Kamis, 26 Februari 2026

Antilibrary: Ketika Rak Buku Lebih Sibuk daripada Kita

Di zaman serba cepat ini, manusia modern punya dua hobi utama: menunda dan merasa bersalah. Menunda membaca buku, lalu merasa bersalah karena buku-buku itu menatap kita dengan penuh harap dari rak. Inilah yang disebut TBR pile—tumpukan buku yang nasibnya mirip resolusi tahun baru: dibeli dengan semangat, dilupakan dengan konsisten.

Anehnya, kita sering lebih takut pada rak buku sendiri daripada pada tagihan listrik. Setiap kali melewati tumpukan buku yang belum dibaca, hati kita berbisik, “Kamu ini pembaca atau kolektor kertas?”

Namun, di tengah kegelisahan ini, muncullah seorang pahlawan intelektual dari Italia, Umberto Eco, yang dengan santai berkata: Tenang saja, tidak semua buku harus dibaca. Dan seketika itu juga, jutaan pecinta buku di seluruh dunia menarik napas lega, termasuk yang bukunya masih terbungkus plastik sejak 2018.

Rak Buku Bukan Daftar Tugas

Menurut Eco, menganggap semua buku harus dibaca itu seperti menganggap semua sendok di dapur harus dipakai sebelum beli yang baru. Bayangkan Anda berdiri di dapur, menghitung sendok satu per satu sambil berkata:

“Sendok ke-17 belum saya gunakan, saya belum pantas beli garpu.”

Itu bukan hidup minimalis. Itu hidup penuh tekanan.

Begitu juga dengan buku. Membeli buku bukan berarti menandatangani kontrak kerja dengan halaman-halamannya. Buku bukan atasan Anda. Buku tidak akan mengirim email berjudul: Reminder: Kamu belum membaca Bab 3.

Kalau pun ada, itu mungkin hanya suara hati Anda sendiri—yang sayangnya terlalu rajin bekerja.

Lemari Obat Jiwa

Eco juga punya analogi yang lebih menenangkan: buku itu seperti obat. Kita tidak minum semua obat sekaligus hanya karena sudah membelinya. Kalau begitu, lemari obat kita bukan alat penyembuh, melainkan alat bunuh diri.

Buku bekerja dengan cara yang sama. Anda tidak membaca filsafat saat ingin hiburan ringan. Bayangkan sedang santai sore, lalu membuka buku berat dan tiba-tiba bertanya, “Apa makna eksistensi saya?”

Padahal yang Anda butuhkan hanya cerita ringan, bukan krisis identitas.

Di situlah pentingnya memiliki banyak buku. Itu bukan pemborosan. Itu “apotek jiwa.” Saat galau, Anda punya obat. Saat bosan, ada hiburan. Saat merasa pintar, Anda punya buku yang siap merendahkan Anda kembali ke bumi.

Konsumen atau Kolektor Makna?

Di era digital, membaca sering berubah menjadi lomba cepat. Ada yang bangga membaca 50 buku setahun, meski yang diingat hanya judulnya. Membaca jadi seperti makan prasmanan: ambil banyak, nikmati sedikit, lupa semuanya.

Padahal, buku bukan mi instan. Tidak semua harus “siap dalam 3 menit.”

Ada dua jenis pembaca:

  1. Pembaca kilat: baca, selesai, lupa.
  2. Pembaca setia: baca, simpan, lalu suatu hari membaca ulang sambil berkata, “Oh, dulu saya belum ngerti ini.”

Jenis kedua biasanya punya banyak buku belum dibaca. Dan anehnya, justru itu tanda bahwa dia sadar: ilmu itu luas, dan dia masih kecil di hadapannya.

Antilibrary: Rak yang Merendahkan Ego

Konsep ini kemudian dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb dengan istilah antilibrary. Kedengarannya seperti perpustakaan yang menolak buku. Padahal, justru sebaliknya.

Antilibrary adalah kumpulan buku yang belum dibaca. Dan justru di situlah letak kebijaksanaannya.

Buku yang sudah kita baca sering membuat kita merasa pintar. Buku yang belum kita baca mengingatkan bahwa kita belum tahu apa-apa.

Dan jujur saja, tidak ada yang lebih sehat daripada disadarkan bahwa kita belum sepintar yang kita kira.

Rak buku yang penuh buku belum dibaca itu seperti guru yang diam-diam berkata:
“Tenang saja, kamu masih perlu belajar.”

Rak Buku sebagai Dekorasi Intelektual

Mari kita jujur sedikit: kadang kita membeli buku bukan untuk dibaca, tapi untuk… dilihat.

Ada kepuasan tersendiri melihat rak buku penuh. Tamu datang, melirik, lalu bertanya, “Wah, ini semua sudah dibaca?”

Dan kita menjawab dengan senyum misterius:
“Sebagian… masih proses kontemplasi.”

Padahal “proses kontemplasi” itu sudah berlangsung tiga tahun.

Tapi tidak apa-apa. Rak buku bukan hanya tempat menyimpan bacaan, tapi juga tempat menyimpan niat baik. Dan dalam banyak hal, niat baik itu sudah setengah dari perjalanan.

Buku yang Belum Dibaca Itu Bukan Dosa

Pada akhirnya, buku yang belum dibaca bukanlah tanda kegagalan. Mereka adalah potensi. Mereka adalah kemungkinan. Mereka adalah janji bahwa suatu hari nanti, versi diri kita yang lebih bijak akan datang dan berkata:

“Sekarang aku siap membaca ini.”

Dan kalau hari itu belum datang? Tidak masalah. Buku tidak ke mana-mana. Mereka sabar. Mereka tidak menagih.

Tidak seperti deadline.

Penutup: Banggalah dengan Rakmu

Jadi, lain kali Anda melihat tumpukan buku yang belum dibaca, jangan merasa bersalah. Berdirilah dengan bangga di depannya.

Karena di situlah tersimpan:

  • rasa ingin tahu,
  • kerendahan hati,
  • dan sedikit ilusi bahwa kita akan punya waktu luang suatu hari nanti.

Dan kalau pun tidak sempat membaca semuanya, setidaknya kita sudah melakukan satu hal penting:

Membeli kemungkinan untuk menjadi lebih bijak.

Yang, kalau dipikir-pikir, jauh lebih murah daripada membeli kebijaksanaan itu sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.