Sabtu, 21 Februari 2026

Mata Hati yang Hakiki: Ketika Nafsu Punya WiFi dan Hati Kehabisan Sinyal

Manusia Modern, Hatinya Offline

Di zaman ketika semua serba online—belanja online, ngaji online, bahkan sedih pun bisa di-update status—ternyata ada satu yang sering offline: hati.

Kita hidup di era yang katanya paling maju. Teknologi canggih, informasi melimpah, kopi kekinian bertebaran. Tapi anehnya, manusia tetap gelisah. Tidur pakai kasur empuk, tapi mimpi tetap ruwet. Notifikasi penuh, tapi hati kosong.

Di sinilah ceramah Pak Kyai tentang  “Mata Hati yang Hakiki” datang seperti pesan WhatsApp dari langit:
“Mas, masalahmu bukan kurang WiFi, tapi kebanyakan nafsu.”

Nafsu: Aplikasi Default yang Tidak Bisa Di-Uninstall

Menurut Pak Kyai, sumber masalah manusia itu sederhana: nafsu.

Kalau diibaratkan, nafsu itu seperti aplikasi bawaan HP.
Tidak pernah kita instal, tapi selalu ada.
Tidak bisa dihapus, tapi sering update sendiri.

Dari satu aplikasi ini, muncul tiga fitur premium:

  1. Maksiat
  2. Lalai
  3. Syahwat

Dan parahnya, semuanya auto-renew subscription.

Psikologi modern bilang ini impuls, kecanduan, atau gangguan kesadaran.
Tasawuf sudah lama bilang: “Itu mah nafsu, Bro.”

Bedanya, psikologi kadang kasih nama keren.
Tasawuf langsung kasih solusi: puasa, zikir, istighfar.

Satu pakai istilah Latin.
Satu lagi pakai air wudhu.

Dunia Modern: Mall Besar Bernama Nafsu

Kalau kita jujur, dunia sekarang ini seperti mall raksasa.
Isinya bukan cuma barang, tapi godaan.

Semua dirancang untuk satu tujuan:
“Silakan turuti nafsu Anda.”

Mau makan? Ada.
Mau marah? Ada kontennya.
Mau pamer? Tinggal upload.
Mau iri? Scroll saja.

Kapitalisme modern itu cerdas.
Dia tidak memaksa kita berdosa.
Dia hanya menyediakan fasilitas.

Sisanya? Kita sendiri yang checkout.

Riyadatun Nafs: Gym untuk Jiwa

Kalau tubuh punya gym, jiwa juga punya: riyadatun nafs.

Bedanya:

  • Gym biasa bikin otot besar
  • Gym spiritual bikin ego mengecil

Di sini latihannya sederhana tapi berat:

  • Puasa → menahan diri
  • Zikir → mengingat Tuhan
  • Istighfar → mengakui salah

Masalahnya, manusia modern itu suka yang ribet.
Kalau disuruh puasa: “Apa evidence-based?”
Kalau disuruh istighfar: “Ada jurnalnya?”

Padahal nenek kita tidak baca jurnal, tapi hatinya tenang.
Kita baca jurnal, tapi masih overthinking.

Mungkin yang kurang bukan referensi, tapi latihan.

Nafsu Itu Pintar: Bisa Menyamar Jadi “Suara Hati”

Ini bagian paling berbahaya.

Tidak semua yang kita rasakan itu ilham.
Kadang itu cuma nafsu pakai baju religius.

Contoh:
“Aku ingin ini karena panggilan hati.”
Padahal: panggilan diskon.

“Aku melakukan ini demi kebaikan.”
Padahal: demi pengakuan.

Nafsu itu kreatif.
Dia bisa jadi motivator, influencer, bahkan ustaz dadakan.

Makanya dalam tasawuf, kita diajari curiga pada diri sendiri.
Karena musuh terdekat bukan tetangga, tapi ego.

Level Nafsu: Dari Drama ke Damai

Tasawuf menjelaskan bahwa jiwa manusia itu naik level seperti game:

  1. Nafsu ammarah → tukang nyuruh dosa
  2. Lawwamah → habis dosa, nyesel
  3. Mulhamah → mulai dapat ilham
  4. Mutmainnah → hati mulai adem
  5. Radhiyah → ridha
  6. Mardhiyah → diridhai
  7. Kamilah → selesai, tapi tetap lanjut

Masalah kita biasanya masih di level:
“ammarah + kuota unlimited.”

Habis salah, nyesel.
Habis nyesel, ulang lagi.

Seperti diet hari Senin, gagal hari Selasa.

Zikir: Jangan Dijadikan ATM

Salah satu kritik paling halus adalah soal zikir.

Banyak orang zikir, tapi niatnya:

  • Supaya cepat kaya
  • Supaya dapat jodoh
  • Supaya hidup lancar

Zikir jadi seperti ATM:
“Ya Allah, saya sudah input, mana hasilnya?”

Padahal tujuan zikir itu bukan dunia.
Tapi kembali kepada Tuhan.

Kalau zikir hanya untuk dunia,
itu seperti telepon orang tua cuma kalau butuh uang.

Basirah: Mata Hati, Bukan CCTV Gaib

Banyak orang mengira “mata hati” itu kemampuan supranatural.
Bisa lihat makhluk halus, tahu masa depan, atau menebak isi dompet orang.

Padahal bukan itu.

Mata hati yang hakiki itu sederhana:
melihat Allah di balik segala sesuatu.

Minum kopi → ingat Allah
Melihat matahari → ingat Allah
Kena masalah → tetap ingat Allah

Bukan jadi dukun.
Tapi jadi hamba yang sadar.

Kisah Matahari: Ketika Orang Lain Lihat Panas, Sufi Lihat Zikir

Ada cerita tentang seorang kyai yang melihat matahari lalu terdiam.
Bukan karena kepanasan, tapi karena melihat tasbihnya.

Kita lihat matahari:
“Panas banget, AC mana?”

Beliau lihat matahari:
“Subhanallah, makhluk ini tidak pernah berhenti taat.”

Perbedaannya bukan di mata.
Tapi di hati.

Kritik Sosial: Dunia yang Terlalu Sibuk, Tapi Tidak Tahu Untuk Apa

Pak Kyai juga menyentil dunia modern.

Kita sibuk bekerja, tapi tidak tahu untuk apa.
Kita mengejar sukses, tapi lupa definisinya.
Kita punya segalanya, kecuali ketenangan.

Manusia modern seperti lari di treadmill.
Capek, tapi tidak ke mana-mana.

Tasawuf datang dan berkata:
“Coba berhenti sebentar. Lihat ke dalam.”

Jihad Terbesar Bukan di Medan Perang

Pada akhirnya, musuh terbesar kita bukan orang lain.
Tapi diri sendiri.

Bukan karena kita jahat,
tapi karena kita terlalu sering menuruti nafsu.

Tasawuf mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan menaklukkan dunia,
tapi menaklukkan diri.

Dan mata hati yang hakiki bukan kemampuan luar biasa,
tapi kesadaran sederhana:

bahwa di balik semua ini, ada Allah.

Kalau hati sudah hidup,
kopi tidak sekadar pahit, tapi penuh makna.
masalah tidak sekadar beban, tapi jalan pulang.

Dan hidup tidak lagi sekadar sibuk,
tapi menjadi perjalanan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.