Di zaman modern ini, ketika segala sesuatu bisa dipesan lewat aplikasi—dari nasi goreng hingga ojek—rupanya ada satu kebiasaan yang diam-diam ikut terdigitalisasi: cara kita beribadah. Tanpa sadar, sebagian dari kita memperlakukan Tuhan seperti layanan e-commerce: “Saya sudah checkout ibadah, tolong kirim rezeki hari ini, ” Jika bisa, mungkin ada fitur tracking: “Ya Allah, paket keberkahan saya sudah sampai mana?”
Padahal, kalau kita mau sedikit mundur dan duduk manis di
pengajian tasawuf, khususnya yang membahas kitab karya Ibnu Atha'illah
as-Sakandari, kita akan disadarkan bahwa selama ini mungkin kita keliru alamat.
Kita mengira ibadah itu semacam investasi dengan ROI (Return on Iman) yang
harus terlihat cepat. Padahal, bisa jadi kita sedang menanam mangga sambil
marah-marah karena belum panen dalam tiga hari.
Anugerah Itu Bukan Flash Sale
Kita sering mengira anugerah itu seperti diskon besar di
tanggal kembar: rezeki melimpah, karier menanjak, atau minimal dapat parkiran
dekat pintu masuk mall. Namun dalam dunia tasawuf, anugerah terbesar justru
lebih sederhana—dan ironisnya, sering tidak kita sadari.
Anugerah itu adalah ketika kita masih bisa bangun subuh
tanpa drama lima episode dengan alarm. Ketika kaki ini masih mau melangkah ke
masjid, dan hati ini masih bisa berkata, “Ya Allah, aku pasrah.” Itu sudah
paket premium, bukan paket hemat.
Seperti yang pernah dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, nikmat
itu bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju Sang Pemberi Nikmat. Jadi kalau
kita berhenti di nikmatnya saja—misalnya sibuk menikmati kopi tapi lupa siapa
yang traktir—itu namanya kurang sopan secara spiritual.
Wirid vs Warid: Antara Kerja Harian dan Bonus Tahunan
Dalam dunia sufistik, ada dua istilah yang terdengar seperti
nama startup tapi sebenarnya sangat serius: wirid dan warid.
- Wirid
adalah kerja rutin: salat, zikir, sedekah. Ini ibarat absen harian kita
sebagai hamba.
- Warid
adalah bonus: rasa tenang, haru, atau “merinding spiritual” yang kadang
muncul saat ibadah.
Masalahnya, kita sering kebalik. Kita semangat kerja kalau
ada bonus, tapi malas kerja kalau bonusnya tidak terasa. Ibadah jadi seperti
kerja freelance: “Kalau tidak ada feeling, saya skip dulu, ya.”
Padahal, dalam logika tasawuf, wirid itu
kewajiban—tidak perlu menunggu mood. Sedangkan warid itu hadiah—tidak
bisa dituntut. Kalau kita memaksa, jadinya seperti karyawan yang belum kerja
tapi sudah tanya, “THR saya mana?”
Rest Area Spiritual: Jangan Ngira Itu Tujuan
Salah satu analogi paling menarik adalah soal rest area.
Bayangkan kita sedang perjalanan ke Bandung. Di tengah jalan, kita berhenti di rest
area yang nyaman: ada kopi, wifi, dan toilet bersih. Lalu kita berkata,
“Wah, ini enak. Kita tinggal di sini saja.”
Padahal, tujuan kita bukan rest area, tapi Bandung.
Begitu juga dalam ibadah. Kadang kita merasakan ketenangan,
keharuan, atau “cahaya batin”. Itu semua indah—tapi hanya rest area.
Kalau kita berhenti di sana, kita bisa lupa tujuan utama: Allah.
Jangan sampai kita sibuk foto-foto di rest area spiritual,
upload caption “MasyaAllah vibes banget”, tapi lupa melanjutkan perjalanan.
Ibadah Bukan Mesin ATM
Fenomena yang cukup menggelitik adalah ketika ibadah
dijadikan mesin ATM. Kita mendekat kepada Allah dengan daftar permintaan:
- Ya
Allah, lancarkan rezeki.
- Ya
Allah, sembuhkan penyakit.
- Ya
Allah, naikkan jabatan.
Semua itu tentu boleh. Tapi kalau itu satu-satunya alasan
kita beribadah, berarti kita menjadikan Tuhan sebagai alat, bukan tujuan.
Ini seperti berteman hanya karena butuh WiFi. Selama sinyal
kencang, kita setia. Begitu lemot, kita pindah ke tetangga.
Padahal, dalam tasawuf, logikanya dibalik: nikmat itu alat
untuk mendekat kepada Allah, bukan Allah alat untuk mendapatkan nikmat.
Ketika Bangun Malam Lebih Mahal dari Saham
Pada akhirnya, pengajian ini mengajak kita untuk melakukan reorientasi
spiritual. Bahwa kesuksesan bukanlah ketika semua doa dikabulkan instan
seperti pesan makanan cepat saji.
Kesuksesan sejati adalah ketika kita masih “diizinkan” untuk
taat.
Bayangkan, di tengah dunia yang penuh distraksi, kita masih
bisa bangun malam, masih mau sujud, masih ingin berzikir. Itu bukan kebetulan.
Itu undangan. Dan tidak semua orang mendapatkannya.
Maka, ibadah bukanlah struk belanja yang harus ditukar
dengan barang. Ia adalah kesempatan untuk hadir di hadapan-Nya. Dan bisa jadi,
kesempatan itu sendiri adalah hadiah terbesar.
Jadi lain kali kita beribadah, mungkin kita tidak perlu
bertanya, “Saya dapat apa?”
Cukup bertanya, “Saya masih dipanggil atau tidak?”
Karena dalam dunia tasawuf, dipanggil itu lebih mewah
daripada dikabulkan.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.