Di zaman di mana sinyal WiFi kadang lebih kuat daripada iman (terutama saat kuota sekarat), muncullah sebuah kabar yang membuat kita semua mendadak merasa seperti router berjalan. Sebuah unggahan dari akun misterius @RedPilledNurse pada 23 Februari 2026 mengabarkan kabar gembira: otak manusia ternyata bisa terhubung hingga 10.000 kilometer, membentuk “jaringan saraf global.”
Bayangkan. Tanpa paket data, tanpa tower BTS, tanpa pulsa
darurat dari mantan—kita semua ternyata sudah punya “internet batin” sejak
lahir.
Jika ini benar, maka selama ini kita bukan sekadar manusia,
tapi juga hotspot spiritual. Dan barangkali, orang yang suka melamun itu bukan
malas—dia sedang buffering kosmik.
Ketika Harapan Lebih Kencang dari Sinyal
Narasi ini sebenarnya sangat menggoda. Siapa sih yang tidak
ingin percaya bahwa pikirannya bisa menjangkau orang lain di belahan dunia
berbeda?
Misalnya:
- Kita
lagi sedih → tiba-tiba teman kita di Jepang ikut galau.
- Kita
lagi lapar → orang di Paris mendadak pesan nasi goreng.
- Kita
lagi mikirin utang → debt collector di kota sebelah langsung bersin.
Ah, dunia ini terasa begitu terhubung. Bukan oleh kabel
fiber optik, tapi oleh getaran hati.
Ditambah lagi, nama besar seperti Princeton University
disebut-sebut. Seketika, narasi ini naik kelas dari “katanya” menjadi “kayaknya
ilmiah.” Karena, mari jujur saja, kalau sudah ada embel-embel universitas luar
negeri, kita cenderung mengangguk dulu, mikir belakangan.
Sains, Tapi Versi Trailer Film
Kisah ini semakin dramatis ketika menyebut Princeton
Engineering Anomalies Research Laboratory (PEAR). Laboratorium ini memang
pernah ada dan melakukan eksperimen tentang pikiran dan mesin.
Namun, di tangan narasi viral, PEAR berubah dari:
“penelitian kontroversial dengan hasil kecil dan tidak
konsisten”
menjadi:
“bukti bahwa pikiran manusia bisa mengubah realitas.”
Ini seperti mengubah trailer film menjadi isi filmnya.
Padahal, trailer selalu lebih keren daripada kenyataan. Sama seperti janji diet
Senin pagi.
Efeknya kecil, sulit direplikasi, dan diperdebatkan—tapi di
media sosial, itu cukup untuk jadi “terobosan revolusioner.” Karena di
internet, yang penting bukan akurat, tapi menarik.
Telepati atau Tersugesti?
Mari kita jujur sejenak. Pernah tidak kita merasa:
“Kok aku kepikiran dia, ya? Jangan-jangan dia lagi mikirin
aku juga…”
Padahal, kenyataannya:
dia lagi mikirin diskon makanan.
Fenomena seperti ini lebih sering dijelaskan oleh psikologi,
bukan gelombang elektromagnetik super canggih. Kita adalah makhluk yang pandai
mencari pola, bahkan ketika polanya tidak ada.
Kalau setiap kebetulan dianggap koneksi kosmik, maka:
- lupa
password = sabotase alam semesta
- kehabisan
bensin = karma
- ditolak
gebetan = gangguan frekuensi cinta
Padahal… ya memang lagi sial saja.
Red-Pill dan Sensasi “Saya Tahu Sesuatu”
Narasi seperti ini juga punya daya tarik lain: membuat kita
merasa “terbangun.”
Seolah-olah:
“Selama ini kita dibohongi. Tapi sekarang kita tahu
kebenaran.”
Sensasi ini sangat nikmat. Lebih nikmat daripada kopi pagi,
bahkan kadang lebih nikmat daripada validasi dari mantan.
Masalahnya, tidak semua yang terasa seperti “pencerahan” itu
benar-benar pencerahan. Kadang itu hanya:
kesalahpahaman yang dikemas dengan percaya diri.
Dan di era media sosial, percaya diri sering kali lebih
viral daripada kebenaran.
Solusi Dunia: Meditasi atau Action?
Bagian paling menarik dari narasi ini adalah pesannya:
“Mari kita ubah dunia dengan niat positif.”
Indah. Menenangkan. Damai.
Tapi juga sedikit… praktis.
Karena kalau benar niat saja cukup, maka:
- rapat
bisa diganti dengan doa bersama
- pembangunan
jalan cukup dengan afirmasi
- macet
Jakarta selesai dengan meditasi kolektif
Sayangnya, dunia nyata masih butuh kerja nyata. Niat baik
itu penting, tapi ia bukan pengganti tindakan.
Kalau lapar, kita tetap harus makan. Tidak cukup hanya
“memancarkan energi kenyang.”
Otak Bukan Router, Tapi Tetap Luar Biasa
Sains modern memang menunjukkan bahwa otak menghasilkan
aktivitas listrik dan medan elektromagnetik. Tapi kekuatannya sangat kecil, dan
tidak dirancang untuk mengirim pesan lintas benua.
Dengan kata lain:
Otak kita luar biasa, tapi belum sampai level “WiFi global.”
Dan mungkin itu kabar baik. Karena kalau pikiran kita bisa
terbaca semua orang, bayangkan kekacauan yang terjadi.
Isi kepala kita kadang:
- 30%
rencana hidup
- 20%
kenangan lama
- 50%
dialog imajiner yang tidak pernah terjadi
Kalau itu semua tersiarkan… dunia bisa kacau sebelum kiamat.
Antara Inspirasi dan Ilusi
Narasi seperti ini sebenarnya punya sisi positif. Ia
mengingatkan kita tentang:
- pentingnya
empati
- kekuatan
niat
- harapan
akan dunia yang lebih baik
Semua itu benar. Tapi bukan karena gelombang otak jarak
jauh, melainkan karena interaksi sosial yang nyata.
Dan perubahan dunia… bukan karena pikiran saja, tapi karena
tindakan bersama.
Jangan Sampai Pikiran Kita Disambungkan ke Hoaks
Di era digital ini, kita memang terhubung. Tapi bukan lewat
gelombang misterius, melainkan lewat algoritma yang kadang lebih mistis dari
metafisika.
Maka sebelum percaya pada “jaringan saraf global,” ada
baiknya kita memastikan satu hal:
Apakah ini sains, atau hanya cerita yang terlalu indah untuk
tidak dipercaya?
Karena kebenaran itu biasanya sederhana, tidak heboh, dan
sering kali membosankan.
Padahal, menjadi manusia biasa yang berpikir kritis—itu
sudah cukup luar biasa.
Dan kabar baiknya:
kita tidak butuh sinyal 10.000 kilometer untuk menjadi
bijak.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.