Ada pepatah lama di ruang-ruang diskusi NU: “Kalau sudah bicara fiqih, semuanya tenang; kalau bicara struktur organisasi, semuanya tegang.” Dan rupanya, ketika disodori isu dana Rp100 miliar, ketegangan itu naik kelas—bukan lagi tegang seperti ditagih SPP pesantren, tapi tegang level audit akuntan publik.
Isu ini ibarat santri baru yang tiba-tiba jadi pusat
perhatian: semua orang nanya dari mana asalnya, mau ngapain, dan kenapa bisa
menghilang muncul kembali seenaknya seperti jin ifrit punya program self-refresh.
PBNU Klarifikasi: “Ini Transaksi, Bukan Tragedi”
Dalam konferensi pers yang suasananya mirip rapat kelas
ketika ketua kelas dituduh nyolong kapur, Bendahara Sumantri Suwarno tampil
dengan gaya paling rapi yang pernah ditampilkan oleh seorang bendahara: map
lengkap, data lengkap, alis sedikit naik—menandakan “saya sudah siap dites,
jangan macam-macam.”
Ia menjelaskan bahwa uang Rp100 miliar itu benar masuk,
dicatat, tidak disembunyikan, dan sebagian besar sudah ditarik lagi. Intinya: “Ini
bukan kriminal, ini cuma lalu lintas keuangan yang sedang lewat.”
Sumantri pun mengingatkan publik agar tidak mudah percaya
pada narasi-narasi yang “diangin-anginkan”—kalau terlalu sering kena angin,
nanti masuk angin beneran dan butuh kerokan politik internal.
Dugaan Manuver Politik: Sebuah Drama Tanpa OST
Ketika Najib Azca menyebut adanya upaya untuk menekan
Syuriyah supaya memakzulkan Ketum PBNU, suasana makin dramatis. Orang-orang
mulai mencari siapa penulis skenario, siapa sutradara, dan siapa pemain
cadangannya.
Sayangnya, tidak ada OST (soundtrack) yang mengiringi, jadi
publik hanya bisa menebak-nebak. Tapi kalau drama ini punya soundtrack,
kemungkinan besar judulnya:
“Audit yang Hilang, Dana yang Pulang, Narasi yang
Melayang.”
KPK Masuk Panggung: Saat Semua Orang Mendadak Ingat Arsip
Saat KPK menyatakan akan menindaklanjuti kasus ini, sontak
semua orang ingat arsip. Mendadak laptop dicari, kwitansi difotokopi, bahkan
buku besar yang sudah lama dijadikan tatakan aqua galon pun dicuci bersih.
Audit yang sempat muncul lalu dibantah sebagai “dipelintir”
membuat suasana seperti lomba tarik tambang: satu pihak menarik “ini bukti!”,
pihak lain menarik “itu hoaks!”
Pelajaran Besar dari Polemik 100 Miliar
Selama kuahnya enak, semua senang. Tapi begitu ada yang
melihat ke dapur dan bertanya, “Loh bawangnya kok segitu banyak?”, suasana
langsung riuh.
Isu uang 100 miliar ini memperlihatkan beberapa titik rawan:
- figur
bermasalah yang tidak segera dicopot, seperti wajan gosong yang tetap
dipakai karena “sayang, masih bisa buat tumis kangkung,”
- auditor
yang mundur karena hasil kerjanya di-forward tanpa stiker estetik,
- dan
dokumen yang bocor seperti panci tanpa tutup.
Penutup: NU, Ujian, dan Humor Menjaga Marwah
Pada akhirnya, polemik dana ini adalah ujian. Bukan hanya
untuk PBNU, tetapi juga untuk kita sebagai bangsa: apakah kita bisa melihat
masalah serius tanpa berubah menjadi komentator sinetron?
NU telah melewati zaman kolonial, zaman orde apa pun, sampai
zaman TikTok. Jadi seharusnya, ujian 100 miliar ini bukan kiamat—paling banter
hanya “ulangan tengah semester” dalam mata pelajaran Tata Kelola dan Fikih
Anggaran.
Jika semua pihak tenang, jujur, dan transparan, maka marwah
organisasi akan tetap seperti peci kiai: kadang miring, kadang goyang, tapi
tidak pernah jatuh.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.