Minggu, 15 Februari 2026

Keheningan: Investasi Dua Jam untuk Otak yang Lelah Jadi Grup WhatsApp

Di zaman ketika ponsel lebih cerewet daripada tetangga komplek, hidup kita tak ubahnya grup WhatsApp keluarga: ramai, berisik, dan penuh pesan yang sebenarnya tidak kita minta. Notifikasi berdenting seperti azan versi kapitalisme digital—memanggil kita bukan ke masjid, tapi ke timeline. Di tengah kebisingan ini, sebuah tweet dari akun sains populer NextScience muncul seperti suara ibu yang tiba-tiba berkata, “Sudah, matikan HP-nya dulu.”

Pesannya sederhana namun mengguncang: dua jam keheningan setiap hari bisa membantu otak menumbuhkan sel baru. Dua jam! Sebuah durasi yang bagi manusia modern terasa lebih mustahil daripada diet tanpa gorengan.

Otak Kita Bukan Mesin Kopi, Tapi Lebih Mirip Warung yang Tak Pernah Tutup

Selama ini kita memperlakukan otak seperti mesin kopi: harus terus dipanaskan, dipakai, dan diisi ulang dengan informasi. Kalau tidak scrolling, ya nonton. Kalau tidak nonton, ya denger podcast. Pokoknya otak harus sibuk, karena kalau diam sedikit saja, kita takut tiba-tiba mikir tentang masa depan.

Namun menurut studi ilmiah yang dikutip dalam tweet tersebut—penelitian oleh Imke Kirste—keheningan justru memicu neurogenesis, yaitu kelahiran sel-sel otak baru, khususnya di hippocampus. Ini bagian otak yang bertanggung jawab atas memori dan navigasi—dua hal yang ironisnya sering kita serahkan ke Google Maps dan “ingatan kolektif Twitter”.

Dalam penelitian itu, tikus yang diberi dua jam keheningan per hari ternyata mengalami pertumbuhan neuron baru yang lebih signifikan dibanding tikus yang mendengarkan musik atau noise. Artinya, bagi otak, keheningan bukanlah “mati gaya”, melainkan “mode upgrade”.

Kalau otak kita bisa bicara, mungkin dia akan bilang:
"Bro, aku bukan butuh podcast motivasi. Aku butuh diem."

Masalahnya: Kita Lebih Takut Hening daripada Kehabisan Kuota

Keheningan bagi manusia modern bukan lagi hal alami, tapi kondisi yang mencurigakan. Saat suasana tiba-tiba sepi, kita refleks:
“Kenapa ya? Internet mati?”

Padahal, justru di situlah otak mulai bekerja dengan cara yang lebih dalam. Tanpa gangguan, ia mulai merapikan “file-file kehidupan” yang selama ini tercecer: kenangan, ide, bahkan trauma yang kita sembunyikan di folder “nanti saja”.

Namun, seperti biasa, sains populer punya kebiasaan sedikit lebay. Klaim bahwa keheningan bisa “membentuk ulang otak” terdengar seperti iklan skincare: “Pakai ini, wajah langsung glowing!” Padahal kenyataannya lebih kompleks. Studi tersebut dilakukan pada tikus, bukan manusia yang tiap lima menit cek notifikasi.

Selain itu, “keheningan” dalam eksperimen adalah kondisi hampir tanpa suara sama sekali—semacam ruang hampa bunyi. Bukan “hening” versi kita yang masih ditemani suara motor lewat, ayam tetangga, dan status WA yang diam-diam kita cek.

Jadi, kalau setelah dua jam diam Anda tidak langsung jadi jenius, tenang. Itu bukan berarti sains salah. Mungkin Anda cuma masih hidup di Indonesia.

Keheningan: Barang Mewah yang Gratis Tapi Susah Didapat

Di era digital, keheningan adalah kemewahan yang ironis: gratis, tapi sulit dimiliki. Kita rela bayar mahal untuk liburan ke pegunungan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan satu tombol: airplane mode.

Masalahnya, menekan tombol itu terasa seperti tindakan revolusioner. Kita bukan hanya mematikan sinyal, tapi juga mematikan akses ke validasi sosial, berita terbaru, dan—yang paling penting—gosip.

Padahal, dari sudut pandang kesehatan mental, keheningan itu seperti “puasa bagi otak”. Ia memberi jeda, membersihkan, dan mengembalikan keseimbangan. Praktik seperti meditasi atau mindfulness pada dasarnya adalah upaya sadar untuk menciptakan ruang sunyi di tengah dunia yang ribut.

Tanpa keheningan, otak kita seperti browser dengan 100 tab terbuka—lambat, panas, dan sewaktu-waktu bisa crash.

Dua Jam Hening: Antara Idealisme dan Realita

Sekarang pertanyaannya: apakah kita benar-benar bisa hening dua jam sehari?

Bagi sebagian orang, dua jam hening itu terdengar seperti hukuman.
“Dua jam tanpa HP? Saya mau disuruh lari 10 km saja deh.”

Namun mungkin kita tidak perlu langsung ekstrem. Keheningan bisa dimulai dari hal kecil: 10 menit tanpa layar, berjalan tanpa musik, atau duduk tanpa melakukan apa-apa—yang bagi generasi sekarang sudah termasuk aktivitas ekstrem.

Karena sejatinya, keheningan bukan tentang tidak melakukan apa-apa, tapi memberi ruang bagi sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan: kesadaran.

Diam Itu Bukan Kosong, Tapi Penuh yang Belum Kita Dengarkan

Tweet dari NextScience mungkin hanyalah satu dari sekian banyak konten yang lewat di timeline kita. Tapi ironisnya, pesan tentang keheningan itu sendiri harus bersaing dengan ribuan suara lain.

Namun jika kita berani mencobanya—mematikan sejenak dunia luar—kita mungkin akan menemukan sesuatu yang selama ini hilang: ruang untuk berpikir, merasakan, dan menjadi manusia yang tidak sekadar bereaksi terhadap notifikasi.

Di dunia yang terus berteriak, keheningan adalah bentuk perlawanan.
Dan mungkin, juga bentuk ibadah kecil yang selama ini kita abaikan.

Jadi, sebelum Anda membuka aplikasi berikutnya, mungkin ada baiknya bertanya:
Sudahkah hari ini saya memberi otak saya kesempatan untuk diam, atau setidaknya, tidak disuruh ikut rapat tanpa agenda?
abah-arul.blogspot.com.,Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.