Bayangkan hidup ini seperti sinetron Indosiar. Ada yang jadi orang baik, ada yang jadi penjahat, ada yang jadi tokoh nangis tiap episode. Nah, masalahnya: kita sering lupa kalau si “penjahat” di layar itu cuma lagi disuruh sutradara. Tapi kita keburu benci, sampai kalau ketemu di jalan, pengen lempar sandal Swallow. Padahal, kasihan… dia cuma karyawan lepas yang kebetulan job description-nya “ditampar tiap Senin–Jumat jam 19.00”.
Begitu
juga hidup: ada kejadian yang enak—kayak dapat bonus gaji—dan ada yang
nyebelin—kayak dapat WA dari mantan pas tengah malam. Semua itu sebenarnya
skenario. Allah yang nulis naskahnya. Kalau sinetron isinya cuma makan-makan,
tanpa konflik, ratingnya jeblok. Nah, hidup pun sama: harus ada drama biar
jalan ceritanya.
Untung
Kita Bukan Sapi
Kalau
dipikir-pikir, kita sudah lumayan hoki lahir jadi manusia. Bayangin kalau lahir
jadi sapi: pas Idul Adha, selesai riwayat. Atau jadi kambing: kerjaannya cuma
“mbeeek” sambil nunggu siapa yang punya niat aqiqah. Mau jadi burung? Bebas
sih, tapi risiko ditembak ketapel anak SD lalu jadi lauk goreng.
Jadi,
kalau ada yang masih mengeluh jadi manusia, coba lihat sapi di kandang. Itu
baru definisi “hidup serba dibatasi”—makan rumput, diikat, lalu… ya kita semua
tahu endingnya.
Tugas
Kita: Jadi Budak Profesional
Kiai
bilang, kita ini budaknya Allah. Kalau dipikir pakai istilah modern, berarti
kita ini freelancer yang kontraknya permanen. Klien kita:
Allah. Brief-nya simpel tapi berat: ajak orang pada kebaikan, cegah
kemungkaran. Kedengarannya mudah, kayak kalimat di spanduk masjid. Tapi
prakteknya? Susahnya kayak ngajak teman nongkrong ikut tahlilan—banyak alasan,
banyak background. Ada yang baper, ada yang nyinyir, ada juga yang bilang:
“Bro, itu kan privasi spiritual gue.”
Padahal,
tugas kita cuma ngajak. Soal mereka mau ikut atau nggak, itu bukan jobdesk
kita. Hidayah itu bukan “paket data” yang bisa kita transfer. Itu urusan Allah.
Jadi jangan baper kalau ajakan kita ditolak. Tugas kita kayak kernet bus:
teriak, “Ayo naik, ayo naik!” Kalau penumpang bilang, “Nggak ah, gue mager,” ya
sudah, bukan salah kernet.
Jangan
Sok Jadi Tuhan
Sering
kali kita marah kalau orang lain nggak sesuai dengan keinginan kita. Nah, itu
tandanya kita lagi ngaku-ngaku jadi Tuhan. Padahal, jadi manusia saja sudah
repot—tagihan listrik, cicilan motor, kerjaan numpuk—ngapain pula nambah
jabatan “Tuhan KW”? Lebih baik fokus saja pada jobdesk asli: jadi hamba.
Kalau
Allah perintah, “Ajak ke kebaikan,” ya ajak. Kalau Allah bilang, “Cegah
keburukan,” ya cegah. Selesai. Jangan kayak orang ngajak naik bus tapi malah
nyuruh penumpang yang sudah duduk di dalam untuk turun. Itu sih bukan dakwah,
tapi sabotase.
Kesimpulan:
Jadi Penonton Plus Pemeran
Hidup
ini sinetron. Ada sutradara, ada skenario, ada tokoh baik, ada tokoh jahat.
Kita? Ya pemeran juga, tapi sekaligus penonton yang bisa belajar dari jalan
cerita. Yang penting, jangan kebawa benci sama aktor antagonis—ingat, dia juga
cuma kerja.
Dan yang
paling penting, syukuri lahir jadi manusia. Soalnya, jadi sapi pas musim
kurban… tamat sudah episode hidup kita.
abah-arul.blogspot.com., September 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.