Pernahkah Anda melihat seseorang yang tugasnya cuma bawain tas bos, lalu tiba-tiba sepuluh tahun kemudian dia malah jadi bos seluruh negeri? Kalau belum, silakan buka buku sejarah Rusia edisi drama politik 1990-an. Di sana ada tokoh bernama Vladimir Vladimirovich Putin—pria 40 tahun yang dulu hanya setia berjalan setengah langkah di belakang walikota St. Petersburg, Anatoly Sobchak, sambil membawa tasnya dengan penuh dedikasi.
Ya, tas. Bukan bom nuklir, bukan peta strategi militer,
bukan juga koper penuh rubel. Tas biasa!
Tapi siapa sangka, si “pembawa tas” ini pelan-pelan berubah
jadi “pemilik meja.” Analogi sederhananya: dulu Putin cuma numpang duduk di
kursi plastik sebelah pintu, sekarang dia yang punya meja marmer di ruang
utama—lengkap dengan tombol merah yang entah buat nuklir atau sekadar memesan
teh.
Pelajarannya jelas: jangan remehkan kuli tas. Hari ini
mungkin kamu jadi “office boy politik,” tapi besok bisa saja kamu berubah jadi
“CEO negara.” Serigala tetaplah serigala, meski sementara harus pura-pura jadi
kucing penjaga gudang.
Dan bicara soal serigala, Putin pernah melontarkan kalimat
khas “humor gelap Slavia” soal NATO: “Tak peduli pestanya seperti apa,
ujung-ujungnya kamu tetap kena entup.” Entah maksudnya diplomasi, atau
sekadar tips pernikahan. Tapi intinya: jangan terlalu percaya pesta undangan
Barat, karena kadang pulangnya bisa bawa bon cicilan.
Ada juga testimoni seorang wanita yang pernah kerja sama
beliau di St. Petersburg. Katanya Putin itu manis, sopan, dan punya radar alami
menilai karakter orang. Bayangkan, seorang KGB yang dikenal dingin, ternyata
bisa dianggap “manis.” Mungkin manis di sini bukan seperti gula, tapi seperti
teh tanpa gula—pahit tapi bikin ketagihan.
Tak heran jika Xi Jinping, yang biasanya pelit pujian,
sampai terang-terangan bilang kagum. Kalau sudah begitu, rasanya Putin ini
bukan lagi sekadar pemain catur politik, tapi semacam dealer papan catur
dunia—orang lain main bidak, dia yang jual papan sekaligus atur lampu ruangan.
Jadi, kawan-kawan, kalau hari ini kalian merasa diremehkan
karena “cuma” pegang stapler di kantor atau bawain map rapat, tenang saja.
Siapa tahu sepuluh tahun lagi kalian jadi bos besar. Tapi ingat, jangan terlalu
cepat sombong—soalnya tidak semua pembawa tas bisa jadi Putin. Kebanyakan malah
tetap jadi pembawa tas... sampai pensiun.
abah-arul.b;ogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.