Jumat, 13 Februari 2026

Ketika Otak Ikut Low Battery: Kisah Tragis Generasi Z di Era Layar Sentuh

Dahulu kala—sekitar dua abad yang lalu—manusia mengalami sebuah kemajuan yang begitu konsisten hingga terdengar seperti program loyalitas supermarket: setiap sepuluh tahun, IQ naik tiga poin. Fenomena ini dikenal sebagai Flynn Effect, sebuah kabar baik yang membuat manusia merasa dirinya semakin pintar tanpa harus terlihat seperti sedang berpikir.

Namun, sejarah memiliki selera humor yang aneh.

Memasuki tahun 2026, tiba-tiba grafik kecerdasan manusia tidak lagi menanjak, melainkan seperti sinyal Wi-Fi di desa terpencil: putus-putus, lalu turun drastis. Dalam sebuah sidang resmi di U.S. Senate Committee on Commerce, Science, and Transportation, seorang neurosaintis bernama Jared Cooney Horvath menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan—Generasi Z, generasi yang paling melek teknologi, justru mengalami penurunan kemampuan kognitif.

Singkatnya, semakin pintar gadget-nya, semakin bingung penggunanya.

Sekolah Makin Lama, Pikiran Makin Singkat

Ada paradoks menarik di sini. Generasi Z adalah generasi yang paling lama duduk di bangku sekolah. Mereka menghabiskan bertahun-tahun belajar, mengerjakan tugas, dan tentu saja—menyalakan layar.

Namun, hasilnya justru seperti ini: perhatian menurun, memori melemah, kemampuan membaca mendalam menghilang, dan matematika terasa seperti bahasa alien.

Ini seperti seseorang yang pergi ke gym setiap hari, tetapi yang dilatih justru jari untuk scrolling, bukan otot untuk berpikir.

Data internasional seperti PISA dan TIMSS bahkan menunjukkan pola yang sama di berbagai negara maju. Negara-negara yang dulu terkenal dengan sistem pendidikan unggul kini menghadapi kenyataan pahit: siswa mereka semakin sulit fokus lebih dari durasi satu video pendek.

Bahkan, ada dugaan bahwa jika Isaac Newton lahir di era sekarang, ia mungkin akan menemukan gravitasi… lalu langsung membuka notifikasi.

EdTech: Dari Solusi Menjadi Distraksi

Masalahnya bukan pada niat. Dunia pendidikan benar-benar ingin maju. Maka lahirlah EdTech—teknologi pendidikan yang menjanjikan revolusi belajar.

Laptop masuk kelas. Tablet dibagikan. Semua siswa punya perangkat sendiri. Belajar jadi modern, interaktif, dan… penuh godaan.

Masalahnya, otak manusia belum mendapat pembaruan sistem operasi sejak zaman batu. Ia dirancang untuk fokus, berpikir dalam, dan memahami sesuatu secara perlahan. Sementara teknologi digital justru dirancang untuk membuat kita tidak bisa diam.

Setiap aplikasi adalah kompetisi perhatian. Setiap notifikasi adalah gangguan kecil yang berkata, “Eh, lihat sini dulu.”

Akibatnya, cara belajar berubah. Dari membaca menjadi melihat sekilas. Dari memahami menjadi mengingat cepat—lalu lupa lebih cepat lagi.

Multitasking menjadi kebanggaan, padahal sebenarnya itu hanyalah seni berpindah-pindah kebingungan dengan cepat.

Masa Depan: Antara Inovasi dan Notifikasi

Jika tren ini berlanjut, masa depan mungkin akan diisi oleh generasi yang sangat cepat membuka aplikasi, tetapi sangat lambat memahami masalah.

Kita mungkin akan memiliki banyak orang yang bisa menjelaskan teori kompleks dalam 30 detik, tetapi tidak mampu memikirkannya selama 30 menit.

Dalam dunia seperti itu, kebenaran bukan lagi ditentukan oleh logika, tetapi oleh siapa yang paling cepat viral.

Dan jika kemampuan berpikir kritis melemah, masyarakat akan menjadi lebih mudah dipengaruhi. Bukan oleh fakta, tetapi oleh emosi. Bukan oleh argumen, tetapi oleh algoritma.

Harapan: Mematikan Layar, Menghidupkan Pikiran

Namun, tidak semua kabar buruk harus berakhir tragis. Karena masalah ini bukan genetik, maka ia bisa diperbaiki.

Beberapa negara mulai melakukan langkah sederhana namun radikal: mengurangi layar di sekolah. Hasilnya? Fokus mulai kembali. Diskusi menjadi hidup. Dan yang paling mengejutkan—siswa mulai benar-benar berpikir.

Ternyata, solusi revolusioner itu sederhana: kadang kita hanya perlu… mematikan Wi-Fi.

Upgrade yang Salah Arah

Kita telah melakukan eksperimen besar terhadap generasi muda—memberikan teknologi canggih dengan harapan mereka menjadi lebih pintar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: kita meng-upgrade perangkat, tetapi lupa meng-upgrade cara berpikir.

Mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa tidak semua yang bersinar itu layar, dan tidak semua yang cepat itu cerdas.

Karena pada akhirnya, otak manusia bukanlah aplikasi.

Ia tidak bisa di-install.

Ia hanya bisa dilatih—dan, sayangnya, tidak ada tombol “skip thinking”.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.