Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang percaya hidup itu soal makan, tidur, dan cicilan… dan yang percaya hidup itu perjalanan spiritual menuju hakikat keberadaan. Menariknya, kedua jenis manusia ini seringkali adalah orang yang sama—terutama menjelang tanggal tua.
Tulisan tentang Mata Hati ini sebenarnya mengajak kita menyelam ke dalam diri. Tapi sebelum menyelam terlalu dalam, ada baiknya kita cek dulu: ini kita mau menyelam ke samudra batin… atau sekadar nyemplung ke kolam overthinking?
Dua Dunia dalam Satu Tubuh (dan Satu WiFi Lemot)
Konon, manusia hidup di dua dimensi: zahir dan batin. Zahir itu yang kelihatan—yang difoto, diposting, dan diberi filter. Batin itu yang tak kelihatan—yang biasanya muncul jam 2 pagi saat kita tiba-tiba mikir, “Aku ini sebenarnya ngapain, ya, di dunia?”
Zahir adalah tubuh kita: makan, jalan, kerja, dan pura-pura produktif. Batin adalah bagian diri yang suka bertanya, “Apakah ini semua ada maknanya?” lalu dijawab dengan, “Nanti dulu, deadline besok pagi.”
Di satu sisi, kita ini makhluk spiritual yang punya Latifah Rabbaniah. Di sisi lain, kita juga makhluk yang makan mie instan tiga kali sehari sambil bilang, “Ini sementara saja.”
Mata Fisik vs Mata Hati: Antara Lihat dan ‘Sadar’
Tulisan ini bilang bahwa ada perbedaan antara melihat dan menyaksikan. Mata fisik cuma lihat bungkus. Mata hati melihat isi.
Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering terjebak di level bungkus. Kita lihat kopi, yang kita pikirkan: “Ini estetik buat story.” Padahal mata hati mungkin ingin berkata, “Ini rezeki dari Tuhan.” Tapi kalah cepat dengan, “Lighting-nya bagus nggak, ya?”
Contoh paling sederhana: lada. Mata melihat bentuknya kecil. Lidah merasakan pedasnya. Tapi mata hati katanya bisa melihat hakikat lada itu sendiri.
Namun jujur saja, kebanyakan dari kita baru sadar hakikat lada setelah kepedasan, minum air, dan bertanya pada kehidupan, “Kenapa aku makan ini tadi?”
Itu pun bukan karena mata hati terbuka, tapi karena lidah terbakar.
Hijab Nafsu: Debu yang Lebih Halus dari Notifikasi
Menurut tulisan ini, mata hati kita sering tertutup oleh hijab nafsu. Nafsu itu seperti debu di kacamata. Semakin banyak debu, semakin buram penglihatan.
Dalam praktiknya, debu ini sering hadir dalam bentuk yang sangat modern: notifikasi, diskon, dan keinginan checkout barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan tapi “lumayan lucu”.
Kita ingin hidup tenang, tapi juga ingin sukses. Ingin sederhana, tapi juga ingin upgrade HP. Ingin zuhud, tapi flash sale cuma 5 menit lagi.
Akhirnya, mata hati kalah dengan mata diskon.
Kita jadi melihat hidup hanya sebagai sebab-akibat: kerja → capek → gaji → habis → ulang lagi. Kita lupa bahwa mungkin di balik semua itu ada skenario Ilahi… atau minimal ada hikmah kenapa saldo selalu tinggal segitu.
Tawakal: Antara Pasrah dan ‘Ya Sudahlah’
Tulisan ini juga menyinggung tentang tawakal: menyerahkan diri kepada Tuhan. Dalam kondisi ideal, ini adalah puncak spiritualitas. Dalam kondisi sehari-hari, ini sering berubah menjadi, “Ya sudah, kita lihat saja nanti.”
Bedanya tipis, tapi dampaknya besar.
Orang yang benar-benar tawakal itu tenang. Orang yang “ya sudahlah” itu juga tenang… tapi karena sudah menyerah sebelum berjuang.
Namun, ketika hati mulai jernih, katanya kita bisa melihat lebih dalam. Kita tidak lagi panik menghadapi hidup. Kita mulai sadar bahwa tidak semua harus kita kontrol.
Walau, tentu saja, kita tetap panik kalau kuota habis di tengah meeting.
Menuju Mata Hati yang Jernih (Tanpa Harus Jadi Pertapa)
Pesan utama tulisan ini sebenarnya sederhana: bersihkan hati, kurangi nafsu, maka mata batin akan terbuka.
Tapi praktiknya tidak sesederhana itu. Karena setiap kali kita ingin hidup sederhana, dunia justru menawarkan “versi premium”.
Kita ingin mengurangi ego, tapi masih ingin menang debat di grup WhatsApp. Kita ingin jernih, tapi juga ingin diakui. Kita ingin dekat dengan Tuhan, tapi juga ingin sinyal kuat.
Namun mungkin memang di situlah perjalanan manusia: bukan langsung menjadi suci, tapi perlahan sadar bahwa kita sering tertipu oleh bungkus.
Bahwa hidup bukan hanya soal apa yang terlihat, tapi juga apa yang tersembunyi.
Dan bahwa “melek” yang sesungguhnya bukan ketika mata terbuka… tapi ketika kita berhenti mengira bahwa semua yang kita lihat adalah kebenaran.
Antara Samudra Batin dan Tagihan Bulanan
Akhirnya, perjalanan menuju mata hati bukan berarti kita harus meninggalkan dunia dan hidup di gua. Kita tetap bisa bekerja, makan, tertawa, bahkan tetap belanja—asal sadar bahwa semua itu bukan tujuan akhir.
Bahwa di balik setiap kejadian—bahkan yang sepele—mungkin ada makna yang lebih dalam.
Atau minimal, ada pelajaran.
Seperti ketika kita kepedasan karena makan lada berlebihan: pelajarannya sederhana—kadang hidup tidak perlu terlalu diuji, cukup dinikmati saja.
Dan mungkin, di situlah mata hati mulai terbuka: ketika kita bisa tertawa pada diri sendiri… sambil tetap mencari makna, meski sambil makan seblak.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.