Di zaman ketika notifikasi lebih rajin menyapa daripada tetangga, manusia modern menghadapi dilema eksistensial: “Aku posting, maka aku ada.” Namun, setelah mendapat 3 likes, 1 komentar dari akun bot, dan 2 views dari diri sendiri (yang diam-diam ngecek pakai akun lain), hati tetap terasa… kosong.
Di titik inilah ajaran Gus Mus tentang uzlah muncul
seperti sinyal Wi-Fi di tengah hutan: tidak terlihat, tapi menyelamatkan.
Uzlah: Mode Pesawat untuk Jiwa
Menurut Gus Mus, uzlah bukan berarti kita tiba-tiba
pindah ke gunung, memelihara kambing, lalu menulis caption “healing dulu ya
gaes”. Bukan.
Kalau diibaratkan HP, hati kita ini sering panas bukan
karena kerja keras, tapi karena kebanyakan aplikasi terbuka:
- notifikasi
orang lain,
- komentar
netizen,
- overthinking,
- dan
tentu saja… mantan.
Maka uzlah adalah tombol “clear all apps” bagi jiwa.
Kerajaan Diri: Raja yang Sering Kudet
Al-Ghazali pernah bilang manusia itu seperti kerajaan:
- Hati
= Raja
- Pikiran
= Perdana Menteri
- Anggota
tubuh = Rakyat
Masalahnya, di zaman sekarang, rajanya sering tidak tahu
apa-apa.
Yang jadi “raja darurat” malah:
- timeline
media sosial,
- trending
topic,
- dan
komentar orang yang fotonya saja pakai anime.
- jari
ngetik komentar nyinyir,
- mulut
bicara tanpa filter,
- hati?
sibuk baper.
Kesepian: Antara Galau dan Tumbuh
Masalahnya, kita sering salah kaprah:
- sendiri
= kesepian,
- sepi
= sedih,
- padahal…
bisa jadi itu kesempatan upgrade jiwa.
Ardhil Khumul: Jadi Hebat Tanpa Harus Terlihat
- makan
harus difoto,
- sedekah
harus di-post,
- bahkan
ngopi saja harus ada caption filosofis.
Padahal, dalam ardhil khumul, yang penting bukan
dilihat manusia, tapi dilihat Tuhan.
Tapa Ngrame: Menyepi di Tengah Keramaian
- ikut-ikutan,
- banding-bandingkan,
- lalu…
minder pelan-pelan.
Padahal tapa ngrame itu seperti:
- hati
tetap tenang,
- tidak
ikut arus,
- tapi
tetap aktif di dunia.
Detoks Digital: Puasa dari Scroll
Namun, sesekali kita perlu:
- diam,
- berpikir,
- dan
bertanya:
“Ini hidup saya yang saya jalani… atau algoritma yang
mengendalikan?”
Kalau jawaban kedua, berarti sudah saatnya uzlah.
Menyendiri agar Tidak Kehilangan Diri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.