Mari kita bahas dengan santai tapi tetap serius (seperti
murid tarekat yang sedang zikir tapi kepikiran gorengan).
1. Tarekat sebagai Kebutuhan: Kalau Mau ke Samudra Ilahi,
Ya Jangan Modal Pelampung Bocor
Dalam video tersebut, sang kiai memulai dengan argumen yang
begitu sederhana hingga tampak seperti nasihat bapak-bapak saat kita mau pergi
mudik: “Kalau mau sampai selamat, ikut jalur yang benar.” Bedanya, jalur
yang dimaksud bukan Tol Trans Jawa, melainkan jalan spiritual yang tersambung
lewat sanad hingga Nabi.
Ibadah tanpa metode diibaratkan seperti naik kapal tanpa
nakhoda—mungkin sampai, tapi kita harus siap dilempar ombak, tersesat ke pulau
tak berpenghuni, atau lebih buruk: menjadi follower setan, yang
sayangnya tidak menyediakan customer service.
Di sini zikir ditempatkan sebagai jantung ibadah.
Tanpa zikir, shalat dan haji diumpamakan seperti kerangka tanpa daging, atau
kalau mau versi lebih modern: akun media sosial tanpa password—ada, tapi tidak
bisa diapa-apakan.
2. Tarekat sebagai Metode: Dari Durian Berduri sampai
Kabel Listrik yang Belum dicolok
Untuk melawan stereotip bahwa tarekat itu angker, mistis,
atau paling tidak butuh keahlian khusus seperti naik gunung, sang kiai
menghadirkan analogi-analogi yang begitu membumi, sampai-sampai terasa seperti
beliau sedang pitching startup spiritual.
Ada durian (tajam di luar, manis di dalam), ada kabel
listrik (harus tersambung biar lampu nyala), dan tentu saja ada setan yang
selalu nongol sebagai cameo wajib. Semua ini disampaikan untuk menjelaskan
bahwa baiat sebenarnya sudah “semacam terjadi” ketika seseorang melakukan
ibadah dasar. Yang belum hanya formalitasnya—persis seperti punya gebetan yang
sudah cocok tapi belum ditembak.
Ini upaya kreatif untuk membuat tarekat terasa ramah bagi
generasi digital yang lebih takut pada komitmen daripada pada neraka. Intinya: “Tenang,
tarekat itu simpel kok. Yang susah itu hatimu sendiri.”
3. Tarekat dalam Dinamika Sosial: Antara Tuduhan Syirik
dan Promosi Paket Ma’rifat Premium
Tentu saja, semua promosi tarekat ini tidak berlangsung di
ruang hampa. Ada kelompok yang memandang tarekat seperti menonton film horor:
ngeri, tapi tetap penasaran. Ada pula kelompok puritan yang begitu sensitif
terhadap isu perantara, sampai-sampai salah paham antara “guru spiritual” dan
“calo surga”.
Maka sang kiai pun menegaskan bahwa sanad tarekat tersambung
langsung ke Rasulullah. Ini seperti menunjukkan sertifikat ISO 9001 versi
spiritual—untuk memastikan bahwa produk yang ditawarkan bukan abal-abal.
Namun, harus diakui bahwa promosi seperti ini sesekali
terdengar seperti klaim eksklusif: “Tarekat adalah jalan paling aman. Yang
lain ada, tapi... ya terserah Anda mau ambil risiko.” Tak heran bila
polemik ini ikut meramaikan timeline dakwah di Indonesia, dari majelis taklim
hingga komentar YouTube.
4. Antara Kerinduan Spiritual dan Kewaspadaan Batin
Bagi pencari spiritualitas, pendekatan sang kiai terasa
persuasif: ada ancaman halus (awas setan!), ada janji manis (ma’rifat!), plus
analogi-analogi yang lebih relatable daripada motivator korporat.
Tapi bagi mereka yang sedikit filosofis—seperti Anda yang
gemar menelisik makna hal-hal “sepele” ala Agatha Christie—argumennya masih
menyisakan ruang untuk bertanya: “Apakah metode satu-satunya itu perlu, atau
kita bisa menemukan mutiara spiritual dengan cara lain?”
Di titik ini, penting untuk mengingat sejarah: tarekat bisa
menjadi ruang indah bagi pencari ketenangan, tetapi struktur hierarkisnya juga
punya risiko penyalahgunaan otoritas. Karena itu, meski kapal ini menjanjikan
perjalanan menuju samudra Ilahi, kita tetap perlu kompas, peta, dan sedikit
akal sehat—syukur-syukur bawa pelampung cadangan.
Kesimpulan: Tarekat, Jalur Tol, atau Sekadar Rute
Alternatif?
Pada akhirnya, tarekat dapat dilihat sebagai jalur
spiritual yang terstruktur, lengkap dengan guru, metode, dan komunitas. Ia
bukan sekadar ritual, tapi sebuah sistem disiplin batin yang cocok bagi mereka
yang ingin ibadah lebih “hidup”.
Namun, sama seperti perjalanan apa pun, pilihannya tetap di
tangan masing-masing. Ada yang suka naik kapal besar bersama rombongan
(tarekat), ada yang lebih nyaman naik perahu kecil sendirian sambil merenung,
ada pula yang berenang bebas seperti atlet triathlon spiritual.
Yang penting, semua menuju satu tujuan: mendekat kepada
Allah. Dan selama tidak tersesat ke grup setan atau mengambil paket perjalanan
palsu, semua cara punya peluang sampai.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.