Rabu, 24 September 2025

Bertarekat, Jangan Sampai Nyasar ke Laut Lepas

Konon, hidup ini ibarat perjalanan. Syariat itu perahunya, tarekat itu lautnya, hakikat itu mutiaranya. Nah, masalahnya, kalau kita sudah punya perahu tapi tidak tahu cara mendayung, bisa-bisa bukannya sampai ke pulau mutiara, malah nyasar ke kandang ikan hiu.

Makanya, tarekat itu penting: dia seperti GPS rohani. Tanpa GPS, kita mungkin pede bilang, “Ah, saya bisa kok jalan sendiri!” Tapi ujung-ujungnya, sudah putar balik tiga kali, eh, tetap saja masuk ke jalan buntu.

Butuh Guru, Jangan Modal Nekat

Ada pepatah unik: orang yang tidak punya guru, maka gurunya setan. Waduh, kalau setan sudah jadi dosen pembimbing, jangan heran kalau skripsi hidup kita judulnya “Tersesat dalam Peta Sendiri.”

Guru tarekat itu ibarat teknisi listrik. Kita boleh punya lampu 1 juta watt, tapi kalau kabelnya tidak tersambung ke PLN, tetap saja rumah gelap gulita. Sebaliknya, meski lampu cuma 30 watt, kalau kabelnya nyambung, terang sekali! Jadi, jangan sok-sokan nyambung kabel sendiri—nanti kesetrum!

Zikir Tanpa Tarekat: Kayak Jualan Bakso Tanpa Kuah

Zikir tanpa tarekat itu ibarat jualan bakso tapi lupa bikin kuah. Pelanggan datang, lihat mangkoknya kering, langsung kabur sambil berkata, “Mas, ini bakso apa cilok gagal?”

Begitu pula tarekat: bukan soal kita bisa baca wirid panjang atau hafal bacaan pendek, tapi soal “cara”. Semua ada jalannya. Bahkan jualan bakso saja perlu izin usaha, apalagi urusan menuju Allah.

Jangan Salah Paham

Ada yang bilang, “Kalau gitu semua yang puasa atau baca surat Waqi’ah termasuk amalan tarekat ya, Kiai?” Nah, ini salah kaprah. Semua muslim boleh baca Qur’an, puasa, bahkan jualan bakso. Tapi itu bukan spesialisasi tarekat. Kalau begitu, apa tarekat juga harus dilarang jual bakso? Ya rugi lah dunia perbaksoan!

Kesimpulan 

Jadi, bertarekat itu ibarat main bola dengan pelatih. Tanpa pelatih, pemain bisa saling rebut bola, gol ke gawang sendiri, lalu bilang, “Ini takdir, Bro!” Padahal bukan takdir, tapi tak tahu aturan main.

Maka, kalau sudah jelas ada jalannya, ada gurunya, ada sanadnya, kenapa harus nyasar? Jangan-jangan, kita ini lebih takut salah adonan bakso daripada salah jalan ke akhirat. 

abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.