Kamis, 19 Februari 2026

Melawan Mitos Katarsis: Ketika Memukul Bantal Ternyata Hanya Menyakiti Bantal

Di zaman ketika semua masalah bisa diselesaikan dengan satu klik, satu swipe, atau satu postingan "healing banget", manusia modern menemukan satu mantra sakti untuk mengatasi amarah: luapin aja! Kalau marah, teriak. Kesal, pukul bantal. Jengkel, pergi ke rage room dan hancurkan piring—tentu saja sambil tetap estetik untuk Instagram.

Kita hidup dalam keyakinan kolektif bahwa emosi itu seperti panci presto. Kalau tidak dibuka, akan meledak. Maka, daripada meledak di kantor, lebih baik meledak di rumah. Daripada memarahi atasan, lebih baik memarahi tembok. Logikanya sederhana: keluarkan saja, nanti lega.

Sayangnya, sains datang seperti teman yang terlalu jujur di tengah pesta: “Maaf ya, itu semua tidak bekerja.”

Sebuah ulasan terhadap ratusan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan “meledak”—baik itu berteriak, memukul sesuatu, atau menyalurkan amarah dengan agresif—ternyata tidak membuat kita lebih tenang. Bahkan, efeknya hampir nol. Nol! Selevel dengan harapan diet mulai besok. Lebih parah lagi, kadang justru memperburuk keadaan. Jadi, kalau Anda merasa lebih marah setelah memukul bantal, itu bukan karena bantalnya membalas, tapi karena memang begitu cara kerja otak kita.

Masalahnya, ketika kita marah, tubuh kita seperti mesin motor yang gasnya ditarik habis-habisan. Jantung berdegup kencang, napas memburu, otot menegang. Lalu kita berpikir, “Mari kita tambah gasnya!”—dengan berteriak atau memukul sesuatu. Ini seperti mencoba memadamkan api dengan bensin, lalu heran kenapa rumahnya makin panas.

Kita kira kita sedang “mengeluarkan” amarah, padahal kita sedang melatihnya. Setiap kali kita melampiaskan dengan cara agresif, otak belajar: “Oh, begini cara kita menghadapi masalah.” Lama-lama, sedikit saja kesal, reaksi kita sudah seperti adegan film aksi. Bedanya, tidak ada sutradara yang bilang “cut”.

Di sinilah sains memberikan alternatif yang terdengar... membosankan. Tidak ada drama. Tidak ada suara pecahan kaca. Tidak ada efek slow motion.

Solusinya adalah: duduk, tarik napas, dan tenang.

Ya, sesederhana itu. Dan ya, itu terdengar seperti nasihat dari guru BP yang dulu kita abaikan.

Teknik seperti pernapasan dalam, meditasi, mindfulness, atau sekadar berhenti sejenak terbukti jauh lebih efektif meredakan amarah. Bukan karena itu “spiritual banget”, tapi karena itu menurunkan arousal tubuh—menurunkan detak jantung, menenangkan saraf, dan secara harfiah mematikan bahan bakar kemarahan.

Tubuh yang tenang membuat pikiran ikut tenang. Dan pikiran yang tenang tidak tiba-tiba ingin melempar sandal ke arah siapa pun.

Ini mungkin terdengar tidak memuaskan. Tidak ada sensasi heroik. Tidak ada cerita dramatis untuk diceritakan ke teman. Bayangkan berkata, “Tadi saya marah besar, lalu saya duduk dan bernapas.” Itu tidak viral. Itu tidak cinematic. Itu bahkan tidak layak dijadikan status WhatsApp.

Namun justru di situlah kehebatannya.

Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk diam adalah pemberontakan. Di tengah budaya “luapin aja!”, memilih untuk tenang adalah tindakan yang hampir radikal. Kita terbiasa menganggap kekuatan itu identik dengan ledakan—padahal mungkin kekuatan sejati adalah kemampuan untuk tidak meledak.

Lagipula, mari jujur saja: bantal sudah cukup menderita. Tidak perlu ditambah lagi.

Akhirnya, sains mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi menohok: mengelola kemarahan bukan tentang seberapa keras kita bisa meluapkannya, tapi seberapa dalam kita bisa menarik napas sebelum bereaksi.

Dan mungkin, di situlah letak revolusi kecil dalam hidup kita—bukan pada suara teriakan, tetapi pada jeda sebelum kita memilih untuk tidak berteriak.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.