Rabu, 18 Februari 2026

Lapar, Jubah Pahlawan, dan Jalan Pulang ke Diri Sendiri

Di zaman ketika satu utas di media sosial bisa mengubah hidup—atau setidaknya mengubah menu pagi—muncullah kabar menggembirakan: tidak sarapan adalah kekuatan super.

Akun-akun sains populer dengan gagah berani mengumumkan bahwa menolak telur, bacon, dan roti panggang adalah tindakan heroik setara menolak cincin kekuasaan. Meja sarapan dicoret silang merah besar. Asap dari bacon yang “ditinggalkan” mengepul dramatis, seolah berkata, “Pergilah, wahai karbohidrat, aku kini manusia unggul!”

Ratusan orang menyukai unggahan itu. Bisa jadi karena mereka juga sedang menatap piring kosong sambil mencari pembenaran ilmiah.

Lapar yang Berdering Seperti Alarm Pahlawan

Klaimnya terdengar meyakinkan. Melewatkan sarapan meningkatkan norepinefrin—zat kimia yang membuat kita lebih waspada. Tubuh, dalam kondisi tidak diberi makan, menyalakan mode siaga. Secara evolusioner masuk akal: nenek moyang kita tidak punya opsi “rebahan dulu, nanti juga lapar hilang sendiri.” Mereka harus berburu.

Maka, sebagian manusia modern pun merasakan sensasi yang sama. Jam 10 pagi, perut keroncongan, tapi pikiran terasa tajam. Spreadsheet terlihat seperti medan perang yang siap ditaklukkan. Mereka merasa seperti tokoh utama film laga versi nutrisi.

Namun, ada juga yang jam 9 pagi sudah ingin membatalkan peradaban.

Ketosis: Ketika Lemak Mendadak Jadi Bintang Utama

Narasi heroik ini semakin kuat ketika muncul kata-kata sakti: ketosis, insulin sensitivity, dan autophagy.

Tanpa sarapan, tubuh beralih dari glukosa ke lemak. Keton naik panggung, dan lemak yang selama ini dicurigai mendadak jadi pahlawan utama. Ada pula janji bahwa sel-sel kita sedang “bersih-bersih”—sebuah proses bernama autophagy yang terdengar seperti mantra di sekolah sihir tingkat lanjut.

Siapa yang tidak ingin tubuhnya melakukan kerja bakti internal?

Masalahnya, tubuh manusia bukan template PowerPoint. Ia lebih mirip grup WhatsApp keluarga: responsnya berbeda-beda, kadang tidak terduga, dan seringkali emosional.

Antara Fokus dan Emosi yang Siap Demo

Bagi sebagian orang, tidak sarapan membuat pikiran jernih. Bagi yang lain, ia memunculkan versi paling sensitif dari diri mereka.

Fokus meningkat? Bisa jadi.

Tapi juga bisa meningkatnya keinginan untuk memarahi printer, mengkritik AC, atau mempertanyakan makna hidup di depan lemari es.

Respons terhadap lapar dipengaruhi metabolisme, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, bahkan mikrobioma usus—tim konsultan tak terlihat yang diam-diam menentukan suasana hati kita.

Belum lagi faktor budaya. Di banyak rumah, sarapan bukan sekadar kalori. Ia adalah ritual: suara wajan, aroma teh, obrolan singkat. Itu bukan hanya nutrisi—itu kenangan.

Melewatkannya mungkin membuat tubuh membakar lemak, tapi juga bisa membakar suasana hati.

Autophagy dan Harapan yang Terlalu Cepat Viral

Autophagy memang nyata dan menarik. Namun sebagian besar bukti spektakulernya masih berasal dari laboratorium dan model hewan. Pada manusia, proses ini sudah berjalan alami tanpa perlu drama tanda silang merah di atas telur dadar.

Di sinilah masalah kata “superpower.” Ia mengilap, memikat, dan sangat ramah algoritma.

Namun tubuh manusia tidak bekerja berdasarkan tagar. Ia bekerja berdasarkan keseimbangan, kebiasaan, dan konteks.

Kebenaran sains sering kali sederhana sekaligus membosankan: tergantung.

Dari Biohacking ke Ibadah

Menariknya, ketika kita geser sedikit perspektif, fenomena “tidak sarapan” ini tiba-tiba kehilangan aura eksklusifnya.

Karena jutaan orang sudah melakukannya—bukan sebagai tren, tetapi sebagai tradisi.

Dalam diskursus modern, melewatkan sarapan disebut intermittent fasting. Tujuannya: fokus, lemak terbakar, metabolisme optimal.

Dalam Ramadan, ia disebut puasa.

Dan tujuannya bukan ketosis, melainkan kesadaran.

Lucunya, sesuatu baru dianggap keren ketika diberi nama bahasa Inggris dan grafik ilmiah. Padahal praktik menahan lapar dari fajar hingga magrib sudah dijalani berabad-abad tanpa perlu infografik telur dicoret.

Ketika Lapar Berubah Makna

Secara biologis, memang ada titik temu. Tubuh menggunakan cadangan energi, sistem saraf aktif, metabolisme beradaptasi.

Namun Ramadan membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan grafik: makna.

Di sini, lapar bukan sekadar alarm biologis.

Ia adalah latihan kesabaran.
Latihan menahan diri.
Latihan mengingat bahwa tidak semua orang bisa berbuka dengan mudah.

Jika tren “skip breakfast” bertanya, “Bagaimana aku bisa lebih produktif?”
Ramadan bertanya, “Bagaimana aku bisa lebih sadar?”

Tiga Hal yang Tidak Bisa Diinfografikkan

Ada tiga hal yang membedakan keduanya secara mendasar.

Pertama, niat.
Yang satu mengejar performa. Yang lain mengejar kedalaman.

Kedua, kebersamaan.
Yang satu dilakukan sendirian, sering sambil scroll media sosial.
Yang lain dilakukan bersama—sahur, azan, berbuka—sebuah ritme kolektif yang sulit direplikasi aplikasi diet mana pun.

Ketiga, dimensi batin.
Dalam puasa, lapar bukan hanya sensasi. Ia adalah cermin.

Dan cermin, seperti kita tahu, tidak selalu nyaman.

Apakah Ini Semua Memberi Kekuatan Super?

Bisa jadi—tetapi bukan seperti yang dibayangkan poster motivasi.

Bagi sebagian orang, tidak sarapan atau berpuasa bisa meningkatkan fokus dan rasa kendali diri. Bagi yang lain, terutama di awal, yang muncul justru:

  • sakit kepala
  • ngantuk
  • produktivitas turun
  • emosi setipis tisu satu lapis

Dan itu normal. Tubuh sedang beradaptasi.

Yang tidak normal adalah berharap menjadi manusia super hanya karena melewatkan roti panggang.

Bahaya Menyederhanakan Lapar

Ada satu jebakan halus yang perlu dihindari: menyederhanakan pengalaman kompleks menjadi slogan.

Ketika puasa direduksi menjadi strategi diet, kita kehilangan ruhnya.

Ramadan bukan “30-Day Fat Loss Challenge.”

Ia adalah latihan pengendalian diri yang menyentuh tubuh, pikiran, dan hati sekaligus.

Jika “skip breakfast” menjanjikan efisiensi, puasa mengajarkan makna.

 Pahlawan yang Pulang ke Diri Sendiri

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu memilih antara sarapan atau tidak, antara sains atau spiritualitas.

Yang kita butuhkan adalah kesadaran.

Karena “kekuatan super” yang sebenarnya bukanlah kemampuan menolak roti panggang sambil merasa lebih unggul.

Melainkan kemampuan memahami tubuh sendiri, tanpa terhipnotis sensasi digital.

Jika media sosial berkata, “Lewati sarapan dan kau akan jadi manusia hebat,”
maka kehidupan—dengan cara yang lebih tenang—berbisik:

“Kenali dirimu. Itu sudah cukup hebat.”

Dan mungkin di situlah letak kekuatan terbesar:
bukan pada kadar norepinefrin,
bukan pada ketosis,
bukan pada angka di timbangan—

melainkan pada kemampuan menahan diri,
bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Termasuk menahan diri… untuk tidak percaya semua utas di internet.

 abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.