah memang menunjukkan teknologi selalu menang.

Tetapi sejarah juga menunjukkan: setiap revolusi punya korban.

Revolusi Industri mengganti tukang tenun.
Revolusi digital mengganti tukang cetak.
Revolusi AI… mungkin mengganti kita yang sedang membaca ini.

Namun seperti biasa, manusia adaptif. Kita selalu menemukan cara baru untuk merasa relevan.

Dulu kita bangga karena cepat mengetik.
Sekarang kita bangga karena pintar memberi prompt.

Dulu kita hafal rumus.
Sekarang kita hafal cara bertanya.

Berhenti Menjadi Alat, Mulai Menggunakan Alat

Pesan paling waras dari semua ini sebenarnya sederhana:

Jangan terlalu melekat pada satu keterampilan teknis. Karena kemungkinan besar, dalam dua tahun, itu sudah bisa dilakukan AI dengan lebih cepat dan tanpa drama.

Yang perlu diasah adalah hal-hal yang lebih sulit digantikan:

  • cara berpikir,

  • cara merumuskan masalah,

  • cara mengambil keputusan etis,

  • dan kemampuan berkata, “Ini salah,” meski AI bilang benar.

Mungkin memang masa depan bukan tentang manusia melawan mesin.

Mungkin ini tentang manusia akhirnya berhenti jadi mesin.

Karena selama era industri, kita dipaksa bekerja seperti robot.
Sekarang robot sungguhan sudah datang.

Dan kita punya kesempatan langka:
untuk kembali jadi manusia.

Walau, tentu saja, dengan bantuan AI yang menyusun jadwal kita.

Ironis?
Sedikit.

Tak terhindarkan?
Sepertinya.

Tapi setidaknya, kalau kita benar-benar menjadi konduktor, mari belajar mendengar musiknya dulu—sebelum dengan percaya diri mengayunkan baton ke udara dan berkata:

“AI, mulai.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.