Di banyak negara, hari pertama sekolah adalah hari ketika anak-anak disambut dengan pensil baru, seragam kebesaran, dan… ancaman halus berupa ujian matematika bab 1. Namun, di Jepang, tiga tahun pertama sekolah dasar justru bebas dari ujian formal. Ya, Anda tidak salah baca—bebas ujian, bukan “ujian tapi gurunya baik hati”, atau “ujian tapi boleh lihat contekan”. Betulan bebas.
Menurut akun X @Rainmaker1973, sekolah dasar di Jepang lebih sibuk mencetak “manusia baik” sebelum mencetak “manusia peringkat satu”. Mereka dilatih empati, hormat, kerja sama, dan kebiasaan membersihkan kelas. Yak, betul—di usia 6 tahun, mereka sudah tahu cara memegang kain pel, sementara banyak orang dewasa di luar sana baru memegang alat bersih-bersih ketika ada tamu mau datang.
MEXT, kementerian mereka yang namanya panjang seperti nama WiFi tetangga, memang punya program bernama tokkatsu—bukan nama tokusatsu atau monster bermata tiga—yang intinya mengajarkan moral, gotong royong, dan tanggung jawab kolektif. Filosofinya: anak yang bisa bekerja sama saat menyapu lantai suatu hari akan bisa bekerja sama menyapu masalah negara. Kedengarannya ideal, ya? Itu karena memang ideal.
Namun sebelum kita tergoda untuk berteriak, “Tiru! Tiru! Tiru!” seperti suporter bola, perlu diingat bahwa sistem Jepang ini juga punya sisi tersembunyi: tekanan akademik justru sering menunggu di level berikutnya. Setelah bebas ujian tiga tahun, anak-anak Jepang akan memasuki dunia persiapan ujian masuk sekolah lanjut yang intens—ibarat setelah pemanasan yoga, langsung naik ke ring tinju bersama Mike Tyson.
Meski begitu, viralnya konten ini menunjukkan satu hal: umat manusia di berbagai negara tampaknya sudah sangat lelah dengan ujian. Banyak orang menginginkan sekolah yang lebih manusiawi, tidak setiap pekan mengadakan tes yang membuat anak-anak berpikir hidup ini hanya dua hal: benar atau salah.
Indonesia pun sebenarnya punya nilai-nilai yang mirip: gotong royong, kebersamaan, dan budaya membersihkan halaman rumah (biasanya ketika mau Lebaran). Nilai-nilai itu bisa dijadikan inspirasi untuk menata ulang pendidikan, tentu bukan dengan memaksa anak SD menyapu seluruh lapangan voli, tapi misalnya dengan lebih banyak proyek kolaboratif dan lebih sedikit latihan soal tentang volume kubus yang tak pernah mereka temui di dunia nyata.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana:
Untuk apa sekolah? Mencetak anak yang bisa menghafal tabel periodik di usia 7 tahun atau mencetak manusia yang tidak buang sampah sembarangan?
Jepang memberi kita hint halus: karakter itu fondasi, bukan bonus. Dan mungkin, dalam reformasi pendidikan kita, sedikit inspirasi dari negeri sakura bisa membantu—selama tidak diartikan sebagai “anak harus menyajikan makan siang memakai kimono”.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.