Nahdlatul Ulama (NU) sering disebut organisasi kemasyarakatan, tetapi sejatinya ia lebih mirip Indonesia versi pesantren: besar, riuh, penuh perbedaan pendapat, dan—yang terpenting—sulit sekali bubar. Maka ketika publik mendengar kabar adanya “gejolak psikologis” di tubuh PBNU pada akhir 2025, reaksinya bukan panik, melainkan reflektif: “Oh, NU sedang NU-an.”
Untungnya, sebagaimana lazimnya tradisi NU, konflik ini tidak diselesaikan dengan konferensi pers berjam-jam, mediator profesional, atau surat somasi berkop lembaga. Tidak. PBNU memilih jalan yang jauh lebih berbahaya sekaligus ampuh: silaturahmi, shalawatan, makan bersama, dan guyon-guyon. Sebuah pendekatan yang, jika diterapkan di perusahaan multinasional, mungkin akan ditertawakan HRD—tetapi di NU justru disebut hikmah.
Pertemuan di kediaman KH Miftachul Akhyar di Surabaya menjadi bukti bahwa dalam kultur pesantren, konflik tidak selalu perlu dibedah secara rinci; cukup dicairkan terlebih dahulu. Karena dalam tradisi NU, masalah yang keras sering kali bukan diselesaikan, tetapi dilembutkan—seperti tempe yang awalnya keras, lalu jadi empuk setelah difermentasi. Shalawat berfungsi sebagai pendingin emosi, makan bersama sebagai penurun tensi, dan guyon-guyon sebagai terapi kejiwaan gratis tanpa BPJS.
Ketika Gus Yahya menyebut suasana pertemuan itu “cair dan gayeng,” publik NU paham betul maknanya: sudah ada tawa, berarti konflik sudah setengah sembuh. Dalam logika NU, orang yang masih bisa tertawa bersama biasanya belum sampai tahap saling menyingkirkan. Di sinilah terlihat kejeniusan kultural NU: sebelum membahas struktur, mereka memulihkan rasa; sebelum rapat, mereka merawat rukun.
Dari sisi komunikasi organisasi, NU Online juga memainkan perannya dengan cerdik. Narasi “kembali guyub sampai akhir kepengurusan” disajikan sebagai obat penenang publik, terutama di tengah iklim politik pasca-Pemilu yang masih gampang panas. Pesannya jelas: PBNU baik-baik saja, NU tidak retak, silakan lanjut ngopi. Bahkan promosi aplikasi NU Online di bagian akhir artikel terasa seperti pesan tersirat: rekonsiliasi ini bukan hanya offline, tapi juga siap di-update di Play Store.
Namun, sebagaimana setiap hidangan pesantren, selalu ada pertanyaan kritis di balik senyapnya dapur: sebenarnya konflik ini tentang apa? Istilah “gejolak psikologis” terdengar elegan, tetapi juga misterius—seolah konflik elite NU mirip angin masuk, tidak jelas dari mana dan ke mana. Apakah ini soal kebijakan? Posisi? Visi politik? Atau hanya perbedaan tafsir tentang siapa yang paling berhak duduk di kursi depan saat acara resmi?
Di sinilah batas pendekatan guyub-guyon. Ia sangat ampuh sebagai penenang, tetapi berpotensi menjadi plester budaya jika akar struktural tidak disentuh. Bahaya laten selalu ada: konflik tampak selesai, tetapi hanya diparkir sementara. Seperti sandal di masjid—tenang selama tidak ada yang salah ambil.
Pada titik ini, NU memperlihatkan wajah gandanya: kuat karena tradisi, tetapi juga rapuh jika tradisi terlalu diandalkan tanpa manajemen modern. Tantangan NU hari ini bukan memilih antara budaya atau tata kelola, melainkan menemukan cara agar keduanya bisa duduk satu tikar—tanpa saling menyikut.
Akhirnya, rekonsiliasi PBNU ini bukan sekadar kabar damai, melainkan pelajaran sosial. Bahwa di tengah dunia yang gemar berdebat keras dan saling lapor, ada cara lain menyelesaikan konflik: duduk bersama, membaca shalawat, tertawa, lalu makan. Mungkin tidak sempurna. Mungkin tidak transparan sepenuhnya. Tapi setidaknya, NU mengingatkan kita bahwa rukun kadang lebih dulu daripada benar—dan dalam banyak kasus, itu sudah cukup untuk mencegah perpecahan yang lebih besar.
Dan jika kelak konflik muncul lagi? NU sudah punya resep klasiknya. Tinggal panaskan shalawat, siapkan kopi, dan jangan lupa sambal.
abah-arul.blogspot.com.,Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.