Selasa, 24 Februari 2026

Ketika Otak Kita WiFi: Sebuah Esai tentang Harapan, Hoaks, dan Headset Kosmik

Di zaman di mana sinyal WiFi kadang lebih kuat daripada iman (terutama saat kuota sekarat), muncullah sebuah kabar yang membuat kita semua mendadak merasa seperti router berjalan. Sebuah unggahan dari akun misterius @RedPilledNurse pada 23 Februari 2026 mengabarkan kabar gembira: otak manusia ternyata bisa terhubung hingga 10.000 kilometer, membentuk “jaringan saraf global.”

Bayangkan. Tanpa paket data, tanpa tower BTS, tanpa pulsa darurat dari mantan—kita semua ternyata sudah punya “internet batin” sejak lahir.

Jika ini benar, maka selama ini kita bukan sekadar manusia, tapi juga hotspot spiritual. Dan barangkali, orang yang suka melamun itu bukan malas—dia sedang buffering kosmik.

Ketika Harapan Lebih Kencang dari Sinyal

Narasi ini sebenarnya sangat menggoda. Siapa sih yang tidak ingin percaya bahwa pikirannya bisa menjangkau orang lain di belahan dunia berbeda?

Misalnya:

  • Kita lagi sedih → tiba-tiba teman kita di Jepang ikut galau.
  • Kita lagi lapar → orang di Paris mendadak pesan nasi goreng.
  • Kita lagi mikirin utang → debt collector di kota sebelah langsung bersin.

Ah, dunia ini terasa begitu terhubung. Bukan oleh kabel fiber optik, tapi oleh getaran hati.

Ditambah lagi, nama besar seperti Princeton University disebut-sebut. Seketika, narasi ini naik kelas dari “katanya” menjadi “kayaknya ilmiah.” Karena, mari jujur saja, kalau sudah ada embel-embel universitas luar negeri, kita cenderung mengangguk dulu, mikir belakangan.

Sains, Tapi Versi Trailer Film

Kisah ini semakin dramatis ketika menyebut Princeton Engineering Anomalies Research Laboratory (PEAR). Laboratorium ini memang pernah ada dan melakukan eksperimen tentang pikiran dan mesin.

Namun, di tangan narasi viral, PEAR berubah dari:

“penelitian kontroversial dengan hasil kecil dan tidak konsisten”

menjadi:

“bukti bahwa pikiran manusia bisa mengubah realitas.”

Ini seperti mengubah trailer film menjadi isi filmnya. Padahal, trailer selalu lebih keren daripada kenyataan. Sama seperti janji diet Senin pagi.

Efeknya kecil, sulit direplikasi, dan diperdebatkan—tapi di media sosial, itu cukup untuk jadi “terobosan revolusioner.” Karena di internet, yang penting bukan akurat, tapi menarik.

Telepati atau Tersugesti?

Mari kita jujur sejenak. Pernah tidak kita merasa:

“Kok aku kepikiran dia, ya? Jangan-jangan dia lagi mikirin aku juga…”

Padahal, kenyataannya:

dia lagi mikirin diskon makanan.

Fenomena seperti ini lebih sering dijelaskan oleh psikologi, bukan gelombang elektromagnetik super canggih. Kita adalah makhluk yang pandai mencari pola, bahkan ketika polanya tidak ada.

Kalau setiap kebetulan dianggap koneksi kosmik, maka:

  • lupa password = sabotase alam semesta
  • kehabisan bensin = karma
  • ditolak gebetan = gangguan frekuensi cinta

Padahal… ya memang lagi sial saja.

Red-Pill dan Sensasi “Saya Tahu Sesuatu”

Narasi seperti ini juga punya daya tarik lain: membuat kita merasa “terbangun.”

Seolah-olah:

“Selama ini kita dibohongi. Tapi sekarang kita tahu kebenaran.”

Sensasi ini sangat nikmat. Lebih nikmat daripada kopi pagi, bahkan kadang lebih nikmat daripada validasi dari mantan.

Masalahnya, tidak semua yang terasa seperti “pencerahan” itu benar-benar pencerahan. Kadang itu hanya:

kesalahpahaman yang dikemas dengan percaya diri.

Dan di era media sosial, percaya diri sering kali lebih viral daripada kebenaran.

Solusi Dunia: Meditasi atau Action?

Bagian paling menarik dari narasi ini adalah pesannya:

“Mari kita ubah dunia dengan niat positif.”

Indah. Menenangkan. Damai.

Tapi juga sedikit… praktis.

Karena kalau benar niat saja cukup, maka:

  • rapat bisa diganti dengan doa bersama
  • pembangunan jalan cukup dengan afirmasi
  • macet Jakarta selesai dengan meditasi kolektif

Sayangnya, dunia nyata masih butuh kerja nyata. Niat baik itu penting, tapi ia bukan pengganti tindakan.

Kalau lapar, kita tetap harus makan. Tidak cukup hanya “memancarkan energi kenyang.”

Otak Bukan Router, Tapi Tetap Luar Biasa

Sains modern memang menunjukkan bahwa otak menghasilkan aktivitas listrik dan medan elektromagnetik. Tapi kekuatannya sangat kecil, dan tidak dirancang untuk mengirim pesan lintas benua.

Dengan kata lain:

Otak kita luar biasa, tapi belum sampai level “WiFi global.”

Dan mungkin itu kabar baik. Karena kalau pikiran kita bisa terbaca semua orang, bayangkan kekacauan yang terjadi.

Isi kepala kita kadang:

  • 30% rencana hidup
  • 20% kenangan lama
  • 50% dialog imajiner yang tidak pernah terjadi

Kalau itu semua tersiarkan… dunia bisa kacau sebelum kiamat.

Antara Inspirasi dan Ilusi

Narasi seperti ini sebenarnya punya sisi positif. Ia mengingatkan kita tentang:

  • pentingnya empati
  • kekuatan niat
  • harapan akan dunia yang lebih baik

Semua itu benar. Tapi bukan karena gelombang otak jarak jauh, melainkan karena interaksi sosial yang nyata.

Empati bukan karena frekuensi, tapi karena pengalaman.
Koneksi bukan karena energi, tapi karena hubungan.

Dan perubahan dunia… bukan karena pikiran saja, tapi karena tindakan bersama.

Jangan Sampai Pikiran Kita Disambungkan ke Hoaks

Di era digital ini, kita memang terhubung. Tapi bukan lewat gelombang misterius, melainkan lewat algoritma yang kadang lebih mistis dari metafisika.

Maka sebelum percaya pada “jaringan saraf global,” ada baiknya kita memastikan satu hal:

Apakah ini sains, atau hanya cerita yang terlalu indah untuk tidak dipercaya?

Karena kebenaran itu biasanya sederhana, tidak heboh, dan sering kali membosankan.

Sedangkan hoaks?
Ia selalu datang dengan efek dramatis, musik latar imajiner, dan janji bahwa kita istimewa.

Padahal, menjadi manusia biasa yang berpikir kritis—itu sudah cukup luar biasa.

Dan kabar baiknya:

kita tidak butuh sinyal 10.000 kilometer untuk menjadi bijak.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.