Senin, 16 Februari 2026

Dua Cincin, Satu Update Sistem: Sebuah Esai tentang Pernikahan yang Diam-Diam Meng-upgrade Kepribadian

Pernikahan sering kita bayangkan seperti ending film romantis: musik mengalun, kamera slow motion, lalu muncul tulisan sakral, “dan mereka hidup bahagia selamanya.” Padahal, kalau pernikahan itu aplikasi, justru setelah akad, kita baru klik tombol “install update (size: besar sekali, tanpa Wi-Fi)”. Dan seperti semua update, dia datang tanpa bisa ditolak—kadang juga tanpa kita baca “terms and conditions.”

Menurut sains (yang seringkali lebih jujur daripada janji-janji saat lamaran), pernikahan bukan sekadar perubahan status dari “single” menjadi “sudah tidak bisa sembarangan keluar malam.” Ia adalah semacam laboratorium psikologis tempat dua manusia diuji—bukan dengan soal pilihan ganda, tapi dengan pertanyaan terbuka seperti: “Kenapa handuk basah ditaruh di kasur?”

Sebuah studi yang dilaporkan oleh akun @NextScience menunjukkan bahwa dalam dua tahun pertama, pernikahan benar-benar mengubah kepribadian kita. Bukan sekadar “aku sekarang lebih dewasa,” tapi lebih ke “aku sekarang tahu bahwa hidup ini penuh kompromi, termasuk soal arah gulungan tisu.”

Dari Pangeran Santai Menjadi Manager Logistik

Mari kita mulai dari para pria. Sebelum menikah, banyak pria hidup dalam filosofi “yang penting hidup.” Jam tidur fleksibel, makan bisa instan, dan baju—kalau masih bisa dibedakan antara depan dan belakang—itu sudah prestasi.

Namun, setelah menikah, tiba-tiba muncul kemampuan baru: conscientiousness. Ini istilah ilmiah untuk kondisi langka di mana seorang pria mulai tahu:

  • kapan bayar listrik
  • di mana menyimpan dokumen penting
  • dan bahwa “nanti” bukanlah satuan waktu yang valid

Dulu, bangun pagi itu pilihan. Sekarang, bangun pagi adalah takdir. Bahkan alarm pun kalah efektif dibanding satu kalimat sakti: “Mas, tolong beliin gas sekarang.”

Pernikahan, rupanya, mengubah pria dari “makhluk improvisasi” menjadi “manusia checklist.” Dari yang dulu hidup dengan semboyan flow aja, kini berubah menjadi flow tapi terjadwal.

Dari Drama Korea Menjadi Zen Master

Di sisi lain, para wanita mengalami perubahan yang tidak kalah menarik. Secara ilmiah disebut penurunan neuroticism—dalam bahasa sehari-hari: lebih tenang, lebih stabil, dan tidak lagi menangis hanya karena sinetron jam 7.

Namun, jangan salah. Ini bukan berarti emosi hilang. Ini berarti emosi sudah naik level. Kalau dulu marahnya langsung terlihat, sekarang lebih halus, lebih sunyi, dan—yang paling menakutkan—lebih bermakna.

Kalimat seperti, “terserah,” misalnya, kini memiliki 17 makna berbeda tergantung intonasi dan situasi. Ini bukan sekadar komunikasi, ini sudah masuk ranah filsafat eksistensial.

Pernikahan, tampaknya, membuat seseorang belajar bahwa tidak semua hal perlu direspon dengan emosi. Kadang cukup dengan diam… yang justru lebih berbahaya.

Memudarnya “Topeng Pacaran”

Nah, ini bagian paling jujur dari penelitian tersebut: setelah menikah, tingkat agreeableness menurun. Dalam bahasa yang lebih manusiawi: kita jadi lebih sering tidak setuju.

Dulu, saat pacaran:

  • “Kamu suka makan di mana?”
    “Terserah kamu, aku ikut.”

Sekarang:

  • “Makan di mana?”
    “Yang kemarin aja.”
    “Bosen.”
    “Ya sudah kamu pilih.”
    “Terserah.”
    (hening 10 menit, penuh makna)

Ini bukan berarti cinta berkurang. Ini berarti topeng pacaran mulai dilepas. Dulu kita adalah versi best behavior. Sekarang kita adalah versi asli, termasuk bug-nya.

Dan di sinilah seni pernikahan dimulai: menerima bahwa pasangan kita bukan hanya “versi highlight,” tapi juga “versi unedited.”

Dunia Mengecil, Drama Membesar

Penelitian juga menunjukkan bahwa setelah menikah, tingkat extraversion dan openness cenderung menurun. Artinya, kita jadi lebih jarang keluar, lebih sedikit mencoba hal baru, dan lebih sering berkutat di rumah.

Dulu, akhir pekan berarti petualangan. Sekarang, akhir pekan berarti:

  • belanja bulanan
  • bersih-bersih rumah
  • dan debat ringan soal siapa yang lupa beli sabun

Lingkaran sosial pun menyusut. Bukan karena tidak punya teman, tapi karena energi sudah habis untuk diskusi internal rumah tangga yang tidak ada habisnya.

Namun anehnya, di dalam “dunia kecil” ini, justru kita menemukan kompleksitas terbesar. Ternyata, memahami satu orang saja sudah seperti memahami seluruh alam semesta.

Rahasia Bertahan: Rem dan Tombol Reset

Jika pernikahan memang pasti mengubah kita, lalu bagaimana cara bertahan?

Sains menyebut dua kunci utama: self-control dan forgiveness. Dalam bahasa sederhana: rem dan tombol reset.

Self-control adalah kemampuan untuk tidak langsung berkata, “Kamu dari dulu memang begitu!” setiap kali ada masalah. Ia adalah seni menahan diri, meski dalam hati sudah menyusun pidato debat nasional.

Sedangkan forgiveness adalah kemampuan untuk berkata, “Ya sudah, kita lanjut hidup,” meskipun masih sedikit kesal—sedikit saja, sekitar 60%.

Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang benar. Tapi tentang siapa yang mau tetap duduk di meja makan yang sama, meski habis berdebat soal hal yang sebenarnya sepele.

Bukan Akhir, Tapi Awal Season Baru

Jadi, pernikahan bukanlah “happy ending.” Ia adalah awal dari serial panjang dengan banyak episode:

  • ada drama
  • ada komedi
  • ada plot twist
  • dan kadang, ada cliffhanger

Dan seperti semua serial bagus, yang membuatnya menarik bukan karena semuanya sempurna, tapi karena para tokohnya terus berkembang.

Dua cincin yang melingkar di jari itu, ternyata bukan sekadar simbol cinta. Ia adalah tanda bahwa kita telah mendaftar dalam program pengembangan diri paling intens di dunia—tanpa tombol unsubscribe.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya: kita tidak menikah dengan manusia yang sempurna, tapi dengan manusia yang akan terus berubah… bersama kita.

Dan kalau beruntung, di tengah perubahan itu, kita tidak hanya bertahan—tapi juga belajar tertawa.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.