Manusia Modern, Hatinya Offline
Di zaman ketika semua serba online—belanja online,
ngaji online, bahkan sedih pun bisa di-update status—ternyata ada satu
yang sering offline: hati.
Kita hidup di era yang katanya paling maju. Teknologi
canggih, informasi melimpah, kopi kekinian bertebaran. Tapi anehnya, manusia
tetap gelisah. Tidur pakai kasur empuk, tapi mimpi tetap ruwet. Notifikasi
penuh, tapi hati kosong.
Di sinilah ceramah Pak Kyai tentang “Mata Hati
yang Hakiki” datang seperti pesan WhatsApp dari langit:
“Mas, masalahmu bukan kurang WiFi, tapi kebanyakan nafsu.”
Nafsu: Aplikasi Default yang Tidak Bisa Di-Uninstall
Menurut Pak Kyai, sumber masalah manusia itu
sederhana: nafsu.
Kalau diibaratkan, nafsu itu seperti aplikasi bawaan HP.
Tidak pernah kita instal, tapi selalu ada.
Tidak bisa dihapus, tapi sering update sendiri.
Dari satu aplikasi ini, muncul tiga fitur premium:
- Maksiat
- Lalai
- Syahwat
Dan parahnya, semuanya auto-renew subscription.
Psikologi modern bilang ini impuls, kecanduan, atau gangguan
kesadaran.
Tasawuf sudah lama bilang: “Itu mah nafsu, Bro.”
Bedanya, psikologi kadang kasih nama keren.
Tasawuf langsung kasih solusi: puasa, zikir, istighfar.
Satu pakai istilah Latin.
Satu lagi pakai air wudhu.
Dunia Modern: Mall Besar Bernama Nafsu
Kalau kita jujur, dunia sekarang ini seperti mall raksasa.
Isinya bukan cuma barang, tapi godaan.
Semua dirancang untuk satu tujuan:
“Silakan turuti nafsu Anda.”
Mau makan? Ada.
Mau marah? Ada kontennya.
Mau pamer? Tinggal upload.
Mau iri? Scroll saja.
Kapitalisme modern itu cerdas.
Dia tidak memaksa kita berdosa.
Dia hanya menyediakan fasilitas.
Sisanya? Kita sendiri yang checkout.
Riyadatun Nafs: Gym untuk Jiwa
Kalau tubuh punya gym, jiwa juga punya: riyadatun nafs.
Bedanya:
- Gym
biasa bikin otot besar
- Gym
spiritual bikin ego mengecil
Di sini latihannya sederhana tapi berat:
- Puasa
→ menahan diri
- Zikir
→ mengingat Tuhan
- Istighfar
→ mengakui salah
Masalahnya, manusia modern itu suka yang ribet.
Kalau disuruh puasa: “Apa evidence-based?”
Kalau disuruh istighfar: “Ada jurnalnya?”
Padahal nenek kita tidak baca jurnal, tapi hatinya tenang.
Kita baca jurnal, tapi masih overthinking.
Mungkin yang kurang bukan referensi, tapi latihan.
Nafsu Itu Pintar: Bisa Menyamar Jadi “Suara Hati”
Ini bagian paling berbahaya.
Tidak semua yang kita rasakan itu ilham.
Kadang itu cuma nafsu pakai baju religius.
Contoh:
“Aku ingin ini karena panggilan hati.”
Padahal: panggilan diskon.
“Aku melakukan ini demi kebaikan.”
Padahal: demi pengakuan.
Nafsu itu kreatif.
Dia bisa jadi motivator, influencer, bahkan ustaz dadakan.
Makanya dalam tasawuf, kita diajari curiga pada diri
sendiri.
Karena musuh terdekat bukan tetangga, tapi ego.
Level Nafsu: Dari Drama ke Damai
Tasawuf menjelaskan bahwa jiwa manusia itu naik level
seperti game:
- Nafsu
ammarah → tukang nyuruh dosa
- Lawwamah
→ habis dosa, nyesel
- Mulhamah
→ mulai dapat ilham
- Mutmainnah
→ hati mulai adem
- Radhiyah
→ ridha
- Mardhiyah
→ diridhai
- Kamilah
→ selesai, tapi tetap lanjut
Masalah kita biasanya masih di level:
“ammarah + kuota unlimited.”
Habis salah, nyesel.
Habis nyesel, ulang lagi.
Seperti diet hari Senin, gagal hari Selasa.
Zikir: Jangan Dijadikan ATM
Salah satu kritik paling halus adalah soal zikir.
Banyak orang zikir, tapi niatnya:
- Supaya
cepat kaya
- Supaya
dapat jodoh
- Supaya
hidup lancar
Zikir jadi seperti ATM:
“Ya Allah, saya sudah input, mana hasilnya?”
Padahal tujuan zikir itu bukan dunia.
Tapi kembali kepada Tuhan.
Kalau zikir hanya untuk dunia,
itu seperti telepon orang tua cuma kalau butuh uang.
Basirah: Mata Hati, Bukan CCTV Gaib
Banyak orang mengira “mata hati” itu kemampuan supranatural.
Bisa lihat makhluk halus, tahu masa depan, atau menebak isi dompet orang.
Padahal bukan itu.
Mata hati yang hakiki itu sederhana:
melihat Allah di balik segala sesuatu.
Minum kopi → ingat Allah
Melihat matahari → ingat Allah
Kena masalah → tetap ingat Allah
Bukan jadi dukun.
Tapi jadi hamba yang sadar.
Kisah Matahari: Ketika Orang Lain Lihat Panas, Sufi Lihat
Zikir
Ada cerita tentang seorang kyai yang melihat matahari lalu
terdiam.
Bukan karena kepanasan, tapi karena melihat tasbihnya.
Kita lihat matahari:
“Panas banget, AC mana?”
Beliau lihat matahari:
“Subhanallah, makhluk ini tidak pernah berhenti taat.”
Perbedaannya bukan di mata.
Tapi di hati.
Kritik Sosial: Dunia yang Terlalu Sibuk, Tapi Tidak Tahu
Untuk Apa
Pak Kyai juga menyentil dunia modern.
Kita sibuk bekerja, tapi tidak tahu untuk apa.
Kita mengejar sukses, tapi lupa definisinya.
Kita punya segalanya, kecuali ketenangan.
Manusia modern seperti lari di treadmill.
Capek, tapi tidak ke mana-mana.
Tasawuf datang dan berkata:
“Coba berhenti sebentar. Lihat ke dalam.”
Jihad Terbesar Bukan di Medan Perang
Pada akhirnya, musuh terbesar kita bukan orang lain.
Tapi diri sendiri.
Bukan karena kita jahat,
tapi karena kita terlalu sering menuruti nafsu.
Tasawuf mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan
menaklukkan dunia,
tapi menaklukkan diri.
Dan mata hati yang hakiki bukan kemampuan luar biasa,
tapi kesadaran sederhana:
bahwa di balik semua ini, ada Allah.
Kalau hati sudah hidup,
kopi tidak sekadar pahit, tapi penuh makna.
masalah tidak sekadar beban, tapi jalan pulang.
Dan hidup tidak lagi sekadar sibuk,
tapi menjadi perjalanan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.