Di zaman ketika harga cabai bisa bikin orang lebih emosional daripada mantan yang tiba-tiba menikah, pernikahan justru ikut-ikutan jadi mahal. Bukan mahal secara cinta—itu sih katanya gratis—tapi mahal secara finansial, sampai-sampai calon pengantin pria lebih sering membuka aplikasi kalkulator daripada membuka hati.
Di tengah situasi ekonomi yang membuat dompet terasa seperti puasa sunnah setiap hari, muncullah suara menyejukkan dari seorang ulama Aceh, Hasanoel Basri HG. Beliau dengan santai tapi menusuk, mengingatkan bahwa mahar itu tidak perlu mahal. Pernikahan itu ibadah, bukan lomba “Siapa Paling Kaya Tapi Ngutang”.
Pesan ini terasa seperti angin segar—atau lebih tepatnya, seperti diskon 90% di tengah inflasi.
Mahar: Simbol atau Simpanan Berjangka?
Dalam praktik kekinian, mahar sering kali berubah fungsi. Dari simbol kesungguhan menjadi semacam “investasi awal” yang bikin calon suami berpikir: “Ini nikah atau KPR?”
Padahal, menurut ajaran Muhammad, keberkahan pernikahan justru ada pada yang paling ringan maharnya. Tapi entah kenapa, sebagian masyarakat menafsirkan “ringan” sebagai “ringan kalau pakai emas 100 gram, bukan 200 gram.”
Di sinilah logika mulai goyah. Mahar yang seharusnya jadi tanda cinta, berubah jadi alat ukur gengsi. Seolah-olah semakin berat mahar, semakin berat pula cinta—padahal yang sering berat justru cicilannya.
Akad Nikah vs. Acara Nikah
Abu Mudi dengan jernih memisahkan dua hal yang sering dicampuradukkan:
Akad nikah → sakral, sederhana, dan penuh doa
Resepsi → sosial, meriah, dan penuh nasi kotak
Masalahnya, di lapangan, yang sakral kadang cuma 10 menit, sementara yang sosial bisa 10 jam (dan 10 juta).
Bahkan ada fenomena unik: pasangan yang menikah dengan niat membangun keluarga sakinah, tapi setelah resepsi justru membangun cicilan bersama.
Lebih romantis, sih, tapi bukan itu maksudnya.
Gengsi: Musuh Dalam Dompet
Budaya gengsi ini seperti hantu tak kasat mata. Tidak ada bentuknya, tapi dampaknya nyata—terutama di rekening bank.
Orang tua sering berkata:
“Minimal jangan kalah sama tetangga.”
Padahal tetangga itu sendiri masih mencicil utang resepsi anaknya.
Akhirnya, pernikahan berubah menjadi ajang kompetisi sosial:
Siapa pelaminnya paling megah
Siapa undangannya paling banyak
Siapa yang paling lama bayar utang setelahnya
Kalau ini dilombakan, mungkin sudah ada medali emasnya.
Nikah atau Nunda? Itu Pertanyaannya
Karena mahalnya biaya, banyak anak muda memilih menunda pernikahan. Bukan karena tidak cinta, tapi karena:
“Cinta saja tidak cukup untuk bayar katering.”
Padahal, semakin lama ditunda, semakin besar risiko “cinta dialihkan ke yang lain”. Ini bukan teori, ini realita sosial yang sering terjadi.
Di sinilah pesan Hasanoel Basri HG. alias Abu Mudi jadi relevan: mempermudah pernikahan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal menjaga moral.
Karena, jujur saja, biaya nikah yang mahal sering kali lebih berbahaya daripada godaan itu sendiri.
Solusi: Nikah Minimalis, Bahagia Maksimal
Bayangkan sebuah konsep baru: “Nikah Minimalis”.
Mahar sederhana
Akad khusyuk
Resepsi secukupnya
Tanpa utang
Tanpa stres
Tanpa drama Excel keuangan
Dan yang paling penting: cinta tidak dikurangi, hanya biaya yang dipangkas.
Cinta Tidak Diukur Gram
Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang angka:
bukan berapa gram emas
bukan berapa juta biaya
bukan berapa banyak tamu
Tapi tentang dua orang yang siap hidup bersama—dalam suka, duka, dan… tagihan listrik.
Seruan Abu Mudi ini seperti alarm bagi kita semua: jangan sampai pernikahan yang seharusnya memudahkan hidup, justru menjadi pintu masuk kesulitan baru.
Karena sejatinya, yang membuat rumah tangga langgeng bukanlah kemewahan awal, tetapi kesederhanaan yang penuh berkah.
Dan jika masih ragu, ingat satu prinsip sederhana:
Lebih baik nikah sederhana tapi bahagia, daripada resepsi mewah tapi masih bayar sampai anak masuk sekolah.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.