Selasa, 24 Februari 2026

Menyendiri untuk Merdeka: Ketika “Offline” Lebih Berarti daripada “Online”

Di zaman ketika notifikasi lebih rajin menyapa daripada tetangga, manusia modern menghadapi dilema eksistensial: “Aku posting, maka aku ada.” Namun, setelah mendapat 3 likes, 1 komentar dari akun bot, dan 2 views dari diri sendiri (yang diam-diam ngecek pakai akun lain), hati tetap terasa… kosong.

Di titik inilah ajaran Gus Mus tentang uzlah muncul seperti sinyal Wi-Fi di tengah hutan: tidak terlihat, tapi menyelamatkan.

Uzlah: Mode Pesawat untuk Jiwa

Menurut Gus Mus, uzlah bukan berarti kita tiba-tiba pindah ke gunung, memelihara kambing, lalu menulis caption “healing dulu ya gaes”. Bukan.

Uzlah itu semacam mode pesawat untuk hati.
Semua koneksi dunia diputus sementara, agar bisa tersambung kembali ke “server utama”: Tuhan.

Kalau diibaratkan HP, hati kita ini sering panas bukan karena kerja keras, tapi karena kebanyakan aplikasi terbuka:

  • notifikasi orang lain,
  • komentar netizen,
  • overthinking,
  • dan tentu saja… mantan.

Maka uzlah adalah tombol “clear all apps” bagi jiwa.

Kerajaan Diri: Raja yang Sering Kudet

Al-Ghazali pernah bilang manusia itu seperti kerajaan:

  • Hati = Raja
  • Pikiran = Perdana Menteri
  • Anggota tubuh = Rakyat

Masalahnya, di zaman sekarang, rajanya sering tidak tahu apa-apa.

Yang jadi “raja darurat” malah:

  • timeline media sosial,
  • trending topic,
  • dan komentar orang yang fotonya saja pakai anime.

Akibatnya, kerajaan diri kita kacau.
Rakyat (tangan, mulut) bergerak tanpa komando:

  • jari ngetik komentar nyinyir,
  • mulut bicara tanpa filter,
  • hati? sibuk baper.

Padahal, kata Gus Mus, kalau rajanya sehat (hati jernih), kerajaan aman.
Kalau rajanya lelah? Negara bisa dipimpin oleh story WhatsApp.

Kesepian: Antara Galau dan Tumbuh

Selama ini, kesepian dianggap musuh.
Kalau sepi sedikit, langsung buka HP.
Kalau HP mati, langsung panik seperti kehilangan separuh iman.

Padahal, kata Gus Mus, kesepian itu bukan kutukan.
Itu ruang VIP untuk ngobrol dengan diri sendiri… dan Tuhan.

Masalahnya, kita sering salah kaprah:

  • sendiri = kesepian,
  • sepi = sedih,
  • padahal… bisa jadi itu kesempatan upgrade jiwa.

Bayangkan kalau setiap kali sepi, kita tidak lari ke scroll tanpa akhir, tapi ke tafakur.
Mungkin hidup kita tidak viral… tapi lebih bermakna.

Ardhil Khumul: Jadi Hebat Tanpa Harus Terlihat

Gus Mus juga mengenalkan konsep ardhil khumul: tanah ketersembunyian.
Bahasa sederhananya: berkarya tanpa harus pamer.

Ini konsep yang agak sulit di zaman sekarang.
Karena sekarang:

  • makan harus difoto,
  • sedekah harus di-post,
  • bahkan ngopi saja harus ada caption filosofis.

Padahal, dalam ardhil khumul, yang penting bukan dilihat manusia, tapi dilihat Tuhan.

Kalau kita tetap baik meskipun tidak ada yang tahu,
itu tandanya kita sudah mulai naik level…
meskipun belum naik followers.

Tapa Ngrame: Menyepi di Tengah Keramaian

Puncaknya adalah konsep Jawa: tapa ngrame.
Artinya, tetap “menyendiri” bersama Tuhan, meskipun di tengah keramaian.

Ini level yang cukup sulit.
Karena biasanya kalau di keramaian, yang kita lakukan:

  • ikut-ikutan,
  • banding-bandingkan,
  • lalu… minder pelan-pelan.

Padahal tapa ngrame itu seperti:

  • hati tetap tenang,
  • tidak ikut arus,
  • tapi tetap aktif di dunia.

Istilah modernnya:
“Ikut grup, tapi tidak terbawa drama.”

Detoks Digital: Puasa dari Scroll

Di era sekarang, uzlah bisa dimulai dari hal sederhana:
tidak membuka HP setiap 3 menit sekali.

Ini memang berat.
Bahkan sebagian orang lebih rela kehilangan dompet daripada kehilangan sinyal.

Namun, sesekali kita perlu:

  • diam,
  • berpikir,
  • dan bertanya:

“Ini hidup saya yang saya jalani… atau algoritma yang mengendalikan?”

Kalau jawaban kedua, berarti sudah saatnya uzlah.

Menyendiri agar Tidak Kehilangan Diri

Akhirnya, uzlah bukan tentang menjauh dari dunia,
tapi tentang tidak kehilangan diri di dalamnya.

Karena di zaman yang penuh suara,
yang paling langka bukanlah informasi—
melainkan keheningan.

Dan mungkin, justru di dalam sunyi itulah,
kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari-cari:

bukan followers,
bukan validasi,
tapi…
ketenangan yang tidak perlu di-posting.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.