Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang fokus dari awal sampai akhir, dan yang baru buka laptop, lalu tiba-tiba sudah di dapur, terus nyasar ke YouTube, lalu kembali dengan ide bisnis startup. Nah, kelompok kedua ini seringkali dicurigai sebagai “kurang fokus”. Padahal, jangan-jangan mereka sedang loading inovasi.
Begitulah kira-kira pesan yang meledak di linimasa pada 20 Februari 2026 lewat akun @Rainmaker1973. Dengan gaya khas “sains tapi bikin semangat hidup”, ia menyampaikan bahwa ADHD bukan sekadar gangguan, melainkan—dalam kondisi tertentu—sebuah “mesin kreativitas edisi turbo”.
Tentu saja, ini bukan sekadar motivasi ala “bangkitlah wahai pejuang mimpi”. Ada dasar ilmiahnya. Studi dari Drexel University yang dimuat di jurnal Personality and Individual Differences menemukan bahwa individu dengan gejala ADHD tinggi cenderung unggul dalam divergent thinking—yakni kemampuan berpikir ke berbagai arah yang tak terduga. Mereka juga lebih sering mengalami momen “Aha!” yang datang tiba-tiba, seperti ide yang muncul saat sedang mandi, nyetir, atau... pura-pura kerja.
Otak yang Tidak Betah, Tapi Kaya Cerita
Bayangkan otak ADHD seperti anak kecil di taman bermain. Ia tidak mau diam di satu wahana. Baru lima menit di ayunan, sudah pindah ke perosotan, lalu ke jungkat-jungkit, lalu tiba-tiba ngobrol dengan anak lain. Hasilnya? Ia tahu banyak hal, meski tidak selalu mendalam.
Dalam bahasa ilmiah, ini terkait dengan kadar dopamin yang lebih rendah. Otak jadi seperti pelanggan setia diskon: selalu mencari hal baru yang lebih menarik. Maka jangan heran jika pemilik ADHD cenderung:
cepat bosan,
suka mencoba hal baru,
berani ambil risiko,
dan kadang punya ide yang... tidak masuk akal, tapi jenius.
Masalahnya, dunia seringkali dibangun untuk orang yang bisa duduk manis, fokus, dan menyelesaikan tugas satu per satu. Sementara otak ADHD berkata, “Satu tugas? Itu terlalu mainstream.”
Antara Genius dan “Aduh, Deadline!”
Di sinilah letak dramanya. Narasi baru yang menyebut ADHD sebagai “superpower” memang terasa menyegarkan. Setelah sekian lama dicap sebagai “gangguan”, tiba-tiba ada sudut pandang yang berkata, “Hei, mungkin kamu bukan rusak. Mungkin kamu hanya beda setting.”
Ini seperti menemukan bahwa Anda bukan “pemalas”, melainkan “energi kreatif yang belum diarahkan”. Rasanya langsung ingin bikin startup, menulis buku, dan membuka kanal YouTube—semuanya sekaligus, tentu saja, tanpa selesai satu pun.
Namun, di balik optimisme ini, ada kenyataan yang tak bisa di-skip seperti iklan YouTube. ADHD bukan hanya soal ide cemerlang. Ia juga membawa tantangan nyata:
sulit mengatur waktu,
susah mempertahankan rutinitas,
sering menunda hal yang membosankan,
dan kadang hidup terasa seperti browser dengan 47 tab terbuka—tidak tahu mana yang bunyi.
Di titik ini, narasi “superpower” bisa berubah jadi tekanan baru. Orang dengan ADHD bisa merasa, “Katanya ini kelebihan, kok hidup saya malah berantakan?” Akhirnya bukan empowerment yang datang, tapi rasa bersalah.
Superpower Butuh Manual
Mungkin masalahnya bukan pada ADHD-nya, melainkan pada cara kita memahami “superpower”. Kita membayangkan kekuatan seperti di film: sekali punya, langsung hebat. Padahal, kenyataannya lebih mirip alat canggih tanpa buku petunjuk.
Punya kreativitas tinggi tanpa sistem itu seperti punya mobil sport tapi tanpa rem. Bisa cepat, tapi juga bisa menabrak.
Karena itu, “superpower” ADHD baru bekerja jika didampingi:
lingkungan yang fleksibel,
strategi manajemen diri,
rutinitas yang disederhanakan,
dan, jika perlu, bantuan profesional.
Dengan kata lain, ide brilian perlu teman bernama disiplin. Kalau tidak, ia hanya akan jadi “ide bagus yang tertunda”.
Dunia yang Terlalu Sempit untuk Otak yang Beragam
Barangkali pelajaran terbesar dari semua ini bukan sekadar tentang ADHD, tetapi tentang cara kita memandang perbedaan. Dunia modern sering menuntut satu model kecerdasan: fokus, rapi, linear, efisien. Siapa yang tidak sesuai, dianggap bermasalah.
Padahal, inovasi sering lahir dari orang-orang yang “tidak sepenuhnya cocok” dengan sistem.
Mungkin, daripada memaksa semua orang menjadi sama, kita perlu memperluas definisi “normal”. Karena bisa jadi, ide-ide besar masa depan justru datang dari pikiran yang sering melayang—lalu pulang membawa sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang lain.
Melayang yang Terarah
Jadi, lain kali ketika pikiran Anda tiba-tiba melompat dari pekerjaan ke ide bisnis, lalu ke rencana liburan, lalu ke filosofi hidup—jangan buru-buru panik. Siapa tahu, Anda sedang berada di jalur kreativitas.
Hanya saja, jangan lupa kembali.
Karena ide hebat itu penting, tapi menyelesaikannya—itu yang benar-benar revolusioner.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.