Rabu, 18 Februari 2026

Melawan Budaya Konsumsi: Ketika Barang Lebih Cepat Pensiun daripada Kita

Pada suatu hari yang cerah—atau mungkin mendung karena notifikasi tagihan kartu kredit—akun media sosial membagikan kabar yang membuat kita semua sejenak merasa tercerahkan: Prancis melarang planned obsolescence. Sebuah istilah yang terdengar canggih, padahal intinya sederhana: barang sengaja dibuat cepat rusak supaya kita cepat beli lagi.

Dengan kata lain, ternyata bukan kita yang boros. Kita hanya korban skenario.

Dan seperti biasa, internet pun bereaksi. Ada yang terharu, ada yang skeptis, dan ada yang langsung menatap ponselnya dengan curiga, seolah berkata, “Jadi selama ini kamu yang salah, ya?”

Barang yang Cepat Tua, Manusia yang Dipaksa Dewasa

Dulu, orang tua kita punya radio yang bisa dipakai puluhan tahun. Sekarang, kita punya ponsel yang mulai “batuk-batuk” begitu ulang tahun kedua. Bukan karena dia sudah lelah menemani hidup kita, tapi karena—secara misterius—ia mulai berpikir lebih lambat dari siput yang sedang merenung.

Kita pun panik. Bukan karena rusak, tapi karena “rasanya sudah tidak enak dipakai.”

Padahal kalau direnungkan, hubungan kita dengan barang modern ini mirip hubungan percintaan era digital: bukan rusak, hanya “kurang responsif.”

Dan solusi yang ditawarkan selalu sama: upgrade.

Prancis dan Romantisme Barang Tua

Di tengah budaya “ganti baru adalah solusi,” Prancis tampil seperti sahabat yang tiba-tiba berkata, “Coba diperbaiki dulu, bukan langsung ditinggal.”

Lewat undang-undangnya, mereka tidak hanya melarang praktik mempercepat kematian barang, tetapi juga mendorong budaya memperbaiki. Bahkan ada indeks reparabilitas—semacam “rating kepribadian” untuk barang: apakah dia mudah diajak kompromi atau langsung ngambek kalau rusak.

Bayangkan kalau konsep ini diterapkan ke manusia. Mungkin kita akan punya label:
“Reparabilitas tinggi: bisa diajak diskusi.”
“Reparabilitas rendah: sedikit-sedikit minta ganti pasangan.”

Denda Besar, Tapi Dompet Lebih Tebal

Tentu saja, hukum tanpa drama bukanlah hukum. Ada perusahaan besar yang pernah kena denda karena memperlambat perangkat lama. Nilainya fantastis—puluhan juta euro.

Namun, bagi perusahaan raksasa, angka itu kadang terasa seperti kita kehilangan uang receh di sofa: agak nyesek, tapi tidak mengubah gaya hidup.

Di sinilah ironi terjadi. Kita diajari untuk tidak boros, sementara sistem ekonomi global justru berdiri di atas kebiasaan kita untuk terus membeli.

Seperti diet yang disponsori oleh restoran all-you-can-eat.

Antara Ideal dan Realitas

Secara teori, kebijakan ini luar biasa. Bayangkan dunia di mana barang dibuat untuk tahan lama, mudah diperbaiki, dan tidak membuat kita harus “move on” setiap dua tahun.

Namun praktiknya tidak semudah mengganti casing ponsel. Membuktikan bahwa perusahaan sengaja membuat barang cepat rusak itu sulit. Mereka bisa selalu berkata, “Ini bukan rusak, ini inovasi.”

Dan kita, sebagai konsumen, sering kali tidak peduli apakah itu inovasi atau manipulasi. Selama kameranya lebih jernih, kita siap memaafkan segalanya.

Sampah Elektronik: Warisan dari Gaya Hidup

Di balik semua ini, ada satu hal yang jarang kita pikirkan: ke mana perginya barang lama kita?

Jawabannya sering tidak romantis. Ia berakhir di tumpukan limbah elektronik, sering kali di negara yang bahkan tidak pernah menikmati kemewahan menggunakannya.

Kita upgrade. Mereka yang menanggung.

Sebuah globalisasi yang tidak pernah kita masukkan dalam foto Instagram.

Media Sosial: Guru yang Kadang Lupa Tanggal

Menariknya, semua diskusi ini bermula dari sebuah unggahan yang—ternyata—tidak sepenuhnya baru. Hukum yang dibicarakan sudah ada sejak lama.

Namun justru di situlah keindahan media sosial. Ia tidak selalu akurat dalam waktu, tetapi sering tepat dalam momentum.

Ia seperti teman yang salah tanggal ulang tahun, tapi tetap datang membawa kue.

Refleksi: Antara Butuh dan Ingin

Pada akhirnya, pertanyaan besar bukan hanya tentang hukum atau perusahaan, tetapi tentang kita sendiri.

Apakah kita benar-benar butuh barang baru, atau hanya ingin merasakan sensasi “punya yang lebih baik”?

Budaya konsumsi modern membuat kita percaya bahwa kebahagiaan bisa di-install seperti aplikasi. Tinggal unduh versi terbaru, maka hidup akan terasa lebih lancar.

Padahal, sering kali yang perlu diperbarui bukan perangkat kita, tetapi cara kita memandangnya.

Mungkin kita tidak perlu selalu upgrade.
Mungkin yang perlu kita lakukan sesekali adalah… sabar.

Dan kalau barang kita mulai melambat, jangan langsung ganti.
Coba ajak bicara dulu.

Siapa tahu, dia hanya lelah.

 abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.