Bayangkan Anda punya dompet berisi Rp100 ribu. Lalu tiba-tiba ada teman yang bilang: “Bro, traktir 30 orang makan siang, ya. Tapi inget, jangan sampai duitmu kurang dari Rp97 ribu.”
Itulah persis dilema Menteri Keuangan baru Indonesia,
Purbaya Yudhi Sadewa. Bedanya, angka Rp100 ribu itu bukan dompet warung pecel
lele, melainkan Produk Domestik Bruto (PDB). Dan target “jangan
kurang dari Rp97 ribu” itu adalah aturan sakti: defisit maksimal 3%. Sementara
pesanan makan siang? Bukan sekadar nasi kotak, melainkan program nasional untuk
puluhan juta anak sekolah. Tagihannya: 1,5% dari PDB.
Selamat Tinggal Ibu Menteri
Sri Mulyani, sang ibu kos keuangan negara,
dikenal jago menjaga pengeluaran: kadang nyebelin karena pelit, tapi justru
bikin anak kos (Indonesia) nggak sampai digedor debt collector internasional.
Nah, tiba-tiba beliau dicopot. Investor pun mendadak kayak anak kost kehilangan
ibu kos: panik, bingung, dan sedikit takut dapur jadi berantakan.
Masuklah Purbaya Yudhi Sadewa. Beliau pernah memimpin
Lembaga Penjamin Simpanan—sebuah lembaga yang kerjanya menenangkan nasabah
kalau bank bubar. Jadi, setidaknya kalau fiskal Indonesia meledak,
mungkin beliau bisa kasih jaminan: “Tenang, tabungan Anda sampai 2 miliar masih
aman.”
Kue Fiskal: Dimakan atau Dihirup?
Prabowo ingin punya dua kue sekaligus: belanja
pertahanan dan makan siang gratis. Investor langsung
geleng-geleng: “Mau makan kue, tapi nggak mau kalori?”
Di sinilah metafora “have your cake and eat it too” jadi
menarik. Kalau di Indonesia, ungkapan itu mungkin lebih cocok jadi: “Nasi
padang gratis, tapi jangan ada defisit.” Lucunya, nasi padang gratis itu
porsinya jumbo: rendang, gulai, ayam pop, semua ada. Padahal dompet fiskal
negara cuma cukup untuk nasi sama sayur singkong.
Janji 8%: Impian atau Hipnotis?
Purbaya bilang pertumbuhan ekonomi 8% itu realistis. IMF
menjawab dengan senyum kecut: “4,7% aja udah syukur.” Investor? Mereka lebih
memilih percaya ramalan zodiak ketimbang target ekonomi itu.
Kalau kata netizen, janji 8% ini mirip obral: “Beli utang
dua, gratis pertumbuhan delapan.” Menarik, tapi siapa yang mau bayar
cicilannya?
Pasar Saham: Diet Ekspres
Begitu Sri Mulyani lengser, pasar saham langsung turun 1,3%.
Rupiah? Santai, kayak mahasiswa yang pura-pura nggak peduli pas dosennya keluar
kelas. Investor asing pun masih menunggu, sambil menghitung: “Apakah makan
siang gratis ini bakal jadi all you can eat, atau malah all
you can debt?”
Kesimpulan
Indonesia hari ini ibarat restoran besar:
- Chef
lamanya (Sri Mulyani) keluar karena dianggap terlalu pelit garam.
- Chef
barunya (Purbaya) janji semua menu bakal lebih lezat dan porsinya double.
- Pemilik
restoran (Prabowo) minta makan siang gratis untuk semua pelanggan, tapi
tetap untung besar.
Pertanyaannya: siapa yang bayar tagihannya? Kalau jawabannya
“utang lagi”, ya siap-siap saja restoran ini dapat bintang lima—bukan dari
Michelin, tapi dari lembaga pemeringkat kredit.
abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.