Di zaman ketika manusia lebih hafal password Wi-Fi tetangga daripada isi buku sendiri, muncul sebuah kisah yang membuat kita berhenti sejenak—atau setidaknya berhenti scrolling selama tiga detik. Pada 22 Februari 2026, akun @ExplorerMoment membagikan potret seorang pria bernama Muhammad Aziz, 72 tahun, yang telah membaca lebih dari lima ribu buku. Lima ribu! Angka yang bagi sebagian dari kita terasa seperti jumlah tab yang terbuka di browser—bedanya, tab kita tidak pernah selesai dibaca.
Muhammad Aziz bukan profesor, bukan pula influencer literasi dengan feed estetik. Ia hanya penjaga toko buku tua di pinggir jalan, dengan dekorasi yang mungkin lebih jujur daripada katalog minimalis IKEA. Di tokonya, tumpukan buku menjulang seperti ambisi resolusi tahun baru: tinggi, banyak, dan sedikit mengintimidasi. Ada poster Charlie Chaplin di dinding—mungkin sebagai pengingat bahwa hidup ini memang lebih lucu kalau kita tidak terlalu banyak bicara, apalagi debat di kolom komentar.
Yang paling mengejutkan bukan jumlah buku yang ia baca, tapi cara ia menjaga tokonya. Tidak ada CCTV. Tidak ada alarm. Tidak ada tulisan “Anda diawasi oleh 8 kamera dan 3 malaikat pencatat amal.” Tokonya dibiarkan terbuka begitu saja. Ketika ditanya apakah ia tidak takut bukunya dicuri, ia menjawab dengan santai, seolah-olah sedang membahas cuaca:
“Seorang pembaca tidak mencuri, dan seorang pencuri tidak membaca.”
Kalimat ini terdengar seperti kutipan bijak yang biasa kita simpan di status WhatsApp, tapi jarang kita praktikkan. Di dunia modern, kita cenderung berpikir sebaliknya: “Semua orang berpotensi mencuri, jadi lebih baik kita pasang CCTV, alarm, dan mungkin jebakan laser seperti di film.”
Muhammad Aziz, sebaliknya, percaya bahwa membaca adalah antivirus moral. Ia tampaknya yakin bahwa orang yang sudah akrab dengan buku akan berpikir dua kali sebelum mencuri—bukan karena takut tertangkap, tapi karena malu sama karakter utama novel yang baru saja ia baca. Bayangkan Anda baru saja membaca kisah kejujuran, lalu keluar toko sambil menyelipkan buku di balik jaket. Bahkan tokoh fiksi pun akan menggeleng kecewa.
Di sudut toko, seekor kucing oranye tidur nyenyak di antara tumpukan buku. Ini mungkin satu-satunya sistem keamanan yang benar-benar berfungsi: kucing yang terlalu santai untuk peduli. Jika ada pencuri masuk, kucing itu mungkin hanya membuka satu mata, lalu kembali tidur sambil berpikir, “Kalau dia mencuri buku, mungkin dia sedang mencoba memperbaiki diri.”
Bandingkan dengan kehidupan kita sekarang. Kita hidup di era di mana satu paket datang saja harus difoto dari tiga sudut, ditandatangani, dan dilacak sampai ke tingkat molekul. Kita percaya pada rekaman video, bukan pada niat baik. Bahkan kadang kita lebih percaya pada algoritma daripada pada tetangga sendiri.
Muhammad Aziz hadir seperti bug dalam sistem modernitas—sebuah error yang justru menyenangkan. Ia hidup seolah-olah dunia masih bisa dipercaya. Ia membaca enam hingga delapan jam sehari, jumlah waktu yang bagi kita biasanya dihabiskan untuk “sebentar saja” yang berubah menjadi tiga jam tanpa sadar.
Namun tentu saja, idealisme ini tidak selalu cocok di semua tempat. Beberapa orang mungkin berkata, “Kalau toko saya seperti itu, bukan hanya buku yang hilang, raknya sekalian.” Dan mungkin mereka tidak sepenuhnya salah. Dunia tidak selalu seindah peribahasa.
Tapi justru di situlah kekuatan kisah ini. Muhammad Aziz tidak sedang membuat teori sosial atau kebijakan publik. Ia hanya menjalani keyakinannya sendiri—bahwa pengetahuan membentuk karakter, dan bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang layak dipertahankan, meski dunia terus memberi alasan untuk meragukannya.
Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang seorang pria dan ribuan buku. Ini tentang sebuah pertanyaan sederhana yang mulai terasa asing: apakah kita masih percaya pada kebaikan manusia?
Atau jangan-jangan kita sudah terlalu sibuk mengamankan barang, sampai lupa mengamankan hati?
Muhammad Aziz mungkin tidak punya CCTV, tapi ia punya sesuatu yang lebih langka: keyakinan bahwa membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengurangi niat jahat. Dan di dunia yang penuh password, enkripsi, dan verifikasi dua langkah, mungkin itulah sistem keamanan paling canggih yang pernah ada.
Meskipun, tentu saja… tetap lebih aman kalau Anda tidak meninggalkan dompet di sana. Kita bijak, tapi tidak naif.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.