Senin, 15 September 2025

Hidup: Antara Sinetron, Sapi Kurban, dan Bus yang Penuh Penumpang

Bayangkan hidup ini seperti sinetron Indosiar. Ada yang jadi orang baik, ada yang jadi penjahat, ada yang jadi tokoh nangis tiap episode. Nah, masalahnya: kita sering lupa kalau si “penjahat” di layar itu cuma lagi disuruh sutradara. Tapi kita keburu benci, sampai kalau ketemu di jalan, pengen lempar sandal Swallow. Padahal, kasihan… dia cuma karyawan lepas yang kebetulan job description-nya “ditampar tiap Senin–Jumat jam 19.00”.

Begitu juga hidup: ada kejadian yang enak—kayak dapat bonus gaji—dan ada yang nyebelin—kayak dapat WA dari mantan pas tengah malam. Semua itu sebenarnya skenario. Allah yang nulis naskahnya. Kalau sinetron isinya cuma makan-makan, tanpa konflik, ratingnya jeblok. Nah, hidup pun sama: harus ada drama biar jalan ceritanya.

Untung Kita Bukan Sapi

Kalau dipikir-pikir, kita sudah lumayan hoki lahir jadi manusia. Bayangin kalau lahir jadi sapi: pas Idul Adha, selesai riwayat. Atau jadi kambing: kerjaannya cuma “mbeeek” sambil nunggu siapa yang punya niat aqiqah. Mau jadi burung? Bebas sih, tapi risiko ditembak ketapel anak SD lalu jadi lauk goreng.

Jadi, kalau ada yang masih mengeluh jadi manusia, coba lihat sapi di kandang. Itu baru definisi “hidup serba dibatasi”—makan rumput, diikat, lalu… ya kita semua tahu endingnya.

Tugas Kita: Jadi Budak Profesional

Kiai bilang, kita ini budaknya Allah. Kalau dipikir pakai istilah modern, berarti kita ini freelancer yang kontraknya permanen. Klien kita: Allah. Brief-nya simpel tapi berat: ajak orang pada kebaikan, cegah kemungkaran. Kedengarannya mudah, kayak kalimat di spanduk masjid. Tapi prakteknya? Susahnya kayak ngajak teman nongkrong ikut tahlilan—banyak alasan, banyak background. Ada yang baper, ada yang nyinyir, ada juga yang bilang: “Bro, itu kan privasi spiritual gue.”

Padahal, tugas kita cuma ngajak. Soal mereka mau ikut atau nggak, itu bukan jobdesk kita. Hidayah itu bukan “paket data” yang bisa kita transfer. Itu urusan Allah. Jadi jangan baper kalau ajakan kita ditolak. Tugas kita kayak kernet bus: teriak, “Ayo naik, ayo naik!” Kalau penumpang bilang, “Nggak ah, gue mager,” ya sudah, bukan salah kernet.

Jangan Sok Jadi Tuhan

Sering kali kita marah kalau orang lain nggak sesuai dengan keinginan kita. Nah, itu tandanya kita lagi ngaku-ngaku jadi Tuhan. Padahal, jadi manusia saja sudah repot—tagihan listrik, cicilan motor, kerjaan numpuk—ngapain pula nambah jabatan “Tuhan KW”? Lebih baik fokus saja pada jobdesk asli: jadi hamba.

Kalau Allah perintah, “Ajak ke kebaikan,” ya ajak. Kalau Allah bilang, “Cegah keburukan,” ya cegah. Selesai. Jangan kayak orang ngajak naik bus tapi malah nyuruh penumpang yang sudah duduk di dalam untuk turun. Itu sih bukan dakwah, tapi sabotase.

Kesimpulan: Jadi Penonton Plus Pemeran

Hidup ini sinetron. Ada sutradara, ada skenario, ada tokoh baik, ada tokoh jahat. Kita? Ya pemeran juga, tapi sekaligus penonton yang bisa belajar dari jalan cerita. Yang penting, jangan kebawa benci sama aktor antagonis—ingat, dia juga cuma kerja.

Dan yang paling penting, syukuri lahir jadi manusia. Soalnya, jadi sapi pas musim kurban… tamat sudah episode hidup kita.

abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.