Konon, hidup ini ibarat perjalanan. Syariat itu perahunya, tarekat itu lautnya, hakikat itu mutiaranya. Nah, masalahnya, kalau kita sudah punya perahu tapi tidak tahu cara mendayung, bisa-bisa bukannya sampai ke pulau mutiara, malah nyasar ke kandang ikan hiu.
Makanya, tarekat itu penting: dia seperti GPS rohani. Tanpa
GPS, kita mungkin pede bilang, “Ah, saya bisa kok jalan sendiri!” Tapi
ujung-ujungnya, sudah putar balik tiga kali, eh, tetap saja masuk ke jalan
buntu.
Butuh Guru, Jangan Modal Nekat
Ada pepatah unik: orang yang tidak punya guru, maka gurunya
setan. Waduh, kalau setan sudah jadi dosen pembimbing, jangan heran kalau
skripsi hidup kita judulnya “Tersesat dalam Peta Sendiri.”
Guru tarekat itu ibarat teknisi listrik. Kita boleh punya
lampu 1 juta watt, tapi kalau kabelnya tidak tersambung ke PLN, tetap saja
rumah gelap gulita. Sebaliknya, meski lampu cuma 30 watt, kalau kabelnya
nyambung, terang sekali! Jadi, jangan sok-sokan nyambung kabel sendiri—nanti
kesetrum!
Zikir Tanpa Tarekat: Kayak Jualan Bakso Tanpa Kuah
Zikir tanpa tarekat itu ibarat jualan bakso tapi lupa bikin
kuah. Pelanggan datang, lihat mangkoknya kering, langsung kabur sambil
berkata, “Mas, ini bakso apa cilok gagal?”
Begitu pula tarekat: bukan soal kita bisa baca wirid panjang
atau hafal bacaan pendek, tapi soal “cara”. Semua ada jalannya. Bahkan jualan
bakso saja perlu izin usaha, apalagi urusan menuju Allah.
Jangan Salah Paham
Ada yang bilang, “Kalau gitu semua yang puasa atau
baca surat Waqi’ah termasuk amalan tarekat ya, Kiai?” Nah, ini salah
kaprah. Semua muslim boleh baca Qur’an, puasa, bahkan jualan bakso. Tapi itu
bukan spesialisasi tarekat. Kalau begitu, apa tarekat juga harus dilarang jual
bakso? Ya rugi lah dunia perbaksoan!
Kesimpulan
Jadi, bertarekat itu ibarat main bola dengan pelatih. Tanpa
pelatih, pemain bisa saling rebut bola, gol ke gawang sendiri, lalu
bilang, “Ini takdir, Bro!” Padahal bukan takdir, tapi tak tahu
aturan main.
Maka, kalau sudah jelas ada jalannya, ada gurunya, ada sanadnya, kenapa harus nyasar? Jangan-jangan, kita ini lebih takut salah adonan bakso daripada salah jalan ke akhirat.
abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.