Di zaman ketika ponsel lebih cerewet daripada tetangga komplek, hidup kita tak ubahnya grup WhatsApp keluarga: ramai, berisik, dan penuh pesan yang sebenarnya tidak kita minta. Notifikasi berdenting seperti azan versi kapitalisme digital—memanggil kita bukan ke masjid, tapi ke timeline. Di tengah kebisingan ini, sebuah tweet dari akun sains populer NextScience muncul seperti suara ibu yang tiba-tiba berkata, “Sudah, matikan HP-nya dulu.”
Pesannya sederhana namun mengguncang: dua jam keheningan
setiap hari bisa membantu otak menumbuhkan sel baru. Dua jam! Sebuah durasi
yang bagi manusia modern terasa lebih mustahil daripada diet tanpa gorengan.
Otak Kita Bukan Mesin Kopi, Tapi Lebih Mirip Warung yang
Tak Pernah Tutup
Selama ini kita memperlakukan otak seperti mesin kopi: harus
terus dipanaskan, dipakai, dan diisi ulang dengan informasi. Kalau tidak
scrolling, ya nonton. Kalau tidak nonton, ya denger podcast. Pokoknya otak
harus sibuk, karena kalau diam sedikit saja, kita takut tiba-tiba mikir tentang
masa depan.
Namun menurut studi ilmiah yang dikutip dalam tweet
tersebut—penelitian oleh Imke Kirste—keheningan justru memicu neurogenesis,
yaitu kelahiran sel-sel otak baru, khususnya di hippocampus. Ini bagian otak
yang bertanggung jawab atas memori dan navigasi—dua hal yang ironisnya sering
kita serahkan ke Google Maps dan “ingatan kolektif Twitter”.
Dalam penelitian itu, tikus yang diberi dua jam keheningan
per hari ternyata mengalami pertumbuhan neuron baru yang lebih signifikan
dibanding tikus yang mendengarkan musik atau noise. Artinya, bagi otak,
keheningan bukanlah “mati gaya”, melainkan “mode upgrade”.
Masalahnya: Kita Lebih Takut Hening daripada Kehabisan
Kuota
Padahal, justru di situlah otak mulai bekerja dengan cara
yang lebih dalam. Tanpa gangguan, ia mulai merapikan “file-file kehidupan” yang
selama ini tercecer: kenangan, ide, bahkan trauma yang kita sembunyikan di
folder “nanti saja”.
Namun, seperti biasa, sains populer punya kebiasaan sedikit
lebay. Klaim bahwa keheningan bisa “membentuk ulang otak” terdengar seperti
iklan skincare: “Pakai ini, wajah langsung glowing!” Padahal
kenyataannya lebih kompleks. Studi tersebut dilakukan pada tikus, bukan manusia
yang tiap lima menit cek notifikasi.
Selain itu, “keheningan” dalam eksperimen adalah kondisi
hampir tanpa suara sama sekali—semacam ruang hampa bunyi. Bukan “hening” versi
kita yang masih ditemani suara motor lewat, ayam tetangga, dan status WA yang
diam-diam kita cek.
Jadi, kalau setelah dua jam diam Anda tidak langsung jadi
jenius, tenang. Itu bukan berarti sains salah. Mungkin Anda cuma masih hidup di
Indonesia.
Keheningan: Barang Mewah yang Gratis Tapi Susah Didapat
Di era digital, keheningan adalah kemewahan yang ironis:
gratis, tapi sulit dimiliki. Kita rela bayar mahal untuk liburan ke pegunungan
hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan satu
tombol: airplane mode.
Masalahnya, menekan tombol itu terasa seperti tindakan
revolusioner. Kita bukan hanya mematikan sinyal, tapi juga mematikan akses ke
validasi sosial, berita terbaru, dan—yang paling penting—gosip.
Padahal, dari sudut pandang kesehatan mental, keheningan itu
seperti “puasa bagi otak”. Ia memberi jeda, membersihkan, dan mengembalikan
keseimbangan. Praktik seperti meditasi atau mindfulness pada dasarnya adalah
upaya sadar untuk menciptakan ruang sunyi di tengah dunia yang ribut.
Tanpa keheningan, otak kita seperti browser dengan 100 tab
terbuka—lambat, panas, dan sewaktu-waktu bisa crash.
Dua Jam Hening: Antara Idealisme dan Realita
Sekarang pertanyaannya: apakah kita benar-benar bisa hening
dua jam sehari?
Namun mungkin kita tidak perlu langsung ekstrem. Keheningan
bisa dimulai dari hal kecil: 10 menit tanpa layar, berjalan tanpa musik, atau
duduk tanpa melakukan apa-apa—yang bagi generasi sekarang sudah termasuk
aktivitas ekstrem.
Karena sejatinya, keheningan bukan tentang tidak melakukan
apa-apa, tapi memberi ruang bagi sesuatu yang selama ini tertutup oleh
kebisingan: kesadaran.
Diam Itu Bukan Kosong, Tapi Penuh yang Belum
Kita Dengarkan
Tweet dari NextScience mungkin hanyalah satu dari
sekian banyak konten yang lewat di timeline kita. Tapi ironisnya, pesan tentang
keheningan itu sendiri harus bersaing dengan ribuan suara lain.
Namun jika kita berani mencobanya—mematikan sejenak dunia
luar—kita mungkin akan menemukan sesuatu yang selama ini hilang: ruang untuk
berpikir, merasakan, dan menjadi manusia yang tidak sekadar bereaksi terhadap
notifikasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.