Sabtu, 31 Januari 2026

Membangun Jembatan Sastra: Ketika Klasik Pensiun Dini dan Novel Kekinian Naik Panggung

Di dunia pendidikan, terutama yang sudah lama akrab dengan kitab kuning dan rak buku berdebu yang aromanya seperti campuran kayu tua dan sejarah peradaban, ada satu keyakinan tak tertulis:

“Kalau belum wafat 100 tahun, belum layak disebut sastra bermutu.”

Lalu datanglah sebuah teriakan dari jagat maya:
“Vive la littérature contemporaine!”
Dan para pecinta sastra klasik serentak menoleh sambil mengelus dada, seolah baru saja mendengar ada orang bilang rendang lebih enak pakai saus stroberi.

Padahal, seruan itu bukan upaya kudeta terhadap Shakespeare, Balzac, atau Pramoedya. Ini lebih mirip ajakan:
“Hei, rak bukunya jangan cuma diisi kakek-nenek sastra. Kasih kursi juga buat generasi milenial dan Gen Z literer.”

📖 Dulu Kontemporer, Sekarang Disakralkan

Kita sering lupa bahwa semua karya klasik itu dulunya… ya kontemporer juga.

Bayangkan kalau zaman dulu ada warganet abad ke-14 berkata:

“Ah, Dante ini terlalu kekinian. Divine Comedy belum tentu tahan zaman. Tunggu dulu 500 tahun.”

Atau seseorang menolak membaca Hamlet karena,

“Maaf, saya hanya baca karya yang sudah diverifikasi oleh minimal tiga abad penderitaan manusia.”

Le Nom de la Rose, Mémoires d’Hadrien — sekarang dianggap agung. Tapi dulu? Mereka cuma “novel baru” yang mungkin dibaca sambil ngopi dan mengeluh soal politik zamannya. Sama seperti novel-novel hari ini yang membahas trauma perang, krisis iman, identitas, dan generasi muda yang bingung masa depan—alias: isi kepala manusia modern yang overthinking tapi tetap harus bayar tagihan.

Bedanya cuma satu:
Dulu belum ada Goodreads dan review bintang satu yang isinya,

“Bukunya bagus sih, tapi pengirimannya lama.”

🧠 Kenapa Sastra Kontemporer Itu Penting? Karena Manusia Juga Lagi Kontemporer

Sastra klasik itu seperti kakek bijak yang nasihatnya dalam, tapi kadang kita perlu mikir lima menit dulu buat paham maksudnya.

Sastra kontemporer itu seperti teman sebangku yang curhat,

“Gue capek, dunia aneh, tapi kita jalanin aja ya.”

Novel-novel seperti Leurs Enfants Après Eux atau Le Club des Incorrigibles Optimistes bicara soal anak muda, persahabatan, kegagalan, mimpi yang nabrak realitas. Ini bukan tema remeh. Ini menu harian jiwa remaja—termasuk para santri yang siangnya hafal Alfiyah, malamnya mikir:

“Masa depan ana ini sebenarnya mau ke mana?”

Kedekatan emosional inilah yang bikin sastra kontemporer jadi alat empati, bukan cuma bahan ujian esai.

🕌 Kalau Masuk Pesantren, Apa Nggak “Terlalu Barat”?

Tenang. Novel itu bukan virus yang bikin iman drop tiga persen.

Justru di pesantren, sastra kontemporer bisa jadi bahan dialog yang seru. Misalnya:

  • Le Nom de la Rose → pencarian kebenaran
    Santri: “Oh, ini mirip bahasan thalab al-‘ilm, cuma tokohnya nggak pakai sarung.”
  • Le Rapport Brodeck → trauma dan pengampunan
    Ustaz: “Nah, ini bisa disambungkan dengan konsep al-‘afw.”
    Santri: “Jadi memaafkan itu bukan cuma status WhatsApp ya, Ustaz?”
  • Le Royaume → pergulatan iman di dunia sekuler
    Santri diam… lalu mikir keras… karena ternyata krisis iman itu bukan monopoli filsuf Eropa, tapi juga manusia yang WiFi-nya putus saat mau download PDF kitab.

Sastra jadi jembatan, bukan pengganti kitab. Ia membantu santri melihat bahwa nilai-nilai Islam bisa berdialog dengan realitas modern, bukan cuma disimpan rapi seperti piring hias yang tak boleh dipakai.

🌱 Sastra Bukan Museum, Tapi Taman

Kalau sastra cuma berisi karya lama, ia berubah jadi museum: sunyi, sakral, bikin orang takut salah langkah.

Tapi kalau kita beri ruang pada karya kontemporer, sastra jadi taman. Ada pohon tua yang akarnya kuat, ada tunas baru yang masih lentur, ada bunga aneh yang bentuknya bikin dahi berkerut tapi tetap menarik.

Dan seperti taman pada umumnya, kadang ada juga karya yang… yah… kurang enak dipandang. Tapi justru di situ serunya: pembaca belajar menilai, merasakan, berpikir. Bukan cuma mengangguk hormat karena “ini kan klasik”.

Merayakan yang Hidup

Merayakan sastra kontemporer itu sebenarnya tindakan optimis. Itu berarti kita percaya bahwa:

  • Kegelisahan manusia hari ini penting
  • Cerita generasi sekarang layak didengar
  • Pengalaman zaman ini suatu hari akan jadi sejarah batin umat manusia

Siapa tahu, 100 tahun lagi ada santri masa depan yang membaca novel abad ke-21 lalu berkata:

“Wah, ternyata orang zaman dulu juga galau ya. Bedanya cuma mereka galau pakai metafora, kita pakai meme.”

📚 Penutup yang Nggak Terlalu Serius

Jadi, sastra kontemporer bukan ancaman bagi klasik. Ia cuma generasi baru yang minta tempat duduk.

Klasik itu fondasi.
Kontemporer itu jendela.
Dan pendidikan—termasuk di pesantren—adalah rumah yang butuh keduanya supaya penghuninya tidak cuma paham masa lalu, tapi juga melek denyut zaman.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah ini sudah klasik?”

Tapi:
“Apakah cerita ini membantu kita lebih paham menjadi manusia?”

Kalau jawabannya iya, ya sudah…
Masukkan ke rak. Jangan tunggu pengarangnya wafat dulu. 😄📖

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Indonesia sebagai “Negeri Islam”: Ketika Fikih Ketemu Realita dan Ngopi Bareng Pancasila

Tahun 1936, para kiai NU lagi muktamar. Bayangkan suasananya: belum ada AC, belum ada PowerPoint, tapi isi kepalanya panas—bukan karena cuaca, tapi karena satu pertanyaan serius:

“Lho, ini Indonesia masih dijajah Belanda. Statusnya apa dong? Darul Islam atau bukan?”

Ini bukan obrolan warung kopi biasa. Ini obrolan level: kalau salah jawab, bisa berantem satu abad.

Dan jawaban Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin?
👉 “Ya. Indonesia itu negeri Islam.”

Seketika, Belanda mungkin kaget:

“Lho, kita yang pegang senapan, kok yang punya status malah mereka?”

📚 Fikih yang Nggak Gampang Panik

Para ulama NU waktu itu nggak pakai logika sinetron: “Begitu dijajah, langsung ganti status.”
Mereka buka kitab Bughyatul Mustarsyidin, bukan buka Twitter.

Logikanya begini:
Kalau suatu wilayah pernah dikuasai umat Islam dan syariat pernah hidup di situ, maka status keislamannya nggak otomatis hangus cuma gara-gara didatangi penjajah berambut pirang.

Jadi walaupun secara militer Belanda berkuasa, secara fikih:

“Maaf, Tuan. Ini tanah sejarah Islam. Anda cuma numpang ribut.”

Kerajaan Demak, Banten, Mataram — itu bukan sekadar bab di buku sejarah, tapi bukti bahwa Islam pernah jadi tuan rumah di Nusantara. Jadi keputusan 1936 ini bukan cuma fatwa, tapi juga semacam “sertifikat kepemilikan historis” versi ulama.

🧠 Tapi NU Nggak Berhenti di Masa Lalu

Nah, bagian paling keren justru setelah Indonesia merdeka.
Logikanya bisa saja begini:
“Kan tadi sudah disebut Darul Islam. Ya sudah, bikin Negara Islam resmi dong!”

Tapi NU justru menunjukkan kedewasaan yang bikin politikus modern kadang terlihat seperti anak magang.

Para kiai sadar:
Istilah “Negara Islam” itu bukan paket resmi dari langit. Itu istilah politik modern. Bukan rukun iman ke-7.

KH Masdar Farid Mas’udi kurang lebih menjelaskan:
Yang penting itu isi, bukan label.
Kalau negara menegakkan keadilan, menjaga kemaslahatan, melindungi rakyat—itu sudah sangat Islami, meskipun kop suratnya tidak bertuliskan “Daulah Islamiyah”.

Ibarat warung:
Yang penting makanannya halal dan enak.
Bukan papan namanya harus “Warung Syariah Berkah Internasional”.

🇮🇩 Pancasila: Piagam Madinah Rasa Nusantara

Di sinilah NU bikin manuver elegan.
Pancasila diterima sebagai kesepakatan nasional final. Bukan karena kurang iman, tapi karena kelebihan akal sehat dan tanggung jawab sosial.

NU melihat Pancasila seperti Piagam Madinah versi Indonesia:
Dokumen kesepakatan hidup bersama yang beda-beda tapi satu kontrak.

Dalilnya juga ada:
“Al-muslimun ‘ala syuruthihim” — orang Islam terikat pada perjanjian yang mereka buat.

Artinya?
Sudah sepakat hidup bareng dalam NKRI ya jangan tiap lima tahun pengin ganti sistem cuma karena lagi semangat.

🤹‍♂️ Islam Iya, Formalisme Nanti Dulu

NU ini unik.
Dia bisa bilang:

  • Indonesia itu negeri Islam secara sejarah dan sosiologi

  • Tapi Indonesia bukan Negara Islam formal juga ✅

Kelihatannya kontradiktif? Enggak. Ini namanya fleksibel tanpa kehilangan tulang punggung.

NU menolak dua ekstrem:

  1. Yang maunya semua harus berlabel “Islam” sampai stempel kecamatan pun mau diganti huruf Arab

  2. Yang maunya agama disuruh minggir, duduk manis, jangan ikut urusan publik

NU pilih jalan tengah:
Islam hadir sebagai ruh dan nilai, bukan sekadar logo dan spanduk.

☕ Kesimpulan: Fikih Rasa Nusantara

Keputusan NU tahun 1936 itu ibarat fondasi rumah.
Bukan kelihatan setiap hari, tapi tanpa itu bangunan bisa miring.

Dari situ kita belajar gaya khas NU:

  • Identitas jelas: Islam bagian sah dari sejarah Indonesia

  • Sikap politik dewasa: Bentuk negara hasil musyawarah, bukan paksaan simbolik

  • Cara berpikir lentur: Teks dihormati, konteks dipahami

Jadinya Indonesia ini unik:
Bukan negara agama, bukan negara sekuler kering.
Tapi negeri tempat Islam hidup, bernafas, ikut membentuk peradaban — sambil tetap ngopi bareng Pancasila.

Dan mungkin, kalau para kiai 1936 lihat Indonesia hari ini, mereka cuma senyum sambil bilang:

“Tuh kan, yang penting itu substansi. Label mah urusan percetakan.” 😄

abah-arul.blogspot.com. Februari 2026

Membedah Jenius: Einstein, Rambut Ngembang, dan Kekuatan Khayalan Serius

Kalau mendengar nama Albert Einstein, yang muncul di kepala kita biasanya ada tiga:

1. Rambut mekar seperti kena listrik statis

2. Rumus yang bikin papan tulis minta ampun

3. Ekspresi wajah yang kelihatan seperti baru sadar gas belum dimatikan

Seolah-olah kejeniusannya itu murni hasil otak kalkulator supercanggih yang bisa mengalikan galaksi sambil ngopi. Padahal, kalau kita kulik pelan-pelan, kekuatan terbesar Einstein bukan cuma di hitung-hitungan, tapi di sesuatu yang jauh lebih berbahaya: imajinasi yang dipakai dengan serius.

---

Einstein: Bukan Anak Matematika Biasa

Banyak ilmuwan sezamannya jago matematika. Mereka ini tipe yang kalau lihat persamaan diferensial, senyum tipis. Tapi Einstein beda. Dia bukan cuma tanya,

“Berapa hasilnya?”

Dia tanya,

“Eh bentar… kenapa sih dunia harus begini? Siapa yang bikin aturan?”

Saat fisikawan lain sibuk poles mekanika Newton biar makin kinclong, Einstein malah datang seperti tamu resepsi yang bilang,

“Maaf, saya rasa fondasi gedungnya perlu dipindah dikit.”

Newton bilang ruang dan waktu itu tetap. Einstein bilang,

“Yakin? Jangan-jangan mereka lentur, kayak karet gelang kosmik.”

Itu bukan kurang ajar. Itu kreatif level kosmik.

---

Eksperimen Pikiran: Rebahan Tapi Revolusioner

Salah satu “senjata” Einstein adalah eksperimen pikiran. Kedengarannya santai, ya? Kayak rebahan sambil ngelamun. Tapi ini ngelamunnya beda.

Dia membayangkan dirinya naik sinar cahaya.

Bukan naik motor, bukan naik kuda. Naik. Sinar. Cahaya.

Kalau orang biasa bilang,

“Wah, halu nih orang,”

Einstein malah lanjut,

“Kalau aku bisa sejajar dengan cahaya, apa yang kulihat?”

Dari lamunan yang kelihatannya cocok buat pengantar tidur siang itu, lahirlah teori relativitas. Jadi, lain kali kamu melamun, jangan minder dulu. Siapa tahu kamu lagi di tahap awal revolusi sains. (Atau ya… cuma laper. Tetap perlu verifikasi.)

---

Kecerdasan Kreatif: Bukan Soal Pintar, Tapi Soal Nekat Berpikir Aneh

Menurut psikolog Robert Sternberg, ada yang namanya kecerdasan kreatif. Ini bukan soal cepat menghitung, tapi soal berani menyusun ulang cara melihat masalah.

Orang biasa lihat tembok, mikir:

“Ini penghalang.”

Orang kreatif lihat tembok, mikir:

“Ini papan tulis besar yang belum dipakai.”

Einstein lihat ruang dan waktu, mikir:

“Ini bukan panggung tetap. Ini properti lentur. Bisa melengkung. Bisa bengkok. Bisa bikin gravitasi jadi geometri.”

Kita? Kadang lihat notifikasi WA aja sudah bengkok duluan.

---

Kabar Baik: Kita Juga Bisa (Sedikit) Einstein

Tweet yang dibahas itu kasih harapan: kecerdasan kreatif bisa dilatih. Bukan cuma jatah bayi yang lahir sambil bawa aura jenius.

Latihannya sederhana tapi bikin otak kaget:

Ambil satu masalah. Lalu paksa diri melihatnya dengan tiga cara berbeda.

Contoh: Masalah: “Kerjaan numpuk.”

Cara biasa: “Aku stres.”

Cara kreatif 1: “Ini bukti aku dibutuhkan.”

Cara kreatif 2: “Sistem kerjaku yang salah, bukan hidupku yang sial.”

Cara kreatif 3: “Oke, mana yang bisa kutolak dengan sopan tapi tegas?”

Belum setara relativitas umum sih. Tapi lumayan, hidup jadi nggak terasa seperti lubang hitam permanen.

---

Tapi Jangan Salah: Einstein Juga Rajin, Bukan Cuma Ngayal

Meski kisah ini terdengar seperti dongeng motivasi, kita tetap harus jujur: Einstein bukan cuma modal imajinasi dan rambut dramatis. Dia punya dasar fisika yang dalam, intuisi tajam, dan lingkungan diskusi yang hidup.

Jadi, kalau ada yang bilang,

“Ngapain belajar serius? Yang penting kreatif!”

Itu bukan gaya Einstein. Itu gaya orang yang mau ujian tapi baru beli pulpen.

Kreativitas tanpa dasar ilmu itu seperti ingin melengkungkan ruang-waktu tapi belum hafal perkalian.

---

Warisan Terbesar Einstein (Selain Meme Lidahnya)

Akhirnya, mungkin warisan terbesar Einstein bukan cuma E = mc², tapi satu pesan diam-diam:

> Dunia tidak selalu harus dipahami dengan cara lama.

Kadang solusi lahir bukan karena kita menambah angka, tapi karena kita mengganti pertanyaannya.

Di dunia modern yang ruwet, cepat, dan sering absurd ini, kemampuan melihat masalah dari sudut baru adalah semacam superpower ringan. Tidak membuat kita jadi ilmuwan legendaris, tapi cukup untuk:

 tidak panik duluan,

tidak terjebak cara lama,

dan sesekali menemukan jalan pintas yang elegan.

Jadi kalau suatu hari kamu bengong menatap langit, jangan buru-buru merasa tidak produktif.

Siapa tahu kamu tidak sedang melamun…

…tapi sedang sedikit menekuk ruang-waktu versi hidupmu sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Jumat, 30 Januari 2026

Pergeseran Standar Keulamaan: Ketika Ulama Dulu Harus “Matang Pohon”, Sekarang Kadang “Matang Konten”

NU dan Standar “Masuk Surga via Rapat”

Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai jam’iyah ulama—perkumpulan orang-orang yang kalau buka kitab, bunyinya bukan cuma “kertas kebalik”, tapi kertasnya ikut paham. Standar keulamaan di NU zaman dulu itu tinggi sekali. Tingginya bukan kayak harga cabai, tapi kayak rak kitab di perpustakaan pesantren: naik tangga dulu baru sampai.

Dalam pidato Gus Yahya, kita diajak merenung bahwa standar keulamaan itu sekarang sedang mengalami pergeseran. Tapi tenang, ini bukan kisah “dulu emas sekarang tembaga”, melainkan cerita tentang bagaimana organisasi yang dulu isinya para kiai sepuh, sekarang juga harus berhadapan dengan dunia yang isinya WiFi, webinar, dan warga yang lebih hafal password daripada hafalan Alfiyah.

Dari Ulama Elit ke Ulama… Elit Plus Admin Grup

Dulu, untuk diakui sebagai ulama di lingkungan NU, seseorang harus melewati proses panjang: ngaji bertahun-tahun, khatam kitab segudang, sanad jelas, akhlak halus, dan kalau ditanya dalil, jawabannya bukan “kayaknya sih…”.

Kisah KH Abdul Muchit Muzadi yang belum langsung diakui sebagai bagian dari “kalangan ulama inti” NU itu seperti cerita anak pesantren yang sudah hafal kitab, tapi tetap disuruh ngopi dulu sama kiai sebelum dianggap “matang”. Intinya: keulamaan itu bukan cuma soal tahu, tapi soal diakui oleh yang tahu.

Sekarang? NU sudah jadi organisasi massa raksasa. Anggotanya jutaan. Dari petani sampai profesor, dari yang hafal Fathul Qarib sampai yang hafal thread Twitter. Maka, wajar kalau struktur organisasi juga diisi oleh orang-orang dengan latar belakang beragam. Ada yang ahli fikih, ada yang ahli manajemen, ada juga yang ahli bikin notulen rapat tapi tulisannya tetap “Assalamu’alaikum wr wb” sepanjang paragraf.

Ini bukan berarti keulamaan hilang. Tapi sekarang, ulama tidak lagi duduk sendirian di kursi empuk, melainkan berdampingan dengan aktivis, akademisi, politisi, dan kadang… motivator. NU berubah dari “klub kiai tingkat dewa” menjadi “ekosistem besar tempat kiai harus siap satu meja dengan PowerPoint”.

Analogi Padi: Dulu Organik, Sekarang Hidroponik Syariah

Gus Yahya mengibaratkan perubahan ini seperti padi. Dulu tumbuh alami, sekarang pakai pupuk kimia. Analogi ini halus tapi dalam. Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi: dulu ulama tumbuh dari tanah pesantren, sekarang ada yang tumbuh dari tanah pesantren, ada juga yang tumbuh dari tanah seminar.

Dulu, seorang kiai “matang” karena digembleng kitab, tirakat, dan jam tidur yang dikorbankan demi syarah. Sekarang, selain itu, kadang perlu juga matang di depan kamera, mikrofon, dan audiens yang kalau ceramah kurang lucu, langsung cek HP.

Perubahannya tidak terasa, tahu-tahu kita sudah sampai di fase di mana seseorang bisa viral dulu, baru ditanya sanadnya belakangan. Ini tentu bukan ideal. Tapi ini realitas zaman: algoritma lebih cepat dari ijazah.

Ulama Zaman Now: Selain Hafal Kitab, Harus Tahan Komentar Netizen

Dulu tantangan ulama adalah menjawab persoalan fikih masyarakat: zakat, waris, nikah, dan seterusnya. Sekarang tantangannya bertambah: lingkungan, teknologi, keadilan sosial, sampai pertanyaan, “Ustaz, hukum pakai AI buat skripsi itu gimana?”

Ulama NU hari ini dituntut bukan cuma paham kitab kuning, tapi juga paham dunia yang warnanya bukan lagi cuma hitam tinta, tapi biru notifikasi.

Kalau dulu santri diuji dengan “baca kitab tanpa harakat”, sekarang mungkin perlu ujian tambahan: “jelaskan fikih muamalah tanpa memicu flame war di kolom komentar”.

Maka, keulamaan hari ini bukan menurun, tapi melebar. Dulu dalam sekali, sekarang harus dalam dan luas. Masalahnya, memperluas tanpa mengurangi kedalaman itu seperti menambah lauk tanpa mengurangi nasi—perlu piring yang lebih besar. Di sinilah PR besar NU.

Pesantren: Dari Tempat Ngaji ke Inkubator Ulama Multitasking

Langkah RMI PBNU dengan transformasi pesantren itu ibarat upgrade sistem operasi. Pesantren tetap mengajarkan Tafsir Jalalain, tapi santri juga diajak kenal manajemen, teknologi, bahkan dunia kampus.

Ini bukan berarti santri disuruh ganti sarung dengan jas tiap hari. Tapi supaya ketika lulus, mereka bisa berdakwah bukan cuma di mimbar, tapi juga di ruang rapat, kampus, bahkan mungkin… ruang kebijakan.

Pesantren sedang menyiapkan generasi ulama yang kalau ditanya dalil bisa jawab, kalau ditanya data juga bisa buka slide. Ulama yang tidak panik lihat laptop, dan tidak alergi lihat kitab tebal.

NU Itu Padi, Bukan Bonsai

Intinya, pergeseran standar keulamaan di NU bukan tanda kemunduran, tapi tanda organisasi ini hidup. Yang tidak berubah justru yang mati—seperti fosil, utuh tapi tidak tumbuh.

NU itu seperti padi: akarnya tetap di tanah tradisi, tapi batang dan bulirnya mengikuti musim. Tantangannya adalah memastikan pupuk modern tidak menghilangkan rasa asli.

Karena pada akhirnya, kita tidak butuh ulama yang sekadar terkenal, tapi ulama yang tetap berat ilmunya walau ringan senyumnya. Ulama yang bisa duduk di pesantren tanpa canggung, dan duduk di forum internasional tanpa kehilangan arah kiblat.

Kalau dulu syarat jadi ulama mungkin harus hafal berapa jilid kitab, sekarang mungkin ditambah satu lagi: tetap rendah hati meski followers sudah ratusan ribu.

Dan di situlah NU sedang belajar: menjaga agar padi tetap jadi makanan pokok umat, bukan sekadar konten musiman. 🌾

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

NHM: Ketika Sarung Bertemu Spreadsheet

Di sebuah hotel mewah Jakarta Selatan—tempat lampu kristal lebih berkilau daripada masa depan mantan—PBNU meluncurkan sesuatu yang namanya terdengar seperti gabungan startup Silicon Valley dan pesantren: Nahdlatul Ulama Harvest Maslaha (NHM). Ini bukan nama menu diet halal, melainkan platform investasi syariah global. Singkatnya: ini momen ketika tasbih dan tabel Excel akhirnya duduk satu meja.

Kalau dulu orang mengenal NU lewat tahlilan, qunut, dan diskusi kitab kuning yang bikin jidat berkerut, sekarang NU juga masuk ruang rapat yang isinya grafik naik-turun dan istilah seperti portfolio diversification. Dari “Allahu Akbar” ke “Return on Investment” tanpa kehilangan wudhu. Sebuah lompatan peradaban yang bahkan mungkin bikin malaikat pencatat amal buka LinkedIn.

NHM hadir dengan misi mulia: menjembatani spiritualitas, ekonomi, dan globalisasi. Kalau biasanya jembatan menghubungkan dua pulau, ini jembatan menghubungkan iman dan imbal hasil. Bukan sekadar cari untung, tapi cari berkah. Jadi kalau grafik naik, alhamdulillah. Kalau turun? Tetap alhamdulillah, tapi sambil evaluasi manajemen risiko.

Gus Yahya menegaskan bahwa investasi syariah itu amanah. Artinya, bukan cuma soal profit, tapi juga tanggung jawab moral. Ini semacam pengingat halus bahwa uang itu boleh berkembang, asal akhlaknya tidak menyusut. Sementara Andrew Tan melihat Indonesia sebagai ladang subur: populasi Muslim terbesar dunia dan Generasi Z yang jumlahnya banyak, kritis, dan kalau tidak dijelaskan dengan baik, bisa menyerang lewat thread panjang di media sosial.

Data pasar keuangan Islam global yang tumbuh pesat bikin NHM terasa seperti masuk lomba lari yang hadiahnya bukan medali, tapi triliunan dolar. Proyeksi nilainya mencapai hampir lima triliun dolar. Angka yang kalau ditulis pakai nol semua bisa bikin kursor laptop ikut lelah. NU tampaknya melihat peluang ini sambil berkata, “Kalau umat bisa ikut arus ekonomi global tanpa kehilangan arah kiblat, kenapa tidak?”

Struktur NHM juga menarik: kolaborasi antara manajemen investasi internasional dan pengawasan syariah Indonesia. Ini seperti pernikahan antara analis Wall Street dan kiai pesantren. Yang satu jago membaca pasar, yang lain jago membaca niat. Keduanya sepakat pada satu hal: jangan sampai ada yang gharar, baik dalam akad maupun akhlak.

Tentu jalannya tidak akan semulus karpet hotel bintang lima. Mengelola dana global sambil tetap setia pada prinsip syariah itu seperti menari sambil membawa nampan teh panas: harus seimbang, fokus, dan jangan goyang berlebihan. Salah langkah sedikit, bisa tumpah—dan yang tumpah bukan cuma teh, tapi kepercayaan.

Belum lagi persaingan dengan Malaysia dan Timur Tengah yang sudah lama jadi pusat keuangan syariah. Ibarat masuk liga profesional, NU bukan cuma harus jago ngaji, tapi juga jago negosiasi, audit, dan presentasi PowerPoint yang tidak bikin audiens tertidur sebelum slide ketiga.

Lalu ada Generasi Z. Mereka ini unik: mau investasi yang halal, tapi juga harus ramah lingkungan, adil sosial, transparan, dan kalau bisa punya desain aplikasi yang estetik. Mereka ingin dunia selamat, dompet selamat, dan feed Instagram tetap rapi. NHM harus bicara bahasa mereka: bukan cuma “ini syariah”, tapi juga “ini etis, berkelanjutan, dan tidak merusak bumi yang kamu pakai buat foto senja.”

Pada akhirnya, NHM adalah babak baru dalam kisah NU. Dari organisasi sosial-keagamaan menjadi pemain ekonomi global—tanpa kehilangan ruh kemaslahatan. Ini seperti pesantren yang tiba-tiba punya divisi venture capital, tapi tetap mulai rapat dengan doa.

Kalau berhasil, NHM akan membuktikan bahwa sarung dan setelan jas tidak harus berseberangan. Bahwa zikir dan strategi bisnis bisa berjalan seiring. Dan bahwa di era globalisasi, iman tidak harus menyingkir dari pasar—ia bisa masuk, duduk manis, lalu berkata:

“Baik, kita bicara profit… tapi jangan lupa pahala.”

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Marah Satu Menit, Tubuh Bayar Lembur Lima Jam

Ketika Emosi Jadi Tagihan Biologis

Di zaman serba cepat ini, marah sering diperlakukan seperti notifikasi ponsel: muncul sebentar, bikin kesal, lalu di-swipe dan dilupakan. Kita mengira, setelah suara meninggi dan alis mengkerut, semuanya kembali normal. Sayangnya, tubuh kita tidak sepakat. Menurut temuan ilmiah yang dibahas dalam sebuah cuitan viral, satu menit kemarahan bisa membuat sistem imun kita ngedrop selama empat hingga lima jam. Ya, satu menit emosi, lima jam tubuh kerja rodi. Ini bukan peribahasa, ini laporan keuangan biologis.

Begitu kita marah, tubuh langsung panik seperti satpam yang mendengar alarm palsu. Kortisol dan adrenalin disemprotkan ke seluruh sistem, jantung dipacu, otot disiagakan, dan tubuh masuk mode “lawan atau lari”—padahal musuhnya cuma komentar WhatsApp atau pengendara yang motong jalan. Dalam kondisi darurat versi tubuh ini, sistem imun dianggap bukan prioritas. “Nanti saja urusan virus,” kata tubuh, “sekarang kita fokus bertahan hidup.” Akibatnya, pertahanan tubuh melemah berjam-jam, memberi kesempatan emas bagi bakteri dan virus untuk pesta pora.

Yang lebih ironis, kemarahan yang dipendam—alias marah tapi pura-pura baik-baik saja—ternyata tidak kalah berbahaya. Tubuh tetap stres, hormon tetap naik, tapi tanpa pelepasan emosi. Ini seperti menekan klakson dari dalam mobil tanpa suara: tidak ada yang tahu, tapi mesin tetap panas. Jika pola ini jadi langganan, jangan kaget bila penyakit degeneratif seperti jantung dan diabetes ikut mendaftar sebagai penumpang tetap.

Di sinilah metafora “satu menit versus lima jam” bekerja dengan cerdas. Ia seperti label harga di etalase emosi: Marah: mahal, efek samping panjang. Otak manusia yang alergi rugi (loss aversion) langsung mikir dua kali. Tiba-tiba, menahan diri bukan lagi soal etika atau kedewasaan, tapi soal efisiensi biologis. Mengelola emosi berubah status dari “anjuran bijak” menjadi “strategi hemat tubuh”.

Untungnya, cerita ini tidak berakhir tragis. Ada kabar baik: kita masih pegang remote kontrolnya. Pernapasan dalam, meditasi mindfulness, atau sekadar jalan kaki santai ternyata cukup ampuh untuk menurunkan volume alarm tubuh. Teknik-teknik ini bukan trik spiritual belaka, melainkan cara praktis untuk memberi tahu tubuh bahwa dunia belum kiamat, dan sistem imun boleh kembali bekerja seperti biasa.

Pada akhirnya, pesan besarnya sederhana tapi menggigit: emosi bukan hanya urusan hati, tapi juga urusan sel darah putih. Dalam dunia yang penuh pemicu amarah—dari berita hingga notifikasi—kemampuan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan tidak langsung meledak adalah bentuk kecerdasan hidup tingkat tinggi. Jadi, lain kali ingin marah, ingatlah: tubuh Anda sedang menghitung. Dan sering kali, tagihannya terlalu mahal untuk dibayar hanya demi satu menit pelampiasan.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Warisan Tersembunyi di Bawah Tanah: Ketika Akar Tanaman Jadi HRD Mikrobioma

Selama ini, pemuliaan tanaman modern ibarat ajang pencarian bakat ala Indonesian Idol: yang dinilai cuma yang tampak di atas panggung. Daunnya lebar, buahnya besar, panennya cepat, tahan penyakit, dan kalau bisa, tidak rewel. Semua sorotan tertuju pada bagian atas tanaman—batang, daun, biji—sementara bagian bawahnya? Ah, itu urusan cangkul dan cacing.

Padahal, jauh di bawah tanah, sedang berlangsung sebuah konferensi internasional tingkat tinggi. Akar tanaman sibuk mengirim sinyal kimia, mikroba tanah antre membawa proposal kerja sama, dan semuanya berjalan tanpa satu pun PowerPoint.

Tanaman, lewat fotosintesis, memproduksi gula. Tapi alih-alih ditabung atau diinvestasikan ke startup klorofil, 20–40 persen gula itu malah “dibuang” ke tanah sebagai eksudat akar. Dari sudut pandang akuntan, ini jelas pemborosan. Dari sudut pandang tanaman, ini strategi rekrutmen kelas dunia.

Eksudat akar adalah iklan lowongan kerja:
“Dicari mikroba rajin, tahan banting, mampu mengikat nitrogen, bersedia melawan patogen. Gaji: gula premium, bonus asam organik.”

Mikroba pun datang berbondong-bondong. Sebagai imbalan, mereka menyediakan nutrisi langka, menjaga akar dari penyakit, dan membantu tanaman tetap waras saat stres kekeringan. Singkatnya, tanaman tidak bekerja sendirian—ia punya tim support.

Masalahnya, kemampuan tanaman menjadi HRD mikrobioma yang andal ini ternyata sifat turunan. Namanya keren: Microbiome-Interactive Traits (MITs). Sayangnya, MITs ini justru terpinggirkan oleh pemuliaan modern. Mengapa? Karena dalam sistem pertanian serba pupuk dan pestisida, tanaman tidak lagi perlu bersusah payah membujuk mikroba. Semua sudah disediakan—ibarat anak kos yang hidup dari katering harian, ia lupa cara masak.

Akibatnya, generasi demi generasi tanaman unggul modern kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan mikroba. Akar-akar mereka jadi pendiam, sinyal kimia makin pelan, dan mikroba pun malas datang. “Ngapain repot-repot ke sini, toh pupuk pabrik sudah turun tiap musim,” begitu kira-kira komentar bakteri.

Bukti-buktinya mulai mencuat. Jagung tradisional, misalnya, masih rajin “menelpon” bakteri Pseudomonas—mikroba satpam yang doyan mengusir jamur dan hama. Jagung modern? Teleponnya jarang diangkat. Di dunia kopi, ada varietas yang dijuluki “super perekrut” bakteri pengikat nitrogen—bahkan mikrobiomanya ikut menentukan rasa kopi di cangkir. Jadi kalau kopinya asam atau fruity, bisa jadi itu ulah mikroba yang terlalu kreatif.

Di kebun jeruk yang dilanda penyakit citrus greening, pohon-pohon yang bertahan ternyata bukan yang paling disemprot, melainkan yang punya komunitas mikroba akar unik—semacam pasukan antivirus organik.

Dari sini kita belajar satu hal penting: memilih benih bukan sekadar memilih tanaman, tapi memilih gaya kepemimpinan akar. Ada tanaman yang otoriter dan bergantung pada pupuk, ada yang demokratis dan pandai membangun koalisi mikroba.

Jika kita terus mengabaikan percakapan rahasia di bawah tanah ini, pertanian akan makin tergantung pada input eksternal—seperti manusia yang lupa cara beradaptasi karena terlalu nyaman. Maka, masa depan pertanian regeneratif menuntut perubahan paradigma: bukan hanya memuliakan tanaman yang “tampak hebat”, tetapi juga yang pandai bergaul dengan dunia mikroba.

Dengan menyalakan kembali kemampuan tanaman untuk berbicara—dalam bahasa kimia—kepada mikroorganisme tanah, kita bukan hanya menumbuhkan tanaman yang tangguh, tapi juga ekosistem yang hidup. Dan siapa sangka, masa depan pangan dunia mungkin ditentukan oleh obrolan kecil antara akar dan bakteri yang selama ini kita anggap cuma “tanah biasa”.

abah-arul.blogspot.com. Januari 2026

Kamis, 29 Januari 2026

Warisan Kecerdasan: Antara Gen Ibu, Emosi Ayah, dan Drama Seisi Rumah

Di jagat media sosial, ada satu jenis judul yang selalu sukses bikin orang berhenti scroll:

“Ilmuwan Membuktikan Kecerdasan Anak Berasal dari Ibu.”

Begitu baca, para ibu senyum tipis penuh kemenangan.
Para ayah? Batuk kecil sambil pura-pura fokus ke notifikasi kantor.

Tapi tunggu dulu. Sains itu jarang sesederhana status WhatsApp keluarga.

Mari kita bedah dengan santai—tanpa memicu perang dingin meja makan.

🧬 Babak Pertama: Gen, Kromosom, dan Kejutan dari Ibu

Cerita ilmiahnya dimulai dari kromosom X.
Perempuan punya dua X (XX).
Laki-laki cuma punya satu X (XY).

Karena banyak gen yang terkait fungsi kognitif ada di kromosom X, muncullah kemungkinan statistik bahwa anak lebih sering mendapat “paket gen kognitif” dari ibu.

Secara ilmiah, ini menarik.
Secara sosial, ini berbahaya kalau dibacakan keras-keras saat acara keluarga.

Belum selesai sampai di situ, ada juga konsep genomic imprinting — semacam sistem stempel gen:
“Gen ini aktif kalau dari ibu.”
“Gen itu lebih berpengaruh kalau dari ayah.”

Beberapa teori menyebut gen dari ibu lebih aktif di korteks serebral (logika, bahasa, mikir berat), sedangkan gen dari ayah cenderung berperan di sistem limbik (emosi, naluri, respons cepat).

Artinya secara kasar:
Ibu bantu anak mikir,
Ayah bantu anak merasa.

Jadi kalau anak jago debat dan gampang baper… ya berarti kerja sama tim berjalan baik.

🧠 Babak Kedua: Plot Twist — Otak Bukan Warisan Rumah

Di sinilah sains mulai merusak kesimpulan sederhana yang telanjur viral.

Kecerdasan itu bukan sifat tunggal seperti warna mata.
Ia bukan “fitur bawaan pabrik” yang tinggal dipakai.

Kecerdasan itu:

  • Poligenik (ribuan gen ikut nimbrung)
  • Dipengaruhi nutrisi
  • Dipengaruhi pendidikan
  • Dipengaruhi stres
  • Dipengaruhi apakah di rumah ada buku… atau cuma remote TV yang diperebutkan

Gen itu ibarat resep masakan.
Lingkungan itu dapur dan kokinya.

Mau resepnya bintang lima, kalau dapurnya kebakaran dan kokinya sibuk main HP, ya hasilnya tetap mie instan gosong.

👨‍👩‍👧 Babak Ketiga: Peran Ayah yang Tidak Bisa Digantikan Google

Kadang orang salah paham:
“Oh jadi ayah cuma nyumbang gen emosi?”

Lah, justru emosi itu fondasi belajar.

Anak yang merasa aman secara emosional:

  • lebih berani mencoba
  • lebih tahan gagal
  • lebih stabil fokusnya

Dan itu bukan cuma urusan gen. Itu urusan interaksi harian.

Ayah yang:

  • ngajak ngobrol
  • bacain buku
  • jawab pertanyaan “kenapa langit biru” dengan sabar
    sedang membangun korteks serebral juga, bukan cuma sistem limbik.

Jadi kecerdasan anak bukan cuma urusan kromosom, tapi juga:

siapa yang nemenin PR
siapa yang ngajarin kalah tanpa drama
siapa yang tetap peluk walau nilai ulangan matematika bikin pusing

🎭 Masalah Utama: Kita Suka Judul, Benci Kompleksitas

Sains bilang:
“Kecerdasan itu hasil interaksi gen ibu, gen ayah, dan lingkungan yang sangat kompleks.”

Internet bilang:
“FIX! PINTAR ITU DARI IBU!”

Padahal otak manusia bukan proyek satu kontraktor.
Ini proyek gotong royong biologis dan sosial sejak dalam kandungan sampai rebutan Wi-Fi.

🧩 Kesimpulan: Otak Anak Itu Mozaik, Bukan Warisan Tunggal

Kalau mau jujur secara ilmiah (dan tetap selamat secara keluarga), kesimpulannya begini:

  • Ibu mungkin memberi kontribusi genetik penting untuk fondasi kognitif
  • Ayah memberi kontribusi genetik dan emosional yang sama vitalnya
  • Lingkungan menentukan apakah semua potensi itu mekar… atau cuma jadi konsep indah di jurnal ilmiah

Jadi bukan:

“Kamu pintar karena ibumu.”

Tapi:

“Kamu berkembang karena ada gen, kasih sayang, stimulasi, dan dua orang dewasa yang sama-sama kurang tidur demi masa depanmu.”

Romantis? Tidak.
Akurat? Jauh lebih.

Dan yang paling penting:
Tidak ada yang perlu menang.
Karena dalam urusan membesarkan anak pintar, ini bukan kompetisi — ini kerja tim seumur hidup.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tawakal dan Ikhtiar: Antara Pasrah Total dan Tetap Nyalakan Alarm Pagi

Ada satu kesalahpahaman legendaris yang sudah turun-temurun di dunia per-spiritual-an:

tawakal = rebahan suci.

Seolah-olah kalau sudah tawakal, tugas manusia tinggal selonjoran sambil berkata,
“Ya Allah, Engkau Maha Tahu… termasuk tahu saya mager.”

Padahal, kalau Ibnu ‘Athaillah punya akun media sosial, mungkin beliau sudah bikin status begini:

“Tawakal itu bukan mode pesawat. Itu mode online terus, tapi servernya Allah.”

Doa yang Jujur (dan Sedikit Curhat)

Munajat Ibnu ‘Athaillah itu sebenarnya bukan doa formal penuh bahasa langit yang bikin kita takut salah tajwid. Itu lebih mirip curhatan hamba yang sadar diri:

“Ya Allah, kok Engkau suruh aku tawakal, tapi aku masih dikasih rasa takut, bingung, dan overthinking level dewa?”

Ini bukan keluhan manja. Ini pengakuan jujur:
“Aku lemah, tapi Engkau nyuruh aku percaya penuh.”

Dan di situlah lucunya hidup spiritual. Kita disuruh bersandar total kepada Allah…
tapi tetap harus bangun pagi, kerja, mikir, dan kadang ikut rapat yang sebenarnya bisa jadi email.

Tawakal Bukan Berhenti Usaha, Tapi Berhenti Sok Jadi Tuhan

Banyak orang mengira tawakal itu artinya:
“Ya sudah, kalau jodoh pasti datang sendiri.”

Datang sih…
tapi mungkin cuma tukang paket.

Dalam logika sufistik, tawakal itu bukan berhenti bergerak.
Tawakal itu berhenti merasa bahwa kita yang menggerakkan segalanya.

Kita tetap ikhtiar.
Tetap kirim lamaran kerja.
Tetap belajar.
Tetap bikin strategi.

Tapi di dalam hati ada pengakuan jujur:
“Yang bikin semua ini berhasil bukan CV-ku, tapi izin-Mu.”

Jadi ikhtiar itu gerak badan.
Tawakal itu posisi hati.

Badan lari maraton.
Hati duduk tenang.

Wilayah Manusia: Ikhtiar. Wilayah Allah: Hasil yang Sering Plot Twist

Allah itu Maha Kreatif dalam memberi solusi.
Kita minta pintu dibuka.
Dia kadang malah bongkar tembok.

Kita berharap A.
Datangnya Z, tapi ternyata justru itu yang menyelamatkan hidup kita dari drama 12 season.

Di sinilah tawakal bekerja sebagai penenang jiwa.
Bukan karena masalah hilang,
tapi karena kita yakin:
“Yang ngatur ini bukan panitia sembarangan.”

Secara psikologis, ini sehat banget. Orang yang tawakal itu tetap mikir, tetap usaha, tapi tidak hancur mental ketika hasil tidak sesuai ekspektasi. Karena dari awal dia sadar:
Dia manajer usaha, bukan direktur takdir.

Ubudiyyah: Sadar Diri Level Maksimal

Dalam munajat itu, manusia diajak sadar satu hal pahit tapi menyelamatkan:
kita ini hamba, bukan tokoh utama film semesta.

Doa bukan alat buat “membujuk” Allah agar mengikuti rencana kita.
Doa itu momen kita mengaku:
“Ya Allah, rencanaku sering aneh. Tolong jangan Engkau kabulkan semuanya.”

Lihat Nabi Ibrahim ketika dibakar. Beliau tidak teriak:
“Ya Allah, api tolong dimatikan ya!”

Beliau pasrah total.
Dan Allah membalas dengan cara paling elegan dalam sejarah perapian:
Api tetap api, tapi lupa caranya panas.

Itulah tawakal level sultan:
bukan mengatur skenario,
tapi percaya penuh pada Sutradara.

Sufi di Dunia Nyata (Iya, Termasuk Dunia Politik dan Deadline)

Nilai sufistik itu bukan cuma cocok di pojok masjid dengan lampu temaram dan backsound rebana.
Ia juga relevan di dunia nyata: dunia kerja, keluarga, bahkan politik yang dramanya kadang mengalahkan sinetron azab.

Orang yang punya tawakal:

  • tetap bikin rencana
  • tetap pasang strategi
  • tetap kerja keras

Tapi hatinya tidak digerogoti panik berlebihan.
Gagal tidak membuatnya merasa kiamat pribadi.
Berhasil tidak membuatnya merasa Tuhan magang.

Allah Itu Lebih Lembut dari yang Kita Kira

Bagian paling mengharukan dari semua ajaran ini adalah satu hal:
kesadaran akan kelemahan kita justru mengundang kasih sayang Allah.

Kita sering merasa,
“Aduh, imanku jelek, doaku berantakan, fokusku bocor ke mana-mana…”

Dan Allah seperti berkata,
“Memang. Makanya kamu butuh Aku.”

Zikir dan doa itu bukan laporan prestasi spiritual.
Itu sinyal lemah tapi tulus dari hamba yang bilang:
“Aku nggak bisa sendiri.”

Dan Allah tidak pernah membalas sinyal itu dengan “nomor yang Anda tuju sedang sibuk”.

Kesimpulan: Hamba yang Aktif, Hati yang Pasrah

Dari semua ini, kita belajar satu gaya hidup sufistik yang elegan:

Ikhtiar maksimal, seolah semua tergantung usaha kita
🕊️ Tawakal total, sadar bahwa sebenarnya semua tergantung Allah

Kita bergerak sepenuh tenaga,
tapi bersandar sepenuh jiwa.

Di tengah masalah, kita bukan cuma sibuk cari solusi,
tapi juga menemukan kembali identitas terdalam:

Kita ini kecil.
Kita ini lemah.
Tapi anehnya…
kita ini selalu dicukupi oleh Tuhan yang kasih sayang-Nya tidak pernah ikut krisis.

Dan mungkin di situlah letak ketenangan sejati:
hidup tidak lagi terasa seperti beban yang harus kita pikul sendiri,
tapi perjalanan yang kita jalani…
sambil terus digandeng.

Ironi dan Inspirasi: Dari Kegagalan di Kelas ke Kejayaan Nobel

Dalam dunia pendidikan, nilai sering kali dianggap sebagai penentu utama masa depan seseorang. Namun, kisah yang dibagikan oleh akun resmi Nobel Prize (@NobelPrize) tentang Tomas Lindahl, peraih Hadiah Nobel Kimia 2015, menantang narasi tersebut dengan tajam. Lindahl dengan blak-blakan mengungkap bahwa ia justru pernah gagal dalam mata pelajaran kimia di sekolah menengah atas. Kegagalan itu, ironisnya, bukan karena ketidakmampuan, melainkan akibat konflik personal dengan seorang guru yang saling tidak menyukai. Dari titik terendah itulah, Lindahl berjalan menuju puncak tertinggi dalam dunia kimia, mengukir namanya dalam sejarah sains. Esai ini akan mengulas bagaimana kisah ini bukan sekadar anekdot lucu, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang ketahanan, subjektivitas dalam penilaian, dan makna kesuksesan sejati.

Pertama-tama, narasi Lindahl menyoroti betapa rapuhnya sistem penilaian yang sering kali dianggap mutlak. Kegagalannya di sekolah bukan cerminan dari kurangnya pemahaman atau minat terhadap kimia, tetapi lebih merupakan korban dari dinamika hubungan manusia yang negatif. Guru, sebagai figur otoritas, memiliki kekuatan yang besar untuk membuka jalan atau justru menghalangi potensi seorang murid. Dalam kasus Lindahl, seorang guru memutuskan untuk "menggagalkannya," sebuah tindakan yang bisa dengan mudah mematahkan semangat dan mengubur mimpi siapa pun. Kisah ini menjadi kritik implisit terhadap sistem pendidikan yang terlalu kaku dan personal, di mana nasib akademis seorang anak bisa bergantung pada kesesuaian dengan preferensi atau kesan subjektif seorang pengajar, bukan murni pada kemampuan dan usaha.

Namun, pesan terkuat dari kisah ini adalah tentang ketahanan (resilience) dan obsesi akan pengetahuan. Lindahl tidak membiarkan satu nilai buruk dan pengalaman pahit menghentikan langkahnya. Ia justru membuktikan bahwa kegagalan awal hanyalah sebuah episod, bukan akhir dari cerita. Minatnya yang mendalam pada sains—yang sebelumnya juga telah dipupuk oleh guru-guru hebat lainnya—menjadi kompas yang mengarahkannya keluar dari kegelapan. Ia tetap berhasil masuk ke Karolinska Medical School dan akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk penelitian biokimia, khususnya mekanisme perbaikan DNA, yang membuatnya meraih Nobel. Ini membuktikan bahwa gairah dan ketekunan adalah bahan bakar yang lebih penting daripada sebuah nilai di rapor. Kesuksesan sejati terletak pada kemampuan untuk bangkit, belajar, dan terus maju meski penghalang tampak besar.

Lebih jauh, cerita Lindahl memiliki daya resonansi yang kuat di media sosial karena menyentuh pengalaman universal. Banyak orang yang pernah merasa tidak dihargai, direndahkan, atau gagal di suatu titik dalam hidup mereka. Balasan yang ramai pada tweet tersebut, yang berisi cerita serupa dari ilmuwan lain seperti John Gurdon atau pengalaman pribadi netizen, menunjukkan bahwa fenomena ini luas. Kisah Lindahl menjadi simbol harapan: bahwa penilaian orang lain, sekalipun yang berwenang, tidak boleh menjadi definisi akhir atas potensi kita. Dalam konteks pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) yang sering dianggap menakutkan dan penuh tekanan, narasi seperti ini sangat berharga. Ia mendemistifikasi citra ilmuwan sebagai sosok sempurna yang tak pernah gagal, sekaligus mendorong generasi muda untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademis.

Di sisi lain, klaim Lindahl bahwa ia adalah "satu-satunya" peraih Nobel kimia dengan pengalaman gagal di sekolah mungkin mengandung hiperbola, tetapi justru itulah yang membuat ceritanya efektif. Hiperbola tersebut tidak mengurangi kebenaran intinya, melainkan memperkuat pesan tentang keunikan perjalanan hidup dan ironi takdir. Akun Nobel Prize, sebagai institusi bergengsi, dengan sengaja membagikan kisah seperti ini untuk memanusiakan ilmuwan dan membuat prestasi tinggi terasa lebih relatable dan dapat dicapai. Ini adalah strategi komunikasi sains yang brilian: menunjukkan bahwa di balik medali emas dan prestasi kelas dunia, ada manusia biasa yang juga pernah tersandung, tetapi bangkit.

Secara keseluruhan, tweet tentang Tomas Lindahl jauh lebih dari sekadar trivia sejarah. Ia adalah sebuah esai visual dan naratif singkat tentang kompleksitas hidup, kekuatan ketekunan, dan kritik terhadap sistem yang kadang tidak adil. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kegagalan bukanlah label permanen, tetapi sebuah peristiwa. Ia mengajak kita untuk mempertanyakan otoritas penilaian, mempercayai minat dan kerja keras kita sendiri, dan selalu melihat bahwa puncak kesuksesan sering kali justru dimulai dari lembah kegagalan. Dalam kata-kata sederhana seorang peraih Nobel, tersimpan pelajaran abadi: jangan biarkan siapa pun, bahkan seorang guru yang tidak menyukaimu, menulis akhir ceritamu.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Dunia dalam Dekapan Kucing: Ketika Manusia Diperbudak dengan Sukarela

Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang mengaku memelihara kucing, dan yang sudah jujur mengakui bahwa merekalah yang dipelihara kucing. Anny Duperey tampaknya termasuk golongan kedua—golongan tercerahkan—yang sadar bahwa kucing bukan sekadar hewan berbulu lucu, melainkan makhluk filsuf berkumis yang hidupnya jauh lebih tertata secara batin daripada pemiliknya.

Mari kita bahas perlahan, sambil pura-pura tidak terganggu oleh kucing yang duduk di atas keyboard, karena tentu saja dia merasa rapat Zoom Anda kurang penting dibanding ekornya.

Kucing dan Keinginan Akan Kedamaian (Alias: Kabur dari Drama)

Kata Duperey, pecinta kucing adalah pencari ketenangan. Masuk akal. Di dunia yang penuh notifikasi, deadline, dan grup WhatsApp keluarga yang tak pernah tidur, kucing hadir sebagai makhluk yang hidup dengan prinsip: kalau tidak penting, tidur saja.

Lihatlah kucing rebahan di sudut ruangan. Dunia mungkin sedang krisis ekonomi, politik memanas, dan Anda belum bayar listrik, tapi dia tetap tidur dengan pose seperti lukisan Renaissance. Damai. Penuh keyakinan. Seolah berkata,
“Masalahmu bukan masalahku. Tapi terima kasih sudah menyediakan bantal berbentuk sofa.”

Pecinta kucing mengagumi ini. Mereka melihat kucing sebagai guru spiritual level dewa:

  • Meditasi? Tidur 14 jam.

  • Mindfulness? Fokus penuh pada suara bungkus makanan.

  • Detoks sosial? Menghilang tanpa penjelasan.

Dan anehnya, kita tidak tersinggung. Kalau manusia yang mengabaikan kita begitu, sudah jadi status galau. Tapi kalau kucing? Kita malah bilang, “Ih gemas banget, dia lagi butuh me time.”

Kemandirian Kucing dan Ilusi Hubungan Setara

Kucing juga terkenal independen. Dia datang kalau mau, pergi kalau bosan, dan memandang Anda dengan tatapan yang berkata, “Aku menghargai keberadaanmu… sebagai staf logistik.”

Pecinta kucing menyebut ini hubungan yang sehat dan dewasa. Tidak posesif. Saling menghargai ruang. Tidak saling mengekang.

Padahal kalau diterjemahkan jujur, hubungan ini mirip:

  • Anda: selalu siap, penuh perhatian, menunggu pesan.

  • Kucing: seen doang.

Tapi kita tetap bangga. “Kucingku tuh nggak manja.”
Iya, benar. Dia bukan manja. Dia bangsawan. Anda rakyat jelata yang kebetulan boleh tinggal di wilayah kekuasaannya.

Namun justru di situlah letak romantismenya. Pecinta kucing diam-diam lelah dengan hubungan yang ribet, penuh tuntutan, dan drama “kamu berubah ya”. Kucing tidak pernah bilang begitu. Dia hanya menatap Anda datar, lalu muntah di karpet sebagai bentuk ekspresi emosional. Jujur. Autentik. Tanpa pasif-agresif.

Sisi Kekanak-kanakan yang Diselamatkan oleh Kumis

Nah, bagian paling manis dari pengamatan Duperey: pecinta kucing itu diam-diam tidak mau tumbuh besar sepenuhnya.

Buktinya jelas. Orang dewasa waras tidak akan:

  • Mengajak ngobrol makhluk yang jawabannya selalu “meong”

  • Memuji pup dengan nada bangga

  • Mengambil 47 foto pose tidur yang sama

Tapi pecinta kucing melakukannya dengan bahagia.

Saat melihat kucing mengejar titik cahaya laser, sesuatu dalam diri kita ikut lompat-lompat. Ada bagian jiwa kecil yang bersorak, “Iya! Kejar! Itu musuh bebuyutanmu!” Padahal itu cuma refleksi sendok.

Kucing memberi kita izin untuk tetap kagum pada hal remeh:

  • Bayangan di dinding

  • Kardus kosong (lebih menarik dari mainan mahal)

  • Sinar matahari di lantai yang mendadak jadi tempat suci untuk rebahan

Di tengah hidup orang dewasa yang isinya cicilan dan kolesterol, kucing adalah portal ke dunia di mana kebahagiaan bisa datang dari kotak bekas sepatu.

Jadi Siapa Sebenarnya yang Diselamatkan?

Kita sering merasa sedang merawat kucing: memberi makan, membersihkan litter box, mengantar ke dokter hewan sambil panik seperti orang tua baru.

Tapi mungkin, seperti kata Duperey secara halus, kucinglah yang merawat bagian terdalam diri kita:

  • Bagian yang lelah dan butuh sunyi

  • Bagian yang ingin bebas tanpa selalu menjelaskan diri

  • Bagian kecil dalam diri yang masih bisa tertawa melihat ekor sendiri

Jadi ketika seseorang duduk diam membelai kucing di sore hari yang tenang, itu bukan cuma momen lucu penuh bulu beterbangan. Itu adalah terapi eksistensial murah meriah—dibayar dengan tuna kaleng dan harga diri yang perlahan hancur setiap kali dipanggil hanya saat jam makan.

Dan anehnya… kita bahagia.

Karena di dunia yang sering terasa terlalu keras, dipilih—meski cuma sebagai pembuka kaleng makanan—oleh seekor kucing yang anggun dan sok acuh, rasanya seperti kehormatan spiritual tingkat tinggi.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026