Rabu, 10 September 2025

Makan Siang Gratis, Defisit Mahal

Bayangkan Anda punya dompet berisi Rp100 ribu. Lalu tiba-tiba ada teman yang bilang: “Bro, traktir 30 orang makan siang, ya. Tapi inget, jangan sampai duitmu kurang dari Rp97 ribu.”

Itulah persis dilema Menteri Keuangan baru Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa. Bedanya, angka Rp100 ribu itu bukan dompet warung pecel lele, melainkan Produk Domestik Bruto (PDB). Dan target “jangan kurang dari Rp97 ribu” itu adalah aturan sakti: defisit maksimal 3%. Sementara pesanan makan siang? Bukan sekadar nasi kotak, melainkan program nasional untuk puluhan juta anak sekolah. Tagihannya: 1,5% dari PDB.

Selamat Tinggal Ibu Menteri

Sri Mulyani, sang ibu kos keuangan negara, dikenal jago menjaga pengeluaran: kadang nyebelin karena pelit, tapi justru bikin anak kos (Indonesia) nggak sampai digedor debt collector internasional. Nah, tiba-tiba beliau dicopot. Investor pun mendadak kayak anak kost kehilangan ibu kos: panik, bingung, dan sedikit takut dapur jadi berantakan.

Masuklah Purbaya Yudhi Sadewa. Beliau pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan—sebuah lembaga yang kerjanya menenangkan nasabah kalau bank bubar. Jadi, setidaknya kalau fiskal Indonesia meledak, mungkin beliau bisa kasih jaminan: “Tenang, tabungan Anda sampai 2 miliar masih aman.”

Kue Fiskal: Dimakan atau Dihirup?

Prabowo ingin punya dua kue sekaligus: belanja pertahanan dan makan siang gratis. Investor langsung geleng-geleng: “Mau makan kue, tapi nggak mau kalori?”

Di sinilah metafora “have your cake and eat it too” jadi menarik. Kalau di Indonesia, ungkapan itu mungkin lebih cocok jadi: “Nasi padang gratis, tapi jangan ada defisit.” Lucunya, nasi padang gratis itu porsinya jumbo: rendang, gulai, ayam pop, semua ada. Padahal dompet fiskal negara cuma cukup untuk nasi sama sayur singkong.

Janji 8%: Impian atau Hipnotis?

Purbaya bilang pertumbuhan ekonomi 8% itu realistis. IMF menjawab dengan senyum kecut: “4,7% aja udah syukur.” Investor? Mereka lebih memilih percaya ramalan zodiak ketimbang target ekonomi itu.

Kalau kata netizen, janji 8% ini mirip obral: “Beli utang dua, gratis pertumbuhan delapan.” Menarik, tapi siapa yang mau bayar cicilannya?

Pasar Saham: Diet Ekspres

Begitu Sri Mulyani lengser, pasar saham langsung turun 1,3%. Rupiah? Santai, kayak mahasiswa yang pura-pura nggak peduli pas dosennya keluar kelas. Investor asing pun masih menunggu, sambil menghitung: “Apakah makan siang gratis ini bakal jadi all you can eat, atau malah all you can debt?”

Kesimpulan 

Indonesia hari ini ibarat restoran besar:

  • Chef lamanya (Sri Mulyani) keluar karena dianggap terlalu pelit garam.
  • Chef barunya (Purbaya) janji semua menu bakal lebih lezat dan porsinya double.
  • Pemilik restoran (Prabowo) minta makan siang gratis untuk semua pelanggan, tapi tetap untung besar.

Pertanyaannya: siapa yang bayar tagihannya? Kalau jawabannya “utang lagi”, ya siap-siap saja restoran ini dapat bintang lima—bukan dari Michelin, tapi dari lembaga pemeringkat kredit.

abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.