Di zaman ketika petani lebih dulu membuka aplikasi cuaca daripada membuka pintu rumah, sebuah unggahan media sosial tentang Titi Mangsa mendadak terasa seperti pesan dari masa lalu yang nyasar ke era notifikasi. Isinya sederhana tapi menohok: jauh sebelum satelit beredar di langit dan server berdengung di bumi, nenek moyang kita sudah lebih dulu subscribe pada alam—tanpa iklan, tanpa paket data, dan tanpa perlu update versi.
Titi Mangsa sering disangka ramalan mistis, padahal sejatinya ia lebih mirip laporan riset lapangan jangka panjang, hanya saja ditulis tanpa grafik PowerPoint. Ia lahir dari kebiasaan mengamati: angin yang berubah arah, hujan yang datang terlambat, burung yang gelisah, daun yang gugur sebelum waktunya. Singkatnya, nenek moyang kita rajin ngelihat, bukan cuma nge-scroll.
Sebagai kalender ekologis, Titi Mangsa jelas beda kelas dengan kalender Masehi yang seragam dan rapi seperti absen pegawai negeri. Ia membagi tahun ke dalam 12 mangsa dengan durasi yang tidak sama—karena alam tropis memang tidak suka diseragamkan. Dari Kasa, saat daun berguguran dan tanah siap ditanami palawija, sampai Sadha, ketika udara kering dan padi sudah waktunya masuk lumbung. Semua ada penjelasannya. Alam dijadikan buku teks, bukan latar belakang foto Instagram.
Menariknya, di tengah krisis iklim dan cuaca yang makin suka “berubah pikiran”, logika Titi Mangsa justru terasa makin relevan. Fenomena El Niño dan La Niña yang bikin petani garuk-garuk kepala sebetulnya cocok diajak dialog dengan sistem lama ini. Dalam bahasa kampus, Titi Mangsa nyambung dengan phenology dan agroklimatologi. Dalam bahasa warung kopi: “Oh, ternyata leluhur kita dulu sudah pakai ilmu, cuma nggak pakai istilah Inggris.”
Secara filosofis, Titi Mangsa mengajarkan hubungan manusia dan alam yang tidak transaksional. Alam tidak diperas, tapi dibaca. Pepatah Jawa seperti “Sotya murca ing embanan” bukan sekadar hiasan sastra, melainkan catatan ekologis yang padat, seperti abstract jurnal—bedanya, ini mudah dihafal dan bisa dilantunkan sambil menunggu hujan.
Tentu saja, Titi Mangsa tidak kebal kritik. Ia lahir di Jawa masa lalu, bukan di kota modern dengan beton, polusi, dan lampu LED yang tak pernah tidur. Karena itu, ia tidak boleh diperlakukan seperti kitab suci yang tidak boleh disentuh. Justru kekuatannya ada pada kelenturan: sebagai cara berpikir, bukan tanggal mati. Bahkan ketika tanggal-tanggalnya diselaraskan dengan kalender Masehi, itu tanda bahwa leluhur kita sudah lebih dulu paham konsep hibridisasi pengetahuan—jauh sebelum istilah itu masuk proposal riset.
Pada akhirnya, Titi Mangsa adalah bukti bahwa sains Nusantara bukan cerita karangan, apalagi klenik. Ia adalah hasil empirisme yang tekun, dicatat dengan bahasa puitis agar mudah diingat, dan diwariskan tanpa seminar nasional. Menghidupkan kembali wacana ini bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan maju dengan bekal yang lebih lengkap.
Sebab alam, bagaimanapun juga, tetap guru paling sabar. Ia mengajar tanpa slide, tanpa sertifikat, dan tanpa tenggat waktu. Dan Titi Mangsa adalah catatan kuliah nenek moyang kita—yang sayangnya baru kita buka lagi ketika cuaca sudah keburu tak menentu.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.