Jumat, 20 Februari 2026

Bisikan Ajaib: Ketika Mulut Sendiri Jadi Dokter Pribadi

Di zaman modern yang penuh tekanan—mulai dari notifikasi WhatsApp yang tak kenal waktu hingga deadline yang lebih cepat datang daripada gaji—manusia mulai mencari solusi kesehatan yang praktis. Kalau bisa, sekali klik langsung sembuh. Kalau perlu, cukup rebahan sambil “healing”. Nah, di tengah pencarian itu, muncullah kabar menggembirakan: ternyata, kita tidak perlu jauh-jauh ke apotek. Cukup ngobrol sama diri sendiri.

Betul. Ngobrol. Sama diri sendiri.

Sebuah unggahan dari akun X @NextScience mengklaim bahwa self-talk positif bisa meningkatkan kesehatan bahkan lebih baik daripada suplemen. Sekilas ini terdengar seperti kabar yang sangat menguntungkan: tidak perlu beli vitamin mahal, tidak perlu antri dokter, cukup bilang, “Aku kuat, aku sehat, aku luar biasa,” lalu... sembuh.

Kalau ini benar, maka cermin di rumah bukan lagi sekadar alat berdandan, tapi sudah naik pangkat menjadi klinik pribadi.

Sains yang Membuat Kita Tampak Bijak di Depan Cermin

Sebelum kita semua mulai berbicara dengan bayangan sendiri seperti tokoh film yang mengalami krisis identitas, ternyata ada sains di balik fenomena ini. Namanya cukup panjang dan cocok untuk membuat kita terdengar pintar: psychoneuroimmunology. Kalau diucapkan dengan percaya diri, orang lain mungkin langsung mengira kita lulusan luar negeri.

Intinya sederhana: pikiran, saraf, dan sistem imun itu saling terhubung. Jadi ketika kita berkata lembut pada diri sendiri—misalnya, “Tenang ya, kita bisa”—tubuh kita benar-benar merespons. Sistem saraf parasimpatis aktif, jantung melambat, otot rileks, dan tubuh mulai melakukan mode “service gratis”.

Lebih hebat lagi, hormon stres seperti kortisol bisa menurun. Artinya, hanya dengan berbicara baik kepada diri sendiri, kita bisa membuat tubuh tidak terlalu panik. Ini kabar baik, karena selama ini kita sering lebih kejam kepada diri sendiri daripada komentar netizen.

Kalau tubuh bisa bicara, mungkin dia sudah lama protes:
“Bos, kenapa tiap salah sedikit langsung dimarahi? Saya ini bukan mesin fotokopi!”

Masalahnya: Jangan Sampai Kebablasan

Namun, seperti semua hal yang viral di internet, ada sedikit bumbu dramatis di dalamnya. Klaim bahwa self-talk lebih baik daripada suplemen itu... ya, katakanlah, agak bersemangat.

Bayangkan seseorang berkata:
“Saya tidak perlu obat, saya cukup bilang ‘sembuh’ saja.”

Kalau begitu, rumah sakit mungkin sudah berubah fungsi jadi tempat orang latihan afirmasi massal.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Self-talk memang membantu—terutama untuk mengelola stres, meningkatkan suasana hati, dan menciptakan kondisi tubuh yang lebih siap untuk sembuh. Tapi dia bukan pengganti pengobatan medis.

Kalau kaki patah, kita tidak bisa hanya berkata, “Kamu utuh, kamu utuh, kamu utuh,” sambil berharap tulangnya menyambung sendiri seperti adegan film kartun.

Self-talk itu ibarat pupuk. Ia menyuburkan tanah. Tapi kalau tidak ada benih, air, dan sinar matahari, ya tetap saja tidak tumbuh apa-apa.

Ngobrol dengan Diri Sendiri: Antara Waras dan Produktif

Menariknya, sains juga tidak sepenuhnya mendukung afirmasi positif yang terlalu manis. Ternyata, dalam beberapa situasi, self-talk yang realistis—bahkan sedikit “tegas”—justru lebih efektif.

Misalnya:

  • “Ayo, fokus!”
  • “Kerjakan sekarang, jangan malas!”

Ini mungkin terdengar seperti suara guru galak di kepala, tapi ternyata cukup ampuh.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu seperti menjadi pelatih pribadi. Kadang perlu lembut, kadang perlu tegas. Yang penting jangan sampai jadi tukang bully.

Karena jujur saja, banyak dari kita punya inner voice yang kalau dijadikan orang nyata, mungkin sudah kita blokir dari kehidupan.

Seni Berbisik pada Diri Sendiri

Di tengah semua kesibukan dan tekanan hidup, ide untuk berbicara baik kepada diri sendiri sebenarnya sangat revolusioner—dan gratis. Tidak perlu langganan, tidak perlu diskon, tidak perlu kode promo.

Cukup berhenti sejenak, tarik napas, dan berkata:
“Terima kasih ya, sudah bertahan sejauh ini.”

Kalimat sederhana, tapi sering kita lupakan.

Kita sering lebih ramah kepada orang asing daripada kepada diri sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita ini teman hidup paling setia—dari lahir sampai akhir.

Obat yang Selalu Tersedia

Pada akhirnya, kekuatan self-talk bukanlah sulap yang bisa menyembuhkan segalanya dalam sekejap. Tapi ia adalah alat sederhana yang sering diremehkan.

Ia bukan pengganti dokter, tapi bisa menjadi teman setia dokter.
Ia bukan obat utama, tapi bisa mempercepat pemulihan.
Dan yang paling penting, ia mengingatkan kita bahwa tubuh ini bukan sekadar mesin—ia juga mendengar.

Jadi, lain kali saat hidup terasa berat, mungkin kita tidak perlu langsung mencari solusi ke luar. Coba dulu ke dalam.

Siapa tahu, ternyata dokter terbaik yang kita cari selama ini...
sudah lama tinggal di dalam kepala—dan hanya menunggu untuk diajak bicara dengan baik.

abah-arul.blogspot.com.,Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.