Ketika Guru Jadi “Beban Negara” Versi Deepfake: Drama Digital ala Telenovela
Bayangkan Anda lagi santai nonton TikTok, tiba-tiba muncul video Menteri Keuangan sedang pidato, lalu dengan wajah agak “tembem” dan suara yang kayak kaset kusut, ia bilang: “Guru itu beban negara.”
Sekejap, darah naik ke ubun-ubun! Para guru murid Tiktok pun marah: “Hah, jadi kita selama ini bukan pendidik bangsa, tapi beban bagasi?”
Padahal, ternyata itu bukan pidato asli. Itu hasil kreasi AI + jari-jari iseng netizen yang lebih doyan edit video ketimbang edit skripsi. Sungguh, teknologi deepfake ini kadang lebih lihai dari tukang sulap: bisa bikin seseorang berkata hal-hal yang tidak pernah diucapkan. Kalau Shakespeare hidup sekarang, mungkin ia akan bilang: “To deepfake or not to deepfake, that is the question.”
Pidato Asli: APBN, Bukan Ngibarin Spanduk Anti-Guru
Wajah “Tembem” dan Suara Patah-Patah
Deepfake itu bikin Sri Mulyani terlihat seperti habis makan mie instan lima bungkus sekaligus, dengan pipi bulat puffy dan suara yang mendadak putus-putus persis radio lawas. Anehnya, banyak orang langsung percaya. Rupanya bagi sebagian netizen, lebih mudah curiga pada pejabat daripada curiga pada filter TikTok.
Netizen: Dari Murka ke Trending Topic
Begitu video itu viral, guru-guru langsung ngamuk. PGRI pun ikut bersuara, istilah “guru” mendadak trending di X (Twitter). Dalam sejarah, mungkin baru kali ini satu kata se-sederhana “guru” bisa menggetarkan jagat maya, lebih heboh dari kata “gratis ongkir”.
Pemerintah: “Santai, Itu Hoaks”
Implikasi: Kalau Semua Bisa Deepfake, Siapa Bisa Dipercaya?
Penutup: Antara Literasi dan Lelucon
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
8/20/2025 02:39:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.