Minggu, 21 Desember 2025

Muhasabah ala NU: Ketika Kitab Kuning Bertanya, “Kok Kamu Gitu?”

Di Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Said Aqil Siradj menyampaikan pidato yang—jika kitab kuning bisa bicara—mungkin akan berkata, “Akhirnya ada yang nyebut nama saya bukan cuma buat ujian!” Pidato itu serius, tapi kalau disimak dengan kacamata jenaka, ia seperti cermin besar di ruang tamu NU: semua lewat, semua kelihatan, dan sebagian pura-pura tidak bercermin.

KH. Said Aqil mengajak NU melakukan muhasabah dan bahkan naik kelas ke mu’atabah—bukan cuma introspeksi, tapi berani bilang, “Mungkin yang salah itu kita.” Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi di organisasi besar, efeknya bisa seperti melempar batu ke kolam ikan koi: riaknya ke mana-mana, ikannya kaget, airnya keruh sebentar.

Kitab Kuning yang Rajin Dibaca, Tapi Malas Dipraktikkan

NU dikenal sebagai gudangnya kitab kuning. Al-Hikam dikaji, Ihya’ Ulumiddin dibaca, bahkan dihafal kutipannya. Tapi KH. Said Aqil dengan jenaka menyentil: mengapa ajaran tasawuf yang menenangkan jiwa itu sering berhenti di meja ngaji, tidak sampai ke meja rapat?

Di kitab, kita diajari membersihkan hati. Di lapangan, yang dibersihkan justru reputasi orang lain. Kitab bilang, “Cari aib diri sendiri.” Praktiknya berubah jadi, “Cari aib grup sebelah.” Seolah-olah muhasabah itu seperti WiFi: kencang di rumah sendiri, hilang sinyal begitu masuk ruang publik.

Silaturrahim Mustasyar: Undangan, Undur, dan Ujian Kesabaran

Drama Silaturrahim Mustasyar PBNU di Tebuireng menjelang Desember 2025 bisa dijadikan studi kasus—atau kalau mau lebih santai, sinetron religi berseri. Undangan direvisi, jadwal digeser, kabar beredar bahwa dua tokoh utama tidak ingin satu forum. Publik pun bertanya-tanya: ini mau silaturrahim atau audisi talk show?

Yang lucu (dan getir), kabar itu kemudian dibantah oleh utusan Rais ‘Aam sendiri. Artinya, masalahnya bukan pada niat bertemu, tapi pada arus informasi yang bocor ke mana-mana seperti air galon tanpa tutup. Di sinilah KH. Said Aqil menyindir soal “zombie NU”: badan NU, seragam NU, tapi ruh ukhuwahnya entah ke mana.

Zombie NU ini rajin hadir di struktur, tapi malas hadir di substansi. Mulutnya bicara persatuan, jarinya sibuk bikin friksi. Dan ketika kepercayaan mulai rapuh, KH. Said Aqil pun bertanya dengan satire pahit: “Nanti yang menghormati forum NU siapa? Jangan-jangan kita harus undang HTI buat jadi panitia kehormatan?”

Pulang ke Rumah: Ploso, Tebuireng, dan Lirboyo

Solusi yang ditawarkan KH. Said Aqil bukan demo, bukan reshuffle, apalagi drama press release. Beliau mengajak NU pulang. Bukan pulang kampung secara fisik, tapi pulang secara batin.

Ploso, Tebuireng, dan Lirboyo bukan sekadar titik di Google Maps. Itu semacam “alamat rumah spiritual” NU. Tempat di mana musyawarah lebih penting dari menang sendiri, adab lebih tinggi dari jabatan, dan perbedaan diselesaikan dengan teh hangat, bukan status WhatsApp.

Pulang ke khittah berarti ingat bahwa NU lahir dari pesantren—bukan dari grup WA elit. Dari ngaji, bukan dari gosip. Dari sabar, bukan dari saling sindir.

Penutup: Jangan Sampai Kitab Kuning Ikut Malu

Pidato KH. Said Aqil di Lirboyo adalah alarm lembut tapi nyaring. Ia mengingatkan bahwa NU terlalu besar untuk sibuk bertengkar, dan terlalu tua untuk lupa adab. Muhasabah dan mu’atabah bukan sekadar istilah Arab yang indah, tapi cara agar NU tidak ditertawakan oleh kitab-kitab yang selama ini diajarkannya sendiri.

Kalau NU gagal mengoreksi diri, sejarah akan melakukannya. Dan sejarah, seperti kitab kuning, terkenal jujur dan tidak bisa diedit.

Maka sebelum dunia mengoreksi NU dengan suara keras, lebih baik NU mengoreksi dirinya sendiri—pelan, sopan, sambil senyum, dan tentu saja… dengan adab pesantren. 😊

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.