Pernikahan sering kita bayangkan seperti ending film romantis: musik mengalun, kamera slow motion, lalu muncul tulisan sakral, “dan mereka hidup bahagia selamanya.” Padahal, kalau pernikahan itu aplikasi, justru setelah akad, kita baru klik tombol “install update (size: besar sekali, tanpa Wi-Fi)”. Dan seperti semua update, dia datang tanpa bisa ditolak—kadang juga tanpa kita baca “terms and conditions.”
Menurut sains (yang seringkali lebih jujur daripada
janji-janji saat lamaran), pernikahan bukan sekadar perubahan status dari
“single” menjadi “sudah tidak bisa sembarangan keluar malam.” Ia adalah semacam
laboratorium psikologis tempat dua manusia diuji—bukan dengan soal pilihan
ganda, tapi dengan pertanyaan terbuka seperti: “Kenapa handuk basah ditaruh di
kasur?”
Sebuah studi yang dilaporkan oleh akun @NextScience
menunjukkan bahwa dalam dua tahun pertama, pernikahan benar-benar mengubah
kepribadian kita. Bukan sekadar “aku sekarang lebih dewasa,” tapi lebih ke “aku
sekarang tahu bahwa hidup ini penuh kompromi, termasuk soal arah gulungan
tisu.”
Dari Pangeran Santai Menjadi Manager Logistik
Mari kita mulai dari para pria. Sebelum menikah, banyak pria
hidup dalam filosofi “yang penting hidup.” Jam tidur fleksibel, makan bisa
instan, dan baju—kalau masih bisa dibedakan antara depan dan belakang—itu sudah
prestasi.
Namun, setelah menikah, tiba-tiba muncul kemampuan baru: conscientiousness.
Ini istilah ilmiah untuk kondisi langka di mana seorang pria mulai tahu:
- kapan
bayar listrik
- di
mana menyimpan dokumen penting
- dan
bahwa “nanti” bukanlah satuan waktu yang valid
Dulu, bangun pagi itu pilihan. Sekarang, bangun pagi adalah
takdir. Bahkan alarm pun kalah efektif dibanding satu kalimat sakti: “Mas,
tolong beliin gas sekarang.”
Pernikahan, rupanya, mengubah pria dari “makhluk
improvisasi” menjadi “manusia checklist.” Dari yang dulu hidup dengan semboyan flow
aja, kini berubah menjadi flow tapi terjadwal.
Dari Drama Korea Menjadi Zen Master
Di sisi lain, para wanita mengalami perubahan yang tidak
kalah menarik. Secara ilmiah disebut penurunan neuroticism—dalam bahasa
sehari-hari: lebih tenang, lebih stabil, dan tidak lagi menangis hanya karena
sinetron jam 7.
Namun, jangan salah. Ini bukan berarti emosi hilang. Ini
berarti emosi sudah naik level. Kalau dulu marahnya langsung terlihat, sekarang
lebih halus, lebih sunyi, dan—yang paling menakutkan—lebih bermakna.
Kalimat seperti, “terserah,” misalnya, kini memiliki 17
makna berbeda tergantung intonasi dan situasi. Ini bukan sekadar komunikasi,
ini sudah masuk ranah filsafat eksistensial.
Pernikahan, tampaknya, membuat seseorang belajar bahwa tidak
semua hal perlu direspon dengan emosi. Kadang cukup dengan diam… yang justru
lebih berbahaya.
Memudarnya “Topeng Pacaran”
Nah, ini bagian paling jujur dari penelitian tersebut:
setelah menikah, tingkat agreeableness menurun. Dalam bahasa yang lebih
manusiawi: kita jadi lebih sering tidak setuju.
Dulu, saat pacaran:
- “Kamu suka makan di mana?”“Terserah kamu, aku ikut.”
Sekarang:
- “Makan di mana?”“Yang kemarin aja.”“Bosen.”“Ya sudah kamu pilih.”“Terserah.”(hening 10 menit, penuh makna)
Ini bukan berarti cinta berkurang. Ini berarti topeng
pacaran mulai dilepas. Dulu kita adalah versi best behavior. Sekarang
kita adalah versi asli, termasuk bug-nya.
Dan di sinilah seni pernikahan dimulai: menerima bahwa
pasangan kita bukan hanya “versi highlight,” tapi juga “versi unedited.”
Dunia Mengecil, Drama Membesar
Penelitian juga menunjukkan bahwa setelah menikah, tingkat extraversion
dan openness cenderung menurun. Artinya, kita jadi lebih jarang keluar,
lebih sedikit mencoba hal baru, dan lebih sering berkutat di rumah.
Dulu, akhir pekan berarti petualangan. Sekarang, akhir pekan
berarti:
- belanja
bulanan
- bersih-bersih
rumah
- dan
debat ringan soal siapa yang lupa beli sabun
Lingkaran sosial pun menyusut. Bukan karena tidak punya
teman, tapi karena energi sudah habis untuk diskusi internal rumah tangga yang
tidak ada habisnya.
Namun anehnya, di dalam “dunia kecil” ini, justru kita
menemukan kompleksitas terbesar. Ternyata, memahami satu orang saja sudah
seperti memahami seluruh alam semesta.
Rahasia Bertahan: Rem dan Tombol Reset
Jika pernikahan memang pasti mengubah kita, lalu bagaimana
cara bertahan?
Sains menyebut dua kunci utama: self-control dan forgiveness.
Dalam bahasa sederhana: rem dan tombol reset.
Self-control adalah kemampuan untuk tidak langsung
berkata, “Kamu dari dulu memang begitu!” setiap kali ada masalah. Ia adalah
seni menahan diri, meski dalam hati sudah menyusun pidato debat nasional.
Sedangkan forgiveness adalah kemampuan untuk berkata,
“Ya sudah, kita lanjut hidup,” meskipun masih sedikit kesal—sedikit saja,
sekitar 60%.
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang
benar. Tapi tentang siapa yang mau tetap duduk di meja makan yang sama, meski
habis berdebat soal hal yang sebenarnya sepele.
Bukan Akhir, Tapi Awal Season Baru
Jadi, pernikahan bukanlah “happy ending.” Ia adalah awal
dari serial panjang dengan banyak episode:
- ada
drama
- ada
komedi
- ada
plot twist
- dan
kadang, ada cliffhanger
Dan seperti semua serial bagus, yang membuatnya menarik
bukan karena semuanya sempurna, tapi karena para tokohnya terus berkembang.
Dua cincin yang melingkar di jari itu, ternyata bukan
sekadar simbol cinta. Ia adalah tanda bahwa kita telah mendaftar dalam program
pengembangan diri paling intens di dunia—tanpa tombol unsubscribe.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya: kita tidak
menikah dengan manusia yang sempurna, tapi dengan manusia yang akan terus
berubah… bersama kita.
Dan kalau beruntung, di tengah perubahan itu, kita tidak
hanya bertahan—tapi juga belajar tertawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.