Kamis, 12 Februari 2026

Jalan Panjang Mengenal Tuhan: Jangan Jadi “Google Scholar” Spiritual

Di era digital ini, kita hidup dalam keyakinan suci bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dengan satu kalimat sakti: “Coba cari di Google.” Sakit kepala? Google. Mau masak rendang? Google. Bingung makna hidup? Ya… Google juga.

Maka tak heran jika sebagian orang merasa bahwa mengenal Tuhan pun cukup dengan Wi-Fi yang stabil dan kuota yang tidak sekarat di tanggal tua.

Kitab kuning sudah tersedia dalam bentuk PDF. Ceramah ulama bisa diputar sambil rebahan. Tafsir Al-Qur’an hadir dalam aplikasi dengan fitur highlight warna-warni. Rasanya seperti surga literasi. Tinggal klik, scroll, lalu merasa tercerahkan.

Namun, sebuah dialog antara seorang murid  dan seorang Kiai—yang viral itu—seolah menyentil kita dengan halus tapi mantap: dalam urusan tasawuf dan tarekat, belajar sendirian itu bukan tanda keberanian. Itu bisa jadi tanda nekat.

Tasawuf Bukan Tutorial YouTube

Menurut Kiai dalam dialog tersebut, mengenal Tuhan bukan seperti belajar memperbaiki keran bocor lewat video lima menit. Ini bukan perkara “ikuti langkah-langkah berikut, lalu selesai.”

Tasawuf memang ilmu. Tetapi tarekat adalah jalan. Dan jalan itu bukan jalan tol dengan Google Maps yang berkata, “Belok kanan 200 meter lagi.” Ia lebih mirip jalur pendakian gunung berkabut, dengan jurang di kiri-kanan, dan papan petunjuk yang sering tertutup lumut ego.

Di sinilah posisi guru mursyid menjadi sentral. Ia bukan sekadar orang alim yang hafal dalil. Ia adalah orang yang sudah berjalan, terpeleset, bangun lagi, menembus kabut, dan sampai di sebuah pemahaman yang tidak bisa diunduh dalam format PDF.

Kalau dalam dunia medis kita mengenal istilah “dokter gadungan”, maka dalam dunia spiritual ada juga versi tidak resminya: “ahli makrifat otodidak”. Bedanya, yang satu bisa salah resep obat, yang satu lagi bisa salah resep hidup.

Abu Yazid Al-Bustami bahkan pernah mengingatkan dengan kalimat yang cukup menggetarkan: siapa yang tidak punya guru, maka setanlah gurunya. Ini bukan ancaman horor, tapi peringatan bahwa ego kita sangat pandai menyamar sebagai ilham.

Hafal Asmaul Husna, Tapi Masih Mudah Tersinggung

Sering kali kita merasa sudah mengenal Tuhan karena hafal 99 Asmaul Husna, bisa menjelaskan dalil sifat wajib dua puluh, dan fasih mengutip ayat dalam diskusi daring. Namun anehnya, baru dikritik sedikit saja, hati langsung panas seperti wajan tanpa minyak.

Di sinilah Kiai itu seperti sedang berkata, “Nak, mengenal Tuhan bukan sekadar hafalan. Itu urusan hati.”

Makrifat bukan lomba cerdas cermat. Ia lebih mirip operasi batin. Dan operasi, sebagaimana kita tahu, tidak bisa dilakukan sendiri hanya karena sudah membaca buku anatomi.

Bahkan Imam Al-Ghazali—yang gelarnya saja sudah terdengar seperti juara umum sepanjang masa, Hujjatul Islam—tetap mencari guru mursyid. Padahal kalau beliau hidup di zaman sekarang, mungkin akun LinkedIn-nya sudah centang biru semua.

Syekh Izzuddin bin Abdussalam, Sulthanul Ulama, juga demikian. Artinya apa? Artinya makin tinggi ilmu seseorang, makin sadar ia bahwa masih ada jalan yang tidak bisa ditempuh sendirian.

Yang sering merasa cukup justru biasanya yang baru selesai membaca dua thread panjang di media sosial.

Sanad Bukan Sekadar Formalitas

Dalam dunia modern, kita percaya pada lisensi. Dokter harus punya STR. Pengacara harus punya izin praktik. Bahkan tukang cukur pun sekarang punya sertifikat pelatihan.

Tetapi anehnya, untuk urusan akhirat, kita sering merasa cukup dengan semangat dan percaya diri.

Tradisi sanad dalam tasawuf sebenarnya sederhana: ilmu itu bukan sekadar informasi, tetapi cahaya yang berpindah dari hati ke hati. Ia seperti api yang dinyalakan dari pelita sebelumnya. Kalau tidak ada sambungan, jangan heran kalau yang menyala hanya percikan emosi, bukan cahaya petunjuk.

Silsilah yang tersambung hingga Rasulullah SAW bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah jaminan bahwa jalan yang ditempuh ini memang pernah dilewati, bukan hasil eksperimen spiritual pribadi yang berakhir pada kesimpulan aneh-aneh.

Karena, jujur saja, hati manusia itu kreatif sekali dalam membela dirinya. Kadang bisikan ego terdengar sangat religius.

Tarekat: Kewajiban yang Tidak Populer

Pernyataan bahwa mempelajari tarekat itu wajib mungkin terdengar seperti pengumuman yang membuat sebagian orang mendadak batuk-batuk kecil.

Namun logikanya sederhana: ibadah harus dilakukan dengan benar. Untuk benar, kita harus mengenal Tuhan. Untuk mengenal Tuhan secara mendalam, diperlukan penyucian jiwa. Dan penyucian jiwa tidak cukup dengan teori.

Kalau untuk lulus ujian saja kita butuh guru les, masa untuk lulus kehidupan kita merasa cukup dengan membaca ringkasan?

Tarekat bukan soal atribut, bukan soal jubah, bukan soal istilah Arab yang terdengar eksotis. Ia adalah proses panjang merapikan hati yang berantakan—dan itu pekerjaan yang terlalu serius untuk ditangani oleh kesombongan.

Jangan Jalan Sendirian

Pada akhirnya, pesan Kiai itu sederhana tapi dalam: jangan berjalan sendirian di jalan yang belum pernah kamu lalui.

Kerendahan hati adalah tiket pertama dalam perjalanan mengenal Tuhan. Bukan gelar, bukan jumlah buku yang dibaca, bukan jumlah tautan yang dibagikan.

Di era ketika semua orang bisa menjadi “ustaz instan” dengan kamera dan pencahayaan yang bagus, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang mencari Tuhan, atau sedang mencari pembenaran untuk diri sendiri?

Karena mengenal Tuhan bukan proyek riset perpustakaan. Ia adalah perjalanan sunyi yang panjang. Dan dalam perjalanan seperti itu, memiliki penunjuk jalan bukan tanda kelemahan.

Itu tanda bahwa kita cukup waras untuk tahu: jalan ini terlalu agung untuk ditempuh sendirian.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.