Selasa, 17 Februari 2026

Merajut Optimisme Spiritual: Antara Amal, Rahmat, dan Drama Kehidupan Sehari-hari

Di tengah kehidupan modern yang penuh notifikasi, cicilan, dan drama grup WhatsApp keluarga, manusia zaman sekarang sering mengalami satu penyakit yang tidak tercantum di buku kedokteran: lelah spiritual. Gejalanya beragam—mulai dari rajin ibadah tapi tetap cemas, sampai merasa sudah banyak berbuat baik tapi hidup masih seperti sinetron yang episodenya tidak tamat-tamat.

Dalam situasi seperti ini, kajian tasawuf sering dianggap seperti aplikasi jadul: penting, tapi dibuka nanti saja kalau sudah tua, pensiun, atau minimal sudah punya cucu. Namun, melalui syarah hikmah pertama dari Al-Hikam,  justru menawarkan sesuatu yang mengejutkan: tasawuf bukan pelarian dari hidup, tapi cara supaya hidup tidak terasa seperti dikejar deadline kosmik.

Ketika Amal Dianggap Tabungan, dan Dosa Seperti Cicilan Macet

Hikmah pertama dari Al-Hikam berbunyi:

"Salah satu tanda bergantung pada amal adalah putus asa ketika tergelincir."

Kalimat ini, kalau dipikir-pikir, sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak dari kita diam-diam memperlakukan amal seperti tabungan di bank. Shalat lima waktu = saldo bertambah. Sedekah = deposito spiritual. Puasa sunnah = investasi jangka panjang.

Masalahnya, begitu melakukan satu dosa kecil saja, rasanya seperti kena penalty fee. Langsung muncul pikiran: “Wah, habis sudah. Semua amal saya hangus.”

Ini seperti orang yang sudah menabung bertahun-tahun, lalu sekali jajan flash sale, langsung merasa miskin kembali.

Al-Hikam membongkar logika ini dengan sederhana: kalau kita putus asa karena dosa, itu berarti kita sebenarnya bergantung pada amal kita, bukan pada rahmat Allah.

Padahal, kalau amal itu benar-benar jaminan, maka manusia sudah bangkrut sejak pertama kali berbuat salah.

Allah Itu Bukan Bank, dan Kita Bukan Nasabah Kredit Spiritual

Dalam penjelasannya mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Allah bukan hubungan debitur dan kreditur.

Kalau Allah memperlakukan kita seperti bank, mungkin kita sudah lama masuk daftar blacklist spiritual. Setiap dosa jadi kredit macet, setiap lalai jadi bunga yang menumpuk.

Untungnya, Allah bukan bank. Rahmat-Nya tidak pakai sistem bunga, tidak ada denda keterlambatan, dan yang paling penting: tidak ada limit pengampunan selama kita masih mau kembali.

Di sinilah letak optimisme itu. Amal itu penting, tapi bukan sandaran utama. Sandaran utama adalah rahmat. Amal itu usaha, rahmat itu hasil akhir yang tidak bisa kita klaim sebagai “hak”.

Putus Asa: Tanda Kita Terlalu Percaya Diri

Yang menarik, dalam kajian ini, putus asa justru dianggap sebagai bentuk kesombongan yang halus.

Kenapa? Karena orang yang putus asa sebenarnya merasa bahwa amalnya seharusnya cukup untuk menjamin keselamatan. Jadi ketika ia gagal, ia kecewa—bukan karena jauh dari Allah, tapi karena “sistem” yang ia bayangkan tidak berjalan sesuai harapan.

Ini seperti mahasiswa yang merasa sudah belajar, lalu marah ketika tidak lulus. Padahal mungkin yang kurang bukan usahanya, tapi keikhlasan, metode, atau bahkan doa orang tua.

Dengan kata lain, putus asa itu bukan tanda rendah diri. Kadang justru tanda kita terlalu percaya diri pada kemampuan sendiri.

Tasawuf Bukan untuk Pensiunan, tapi untuk yang Masih Punya Masalah

Salah satu kritik sosial yang disampaikan dalam kajian ini cukup menohok: banyak orang menunda belajar tasawuf dengan alasan “belum waktunya”.

Biasanya kalimat ini muncul dalam bentuk:

  • “Nanti saja kalau sudah tua.”
  • “Sekarang fokus kerja dulu.”
  • “Tasawuf itu kan level ulama.”

Padahal, masalahnya justru ada di masa muda: ambisi, iri, cemas, overthinking, dan kadang overconfidence.

Menunda tasawuf itu seperti menunggu sehat dulu baru olahraga. Secara logika, memang terdengar masuk akal. Tapi secara praktik, itu cara paling efektif untuk tidak pernah mulai.

Al-Hikam mengajak untuk membalik pola pikir: tasawuf itu bukan tujuan akhir, tapi bekal perjalanan. Kalau perjalanan hidup ini panjang, masa bekalnya disiapkan di terminal terakhir?

Doa Kiai Bukan Jalan Pintas untuk Proyek Bermasalah

Bagian yang paling “menyentil” adalah kritik terhadap mentalitas instan: menggantungkan hasil pada doa orang saleh, tapi prosesnya tidak beres.

Misalnya:

  • Proyeknya tidak halal, tapi minta didoakan.
  • Usahanya setengah hati, tapi berharap hasil maksimal.
  • Ikhtiar minim, tapi tawakal maksimal.

Ini seperti ingin lulus ujian dengan belajar 10 menit, lalu berharap keajaiban terjadi karena doa.

Padahal, dalam konsep asbab dan tajrid, usaha dan tawakal itu bukan pilihan, tapi pasangan. Keduanya harus berjalan bersama.

Belajar dari Ulat: Transformasi Itu Tidak Instan

Analogi ulat menjadi kupu-kupu yang digunakan sebagai gambaran  sangat relevan. Ulat tidak langsung terbang. Ia harus melalui fase kepompong—fase yang secara visual bahkan tidak menarik sama sekali.

Kalau manusia modern jadi ulat, mungkin baru dua hari di kepompong sudah membuka Google:

“Cara cepat jadi kupu-kupu tanpa proses.”

Sayangnya, transformasi tidak bisa di-skip. Tidak ada fitur fast forward dalam perjalanan spiritual. Semua harus dilewati—jatuh, bangkit, ulang lagi, begitu terus sampai kita sadar bahwa proses itu sendiri adalah bagian dari tujuan.

Rahmat Allah: Satu-satunya Harapan yang Tidak Pernah Error

Pada akhirnya, pesan utama dari kajian ini sederhana, tapi sulit dijalankan: jangan bergantung pada amal, tapi jangan juga meninggalkan amal.

Ini seperti berjalan di atas tali. Terlalu percaya diri pada amal → jatuh ke kesombongan. Terlalu pasrah tanpa usaha → jatuh ke kemalasan.

Di tengah-tengah itulah manusia belajar menjadi hamba: berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

Dan di sinilah optimisme itu lahir. Bukan optimisme karena kita merasa cukup baik, tapi karena kita tahu Allah Maha Baik.

Menjadi Hamba, Bukan Manajer Surga

Esai ini pada akhirnya mengajak kita untuk berhenti menjadi “manajer surga” yang sibuk menghitung amal dan risiko dosa, lalu mulai belajar menjadi hamba yang percaya pada rahmat.

Karena jika keselamatan hanya bergantung pada amal, maka yang paling dulu selamat mungkin bukan manusia—melainkan malaikat.

Namun karena rahmat Allah yang menjadi penentu, maka setiap manusia—bahkan yang penuh kekurangan—masih punya harapan.

Dan mungkin, di situlah letak keindahan hidup ini: bukan pada seberapa sempurna kita beramal, tapi pada seberapa yakin kita bahwa Allah tidak pernah lelah mengampuni.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.