Di zaman ketika manusia bisa memesan kopi tanpa bangun dari kursi, menonton ceramah sambil rebahan, dan merasa tercerahkan hanya karena menekan tombol “like”, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang mengganggu kenyamanan: kenapa hati tetap kosong? Padahal, Wi-Fi lancar, notifikasi ramai, dan kuota aman sentosa.
Barangkali, masalahnya bukan pada jaringan internet,
melainkan pada jaringan batin yang sudah lama “mode pesawat”.
Di sinilah ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani hadir seperti teknisi spiritual yang berkata, “Coba restart hati Anda, sudah terlalu lama tidak dipakai.”
Alam Rohani: Bukan Dunia Mistis, Tapi Dunia yang Kita
Abaikan
Banyak orang membayangkan “alam rohani” itu seperti film
horor: penuh bayangan, suara misterius, dan mungkin bonus penampakan gratis.
Padahal, menurut para sufi, alam rohani itu bukan di luar sana—ia justru ada di
dalam diri kita sendiri.
Masalahnya, kita lebih sering merawat layar daripada jiwa.
Kita tahu cara membersihkan cache HP, tapi lupa membersihkan
iri hati. Kita rajin update aplikasi, tapi jarang update kesabaran. Bahkan,
sebagian dari kita mungkin lebih takut kehilangan charger daripada kehilangan
ketenangan batin.
Padahal, dalam perspektif tasawuf, manusia itu punya dua
perangkat utama:
- Zahir
(lahir): yang dipakai untuk selfie, kerja, dan scroll tanpa tujuan.
- Batin
(dalam): yang seharusnya dipakai untuk mengenal makna hidup—tapi
sering “error 404: not found”.
Untuk mengaktifkan batin ini, tidak cukup hanya membaca
caption bijak atau menonton video motivasi sambil ngemil. Diperlukan latihan
serius—mujahadah dan riyadhah. Singkatnya: bukan cuma niat, tapi
juga usaha.
Dan yang paling penting: butuh guru. Karena kalau belajar spiritual sendirian, risikonya bukan sekadar salah paham—tapi bisa jadi merasa sudah “sampai”, padahal baru masuk gerbang.
Pejuang Rohani: Bukan yang Galak, Tapi yang Sabar
Istilah “pejuang” biasanya identik dengan otot, teriakan,
atau minimal postingan yang penuh semangat. Tapi dalam dunia tasawuf, pejuang
sejati justru sering terlihat biasa saja—bahkan cenderung kalem.
Karena musuh mereka bukan orang lain, melainkan diri
sendiri.
Kalau kita jujur, musuh terbesar kita itu bukan tetangga
yang suka nyetel musik keras, tapi ego yang suka merasa benar sendiri. Bukan
juga orang yang menyebalkan, tapi amarah yang mudah meledak tanpa aba-aba.
Dalam bahasa sufi, ini disebut jihad akbar: perang
besar melawan hawa nafsu.
Dan menariknya, senjata yang dipakai bukan pedang, melainkan
sifat-sifat yang “kurang populer” di era sekarang:
- Sabar
saat disakiti (padahal ingin balas lebih pedas)
- Rendah
hati saat berhasil (padahal ingin pamer)
- Memaafkan
saat bisa membalas (padahal jempol sudah siap mengetik)
Intinya, pejuang rohani itu tidak sibuk menaklukkan dunia,
tapi sibuk menaklukkan dirinya sendiri.
Kalau dalam game, ini seperti mode “hard”—musuhnya selalu respawn, dan lokasinya persis di dalam hati.
Tawadhu’: Seni Tidak Merasa Paling Hebat
Salah satu ciri utama pejuang rohani adalah tawadhu’—rendah
hati. Ini bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tapi sadar bahwa
semua kebaikan itu bukan murni hasil usaha kita.
Masalahnya, di era digital, kerendahan hati sering kalah
oleh kebutuhan untuk terlihat keren.
Sedikit berbuat baik, langsung ingin dibagikan. Sedikit
belajar, langsung ingin mengajar. Baru paham satu istilah Arab, sudah siap
membuka kelas online.
Padahal, dalam logika spiritual, semakin seseorang dekat
dengan Tuhan, semakin ia merasa kecil. Bukan semakin merasa “level dewa”.
Orang yang benar-benar dalam biasanya justru lebih banyak diam—bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu bahwa dirinya belum seberapa.
Sufi di Era Digital: Antara Pencerahan dan “Sufi Instan”
Kehadiran kanal seperti ini sebenarnya
seperti oase di tengah gurun konten hiburan. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan
hanya tentang produktivitas, tapi juga tentang makna.
Namun, ada satu tantangan besar: kita hidup di zaman serba
instan.
Akibatnya, muncul fenomena baru: “Sufi instan”.
- Ingin
damai tanpa sabar
- Ingin
dekat dengan Tuhan tanpa disiplin
- Ingin
makrifat, tapi masih sensitif di kolom komentar
Padahal, jalan spiritual itu bukan jalan pintas. Ia lebih
mirip perjalanan panjang tanpa Google Maps—harus sabar, harus belajar, dan
kadang harus tersesat dulu supaya tahu arah.
Karena itu, penting untuk tetap rendah hati dalam belajar. Video, tulisan, atau ceramah hanyalah pintu—bukan tujuan akhir.
Upgrade Hati, Bukan Sekadar Perangkat
Pada akhirnya, pesan tasawuf itu sederhana tapi menantang:
hidup bukan hanya soal apa yang kita miliki, tapi siapa kita di hadapan Tuhan.
Di dunia yang sibuk memperbarui teknologi, mungkin kita
perlu bertanya:
kapan terakhir kali kita memperbarui hati?
Karena bisa jadi, masalah kita bukan kurang informasi—tapi
kurang transformasi.
Dan mungkin, di tengah segala kecanggihan ini, yang paling
kita butuhkan bukan koneksi 5G, melainkan koneksi batin yang stabil.
Tidak perlu sinyal penuh—yang penting terhubung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.