Sabtu, 28 Februari 2026

Ketika Dunia Jadi Catur Raksasa: Amerika, Iran, dan China yang Ikut Nimbrung

Ada dua tipe orang di dunia ini: yang lihat berita konflik internasional lalu bilang, “Wah, gawat ini,” dan yang lihat berita yang sama lalu bilang, “Hmm… ini pasti ada ‘plot twist’.” Nah, tulisan Ibrahim Majed ini jelas ditujukan untuk tipe kedua—yang kalau lihat kapal induk lewat, bukannya takut, malah mikir, “Ini pasti bukan sekadar patroli, ini pasti lagi syuting film geopolitik.”

Postingannya yang berjudul “AMERICA IS PREPARING FOR CHINA, NOT IRAN” itu ibarat teman yang tiba-tiba bilang, “Sebenarnya, kamu putus itu bukan karena dia… tapi karena konspirasi global.” Kedengarannya agak dramatis, tapi juga bikin penasaran. Masa iya semua ini cuma tentang Iran? Jangan-jangan Iran cuma figuran, sementara tokoh utamanya diam-diam adalah China.

Kalau kita pakai analogi sederhana, dunia ini menurut Majed seperti papan catur raksasa. Amerika adalah pemain yang duduk santai sambil minum kopi, kelihatannya fokus makan pion di depan (Iran), tapi sebenarnya lagi ngincer ratu di ujung papan (China). Jadi ketika Amerika menggerakkan kapal induk ke Teluk Persia, itu bukan sekadar, “Eh Iran, sini berantem,” tapi lebih ke, “China, lihat ya… aku lagi pemanasan.”

Dan Iran? Dia ini posisinya unik. Dalam narasi Majed, Iran itu bukan sekadar negara, tapi seperti pintu kos yang semua orang harus lewati. Mau ke Eurasia? Lewat Iran. Mau kirim energi? Lewat Iran. Mau bikin jalur perdagangan darat yang bikin kapal Amerika jadi agak kurang laku? Lagi-lagi… lewat Iran. Jadi, kalau geopolitik itu rumah besar, Iran ini penjaga gerbang yang pegang kunci sambil bilang, “Mau masuk? Ngobrol dulu.”

Di sisi lain, China dan Rusia digambarkan seperti anak-anak yang lagi bangun jalan pintas biar nggak perlu lewat jalan tol Amerika. Mereka bikin jalur kereta, pipa energi, dan koridor perdagangan yang kalau berhasil, bisa bikin dominasi laut Amerika jadi agak “kurang eksklusif.” Ibaratnya, selama ini Amerika punya bisnis ojek online laut, eh tiba-tiba Eurasia bikin jalan darat sendiri. Ya jelas ada yang mulai gelisah.

Masalahnya, dunia nyata tidak sesederhana papan catur. Ini lebih mirip permainan monopoli yang pemainnya terlalu banyak, aturan sering berubah, dan kadang ada yang tiba-tiba balik meja. Menganggap Iran cuma “alasan” itu seperti bilang nasi goreng cuma “pelengkap” di warung makan. Padahal ya… itu menu utamanya.

Ketegangan dengan Iran bukan hal baru. Ini bukan konflik dadakan gara-gara Amerika bosan. Ini sudah seperti sinetron panjang yang episodenya nggak habis-habis. Dari isu nuklir sampai politik regional, semuanya punya ceritanya sendiri. Jadi kalau ada yang bilang, “Ah, Iran itu cuma alasan,” rasanya seperti nonton film lalu skip setengah cerita dan langsung ke teori konspirasi di akhir.

Lucunya lagi, di dalam Amerika sendiri pun tidak semua sepakat. Ada yang bilang, “Fokus dong ke China, itu lawan masa depan.” Ada juga yang bilang, “Jangan buka front baru, kita masih capek dari konflik lama.” Ini seperti rapat keluarga besar yang semua orang punya pendapat, tapi nggak ada yang mau jadi bendahara.

Sementara itu, China dan Rusia juga bukan sekadar penonton. Mereka ini seperti teman yang awalnya cuma nonton dari jauh, tapi pelan-pelan mulai ikut nyumbang—entah itu dukungan diplomatik, kerja sama militer, atau sekadar komentar, “Tenang, kami di sini kok.” Jadi kalau ada konflik, itu bukan lagi duel satu lawan satu, tapi sudah mulai terasa seperti pertandingan ramai-ramai.

Pada akhirnya, tulisan Majed itu seperti kacamata baru: dipakai, dunia langsung terlihat lebih “dramatis.” Semua gerakan punya makna tersembunyi, semua konflik punya lapisan rahasia. Memang ada benarnya—dalam geopolitik, jarang ada yang benar-benar kebetulan. Tapi kalau semua dianggap strategi besar, nanti kita bisa-bisa curiga bahkan pada kapal nelayan yang lagi cari ikan.

Jadi, apakah Amerika benar-benar sedang latihan menghadapi China lewat Iran? Bisa jadi. Apakah Iran cuma figuran? Sepertinya tidak. Dunia ini terlalu kompleks untuk dijelaskan dengan satu teori saja. Ini bukan catur, ini bukan monopoli—ini campuran keduanya, ditambah sedikit drama, sedikit ego, dan banyak kepentingan.

Yang jelas, setiap kapal yang berlayar di Teluk Persia bukan cuma membawa pesawat tempur, tapi juga pesan: bahwa dunia sedang berubah, dan semua orang sedang berusaha memastikan mereka tidak jadi penonton di babak berikutnya.

Dan kita? Ya seperti biasa—duduk, baca berita, sambil berharap dunia ini tidak tiba-tiba masuk ke mode “hard level.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.